Apa yang kita saksikan setiap hari adalah pencintraan yang diciptakan secara rapi dan terinci melalui sebuah orkestrasi yang dipimpin oleh seorang dirigen. Citra dan fakta menjadi kabur. Dalam dunia simulasi, keduanya saling menumpuk dan berjalin berkelindan membentuk satu kesatuan.
BACA JUGA: Bodoh
Tidak dapat lagi dikenali mana yang asli, yang real, dan mana yang palsu, yang semu. Semuanya menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat. Simulakra atau simulacrum adalah sebuah dunia yang terbangun dari sengkarut nilai, fakta, tanda, citra dan kode.
Realitas tak lagi punya referensi, kecuali simulacra itu sendiri. Dalam era postmodern, prinsip simulasi menjadi panglima, dimana reproduksi–dengan teknologi informasi, komunikasi dan industri pengetahuan–menggantikan prinsip produksi, sementara permainan tanda dan citra mendominasi hampir seluruh proses komunikasi manusia.
Melalui gerakan yang masif di media sosial, para buzzer mendengungkan berbagai berita yang lebih banyak berdasarkan citra daripada fakta. Orkestrasi yang masif oleh para buzzer memengaruhi opini publik sesuai dengan yang dikehendaki oleh orkestrasi.
Dalam masyarakat simulasi seperti ini, segala sesuatu ditentukan oleh relasi tanda, citra dan kode. Identitas seseorang tidak lagi ditentukan oleh dan dari dalam dirinya sendiri. Identitas kini lebih ditentukan oleh konstruksi silang-sengkarut tanda, citra, dan kode yang membentuk cermin bagaimana seorang pemimpin digambarkan oleh rakyatnya.
Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan, melainkan model-model yang ditawarkan melalui media yang tertata dengan rapi. Ada tempat-tempat impian seperti Ibu Kota Negara yang akan menjadi kota impian, indah, gemerlap, dan ramah dengan lingkungan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi