Menu

Mode Gelap

Kempalanda · 30 Apr 2022 17:13 WIB ·

Sam Abede Pareno, Antara Jenderal Benny Moerdani dan Bu dar Mortir


					Almarhum Sam Abede Pareno (berdiri) dalam sebuah pertemuan dengan wartawan-wartawan Perbesar

Almarhum Sam Abede Pareno (berdiri) dalam sebuah pertemuan dengan wartawan-wartawan

KEMPALAN: Tahun 1983, salah satu unit Pabrik Petro Kimia Gresik akan diresmikan oleh Presiden Soeharto. Pukul 10:00 rombongan wartawan yang biasa meliput di Pemerintahan Tingkat I Jawa Timur (sekarang Pemprov) sudah tiba di lokasi. Salah seorang diantaranya adalah Sam Abede Pareno, wartawan Suara Indonesia.

Di tenda kehormatan terlihat ada Jenderal Benyamin Moerdani atau biasa disapa Benny Moerdani. Salah satu jenderal TNI yang ditakuti sekaligus disegani banyak orang pada zamannya sedang duduk sendirian.

Sudah lazim, secara protokoler kenegaraan, Panglima ABRI (sekarang Panglima TNI) selalu datang lebih awal, mendahului rombongan kepresidenan. Tangan kanan LB Moerdni memegang togkat komando. Berulangkali dipukul-pukulkan ke tangan sebelah kiri.

Sam Abede Pareno, dengan suaranya yang khas, tetapi agak dikecilkan volumenya, berbicara kepada rekan-rekan peliput acara: “Siapa saja yang berani mendekat dan bicara dengan Pak Beny, saya kasi hadiah duit sepuluh ribu”.

Antara serius dan tidak, ucapan Sam Abede menjadi pemecah ketegangan. Sudah dipastikan tidak ada yang berani. Bayangkan, Jenderal Beny Moerdani saat itu jelas sekali wajahnya sangar. Tanpa ekspresi.

Bu Dar Mortir.

BACA JUGA: Obituari Sam Abede Pareno: Semua Kita Bikin Mudah Saja

Di Gedung Negara Grahadi setiap kali ada resepsi kenegaraan selalu mengundang tokoh dan pelaku sejarah. Salah seorang yang sering hadir adalah Bu Dar Mortir. Dikalangan warga Surabaya terutama angkatan 45, Bu Dar Mortir bukanlah nama yang asing. Ketika Inggris menyerbu Surabaya Bu Dar adalah orang yang pertama menginisiasi pendirian dapur umum karena pemuda-pemuda yang maju bertempur itu tentunya tidak kepikiran bagaimana nanti mereka bisa mendapatkan ransum makanan.

Sam Abede Pareno paling sering menggoda Bu Dar. Dan dengan gayanyan yang elok, Bu Dar tampaknya juga senang digoda. Entah dapat ide dari mana, suatu ketika Sam Abede berbicara sedikit usil.

“Bu Dar, ini ada isu. Katanya, selain bikin dapur umum, diam-diam juga mensuplai kebutuhan birahi para tantara. Bener nggak?”

Disebut menyediakan perempuan untuk para lelaki pejuang, Bu Dar marah. Bahkan marah besar. Di Gedung Grahadi itu Sam Abede dikejar oleh Bu Dar. Tentu Bu Dar kalah gesit. Aksi itu berakhir setelah Bu Dar berhasil melempar sesuatu benda ke tubuh Sam Abede.

Bung Sam -sapaan akrabnya, memang sering begitu. Limapuluh persen serius, limapuluh persen humoris. Kalau sudah seriusnya datang, suaranya lantang. Sebaliknya, Bung Sam juga bisa tampil halus.
Komunitas buku

Saya mengenal Bung Sam dengan baik. Meskipun usia kami berbeda cukup jauh, tetapi kami selalu bersapa hangat jika bercakap. Tahu jarak usia itu, Bung Sam tidak pernah memperlakukan saya sebagai ‘anak-anak’.

“Ngaripin!” Beliau selalu menggunakan panggilan itu setiap bertemu.

Peristiwa lain yang membuat kami dekat, Bung Sam Abede tidak lupa selalu mengundang saya jika sedang mengadakan bedah buku. Bung Sam menyebut saya “pasien tetap”. Maksudnya kelompok komunitas buku yang dibentuknya.

Saya mengoleksi buku-buku karya Sam Abede Pareno, antara lain: “Komunikasi ala Punakawan dan Abu Nawas” dan kumpulan tulisan “Tetesan Surgawi di Mata Lastri”.

Kalau melihat daftar buku-buku karya beliau, pada dasarnya Bung Sam Abede itu romantis. Hal itu nampak antaranya dari nama dan judul yang dia gunakan. Dan tak boleh tidak akan timbul kesan bahwa Bung Sam Abede sejatinya orang yang aktif dalam penulisan.

Senin, 5 Agustus 2019 perjumpaan terakhir secara fisik dengan Bung Sam. Kami bertemu di RSUD dr. Soedomo, Trenggalek. Waktu itu menjenguk wartawan senior Tatang Istiawan yang sedang dirawat. Dia berangkatbersama Bung Ali Salim dan Hadiaman Santoso dua kerabat dekatnya. Saya ikut rombongan lain.

Di rumah sakit itu cara berjalan Bung Sam sangat pelan. Dia merangkul bahu saya. Setelahnya tidak lagi pernah bertemu. Sesekali komunikasi lewat WhatsApp. Terima kasih, Anda pernah memberikan tulisan di buku kedua saya, judulnya: PELAWAK -Penuntun Laku di segala Waktu.

Bung Sam Abede Pareno -konon Pareno itu singkatan dari papanya Reno nama anaknya, berpulang ke Haribaan Yang Maha Esa, hari Sabtu 30 April 2022 pukul 05:55 wib.

Bung Sam Abede meninggal di ujung Bulan Ramadan 1443 H, yang sering disebut sebagai malam likuran, yang sedang turun hujan.

Bung Sam Abede: Selamat Datang di Kampung Halaman. Semoga Husnul Khatimah. (*)

Artikel ini telah dibaca 188 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Miing Bagito Akan Jalani Bypass Jantung, Minta Dimaafkan

20 Mei 2022 - 18:51 WIB

Oligarki Digital dan Zombie Metaverse

18 Mei 2022 - 06:44 WIB

Untung Ada Vina Panduwinata & Reza Artamevia Menemani Keliling Melbourne

17 Mei 2022 - 20:06 WIB

Kunci Ketenangan

17 Mei 2022 - 07:50 WIB

Demo Mahasiswa dan Reproklamasi Republik

15 Mei 2022 - 07:43 WIB

Oligarki Merampas Masa Depan Mahasiswa

14 Mei 2022 - 09:38 WIB

Trending di Kempalanda