Kamis, 28 Mei 2026, pukul : 17:21 WIB
Surabaya
--°C

Sirikit, The Guardian Angel

KEMPALAN: MEMBACA kumpulan tulisan Sirikit dalam buku ini serasa mengikuti kuliah jurnalistik semester pertama. Kita dibawa untuk mengulang dan merefresh pemamahan dasar mengenai prinsip-prinsip jurnalistik, seperti penulisan 5W plus 1 H pun diulas oleh Sirikit, kriteria nara sumber, dan news value atau nilai berita.

Bagi kebanyakan praktisi jurnalistik teori-teori itu sudah seperti ‘’sego-jangan’’, nasi dan sayuran, yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Teori itu sudah diamalkan sehari-hari dan menjadi sesuatu yang ‘’taken for granted’’, sesuatu yang sudah dianggap biasa, tanpa perlu dipertantanyakan lagi filosofinya.

Justru hal-hal yang ‘’taken for granted’’ itulah yang selalu digugat dan diingatkan oleh Sirikit. Bagi kebanyakan jurnalis senior, terutama jurnalis-jurnalis old-styled alias jadul, hal itu terasa sebagai sesuatu yang remeh-temeh. Tetapi, bagi Sirikit, prinsip-prinsip dasar itu menjadi semacam ‘’tauhid’’ yang harus dipegang teguh, tidak boleh goyah sedikit pun.

BACA JUGA  Sidoarjo Kejar WTP Ke-14: Bupati Subandi Rombak Total Tata Kelola Aset dan Anggaran

Hal-hal yang taken for granted itu justru sekarang banyak dilupakan oleh jurnalis-jurnalis muda yang menjadi aktivis media digital. Prinsip-prinsip tauhid dasar itu banyak dilupakan, ditinggalkan, atau malah sama sekali belum pernah dipelajari. Banyak pekerja media masa kini yang menjadi jurnalis instan tanpa dibekali pengetahuan jurnalisme yang cukup.

BACA  JUGA: BREAKING NEWS: Sirikit Syah Berpulang

Para jurnalis masa kini itu ibarat (maaf) orang Sunda yang dilepas ke kebun hanya dengan berbekal sambal. Yang terjadi kemudian semua dianggap sebagai lalapan dan dimakan mentah-mentah tanpa perlu dimasak. Orang Sunda bisa hidup sehat dengan makan lalapan, tapi jurnalis yang menyajikan makanan serba mentah, bisa membuat pembaca mules, sakit perut.

Sepanjang karir dan hidupnya, Sirikit tidak pernah lelah dan bosan mengingatkan para praktisi jurnalistik untuk istiqomah, konsisten, memegang tauhid dan rukun iman jurnalistik. Ia teguh memegang prinsip dan tidak pernah takut berdebat untuk mempertahankan prinsipnya. Itulah, mungkin, yang membuat Sirikit kadang terlihat naif.

BACA JUGA  Pameran Seni Rupa Harry Suliztiarto: Berpihak Pada Luka

Tetapi justru disitulah kekuatan Sirikit. Ia menjadi praktisi jurnalistik puluhan tahun, sampai mebawanya ke posisi redaksional tertinggi sebagai pemimpin redaksi di koran legendaris Surabaya Post. Ia kemudian menghabiskan waktunya belasan tahun untuk menjadi pengajar jurnalistik di perguruan tinggi.

Jiwa aktivisme yang kental membawanya uintuk mendirikan lembaga pengawas media atau media watch pertama di Jawa Timur. Setiap pekan ia on air di Radio Suara Surabaya membawakan program ‘’Media Watch’’. Ia mengritik ketika ada kesalahan yang dilakukan media-media besar dan kecil. Ia juga tidak segan memuji ketika mendapatkan sajian media yang berkualitas.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.