Senin, 1 Juni 2026, pukul : 09:32 WIB
Surabaya
--°C

JHT

Pemerintah sudah punya jurus jitu untuk menghadapi serangan buruh. Saat buruh turun beramai-ramai mendemo omnibus law, pemerintah mempersilakan menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Setelah digugat dan kalah, pemerntah masih bisa kucing-kucingan dua tahun untuk mengebut menjalankan agendanya sendiri.

Karena itu, kali ini pun pemerintah sudah bisa mengukur kekuatan para buruh. Demo beberapa ribu orang dihadapi oleh Menaker, diberi janji tiga bulan, lalu buruh akan menggugat ke PTUN. Kalau buruh menang di PTUN apakah pemerintah akan mencabut peraturan itu? Ana sudah tahu jawabannya.

Itulah lucunya negeri ini. Sejarah berulang kali terjadi dan terjadi lagi, dan dianggap sebagai hal yang biasa dan bahkan dijadikan bahan lelucon. Sejarah yang berulang-ulang memang menjadi lelucon. Begitu kata filsuf Prancis Jean Baudrillard (1929-2007). Tapi, Baudrillard mengingatkan, lelucon yang berulang akhirnya membuat sejarah.

BACA JUGA  HEBOH!: "Ngegas Poll, Bleyer Poll, Keren Poll ‘Jayandaru Vol 1 2026’ Buktikan 2T Bukan Sekadar Kebisingan, Tapi Ekonomi dan Disiplin"

BACA JUGA: Oki dan KDRT

Baudrillard kita kenal dengan teori simulasi dan simulacra. Saat ini kita hidup dalam dua dunia itu. Kita berada pada sebuah ruang dalam kebudayaan, di dalamnya sebuah kebohongan–yang dibungkus dalam kemasan yang menarik–dapat berubah menjadi sebuah kebenaran. Sebuah kepalsuan–yang ditampilkan lewat teknik penampakan dan pencitraan yang sempurna–dapat terlihat sebagai keaslian.

Sebua ilusi yang dikonstruksi lewat kerumitan teknologi artifisial yang mencengangkan dapat diterima sebagai sebuah realitas. Sebuah kejahatan, yang dibungkus lewat rekayasa sosial yang berteknologi tinggi, dapat menjelma menjadi sebuah kemuliaan.

Inilah sebuah dunia yang di dalamnya kebenaran tumpang tindih dengan kedustaan, keaslian silang menyilang dengan kepalsuan, realitas bercampur aduk dengan ilusi, kejahatan melebur dalam kebajikan, sehingga di antara keduanya seakan-akan tidak ada lagi ruang pembatas.

BACA JUGA  Iduladha 1447 H: Unesa Putar Balik Tradisi Kurban, Prioritas Mutlak Wong Cilik dan Mahasiswa Rantau

Baudrillard menggambarkan kondisi masyarakat pada 1983 ketika ‘’Simulation’’ diterbitkan. Empatpuluh tahun kemudian, sekarang ini, kita merasakan bagaimana rasanya hidup dengan simulasi dan simulacra.

Kebudayaan dewasa ini adalah sebuah representasi dari dunia simulasi, yakni dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa referensi relasional yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.