Jumat, 5 Juni 2026, pukul : 18:53 WIB
Surabaya
--°C

Obituari Sam Abede Pareno: Semua Kita Bikin Mudah Saja

KEMPALAN: Sebelumnya saya hanya mengenal Pak Sam –demikian saya biasa memanggil Prof Dr Sam Abede Pareno– sebagai salah seorang redaktur senior di Harian Pagi Suara Indonesia (Grup Jawa Pos).

Ketika itu saya baru beberapa tahun menjadi jurnalis. Nama Pak Sam sudah populer. Baik sebagai tokoh teater di Jawa Timur, maupun sebagai wartawan.

Namun, pada akhirnya saya bergabung ke dalam tim kerjanya, bersama dengan Mas Bambang Hariawan (mantan Surabaya Post). Saya masuk ke dalam timnya, karena diminta Bos Dahlan Iskan pasca saya ‘divakumkan’ dari jon saya sebagai Redaktur Pelaksana tabloid NYATA.

Boleh dibilang, waktu itu saya ‘diselamatkan’ oleh Pak Bos –begitulah saya memanggil Dahlan Iskan– setelah lama dibangku-panjangkan di kantor NYATA di Jalan Prapanca Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Kamu pulang ke Surabaya saja,” ujar Pak Bos pada suatu malam di ruang redaksi Harian Jawa Pos. Doeloe –sebelum NYATA mandiri– seluruh personel NYATA di Jakarta menumpang di Kantor Biro Jawa Pos Jakarta di Jalan Prapanca Raya tadi.

Nah, setelah luntang-lantung tanpa job pasti di Surabaya pasca pulang dari Jakarta –boleh dibilang hanya makan gaji saja– saya bertemu lagi dengan Pak Bos di Kantor Jawa Pos di Jalan Karah Agung. Pertemuan yang tidak disengaja. “Kamu bergabung dengan Pak Sam saja,” kata Pak Bos, menjelang Maghrib tiba.

BACA JUGA  Filosofi Tawon AKP Setiawan: Warisan Kondusifitas Kompi 4 Bataliyon A Pelopor Menuju Den Gegana

Begitulah, pada akhirnya saya diminta membantu Pak Sam. Saya kebagian tugas untuk mengedit, lantas mendistribusikan berita olahraga dan hiburan nasional ke jaringan JPNN (Jawa Pos News Network). JPNN-nya Pak Sam dan Mas Bambang Hariawan inilah yang kemudian berkembang sebagai ‘kantor berita mini’ bagi seluruh media cetak anak perusahaan Jawa Pos di seluruh Indonesia.

Bagi saya, hal yang paling mengesankan dari Pak Sam adalah penampilannya yang kalem, tidak gampang terpancing emosi, dan sekali-kali melemparkan candaan. Dalam beberapa kali kesempatan, Pak Sam melontarkan komentar bahwa hidup ini benar-benar bak roda yang berputar.

“Saya bukanlah siapa-siapa. Jadi, saya juga harus tahu diri ketika masuk ke Jawa Pos. Cukuplah saya diberi job seperti sekarang ini,” ucapnya, tenang.

Pak Sam juga tidak mau ribet. Ketika saya menanyakan jam berapakah saya diizinkan untuk pulang kerja, dia hanya menjawab, “Terserah kamu sendiri, Fiq. Kalau pekerjaanmu sudah selesai, dan memang tidak ada yang harus ditunggu atau dikerjakan lagi, ya silakan pulang saja.”

BACA JUGA  Reformasi Kepemimpinan Sekolah Sidoarjo: Bebas Transaksi, Berbasis Domisili

“Beneran, Pak Sam?” tanya saya.

“Ya, beneran, Fiq. Nggak usah dibikin ruwet. Di sini, semuanya kita bikin mudah saja. Biar kita senang dalam bekerja,” tegasnya.

Saya agak terkejut mendengarnya. Bagi saya, inilah suasana kerja yang saya dambakan. Meskipun pekerjaannya berkejaran dengan waktu sehingga dituntut untuk bekerja ekstra cepat, namun kami bertiga saling menghargai. Happy. Suasana kerjanya sangat kondusif dan cair, sesuatu yang jarang saya rasakan selama berkantor di Jalan Karah Agung. Baik sebagai staf redaksi Jawa Pos, maupun sebagai komandan kecil di NYATA.

Maka, ketika saya mendapat kabar beberapa menit yang lalu soal kepergian Pak Sam menghadap Allah SWT, saya mendadak menjadi sedih. “Seorang teman baik, senior yang pintar, dan orang yang bisa saya tuakan, telah berpulang,” batin saya.

Selamat jalan, Pak Sam. Saya sangat yakin Allah SWT memberikan surga terbaik untuk panjenengan. Begitu juga untuk Senior Mbak Sirikit Syah. Innalillahi wainnaillaihi roji’un. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.