KEMPALAN: MEMBACA kumpulan tulisan Sirikit dalam buku ini serasa mengikuti kuliah jurnalistik semester pertama. Kita dibawa untuk mengulang dan merefresh pemamahan dasar mengenai prinsip-prinsip jurnalistik, seperti penulisan 5W plus 1 H pun diulas oleh Sirikit, kriteria nara sumber, dan news value atau nilai berita.
Bagi kebanyakan praktisi jurnalistik teori-teori itu sudah seperti ‘’sego-jangan’’, nasi dan sayuran, yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Teori itu sudah diamalkan sehari-hari dan menjadi sesuatu yang ‘’taken for granted’’, sesuatu yang sudah dianggap biasa, tanpa perlu dipertantanyakan lagi filosofinya.
Justru hal-hal yang ‘’taken for granted’’ itulah yang selalu digugat dan diingatkan oleh Sirikit. Bagi kebanyakan jurnalis senior, terutama jurnalis-jurnalis old-styled alias jadul, hal itu terasa sebagai sesuatu yang remeh-temeh. Tetapi, bagi Sirikit, prinsip-prinsip dasar itu menjadi semacam ‘’tauhid’’ yang harus dipegang teguh, tidak boleh goyah sedikit pun.
Hal-hal yang taken for granted itu justru sekarang banyak dilupakan oleh jurnalis-jurnalis muda yang menjadi aktivis media digital. Prinsip-prinsip tauhid dasar itu banyak dilupakan, ditinggalkan, atau malah sama sekali belum pernah dipelajari. Banyak pekerja media masa kini yang menjadi jurnalis instan tanpa dibekali pengetahuan jurnalisme yang cukup.
BACA JUGA: BREAKING NEWS: Sirikit Syah Berpulang
Para jurnalis masa kini itu ibarat (maaf) orang Sunda yang dilepas ke kebun hanya dengan berbekal sambal. Yang terjadi kemudian semua dianggap sebagai lalapan dan dimakan mentah-mentah tanpa perlu dimasak. Orang Sunda bisa hidup sehat dengan makan lalapan, tapi jurnalis yang menyajikan makanan serba mentah, bisa membuat pembaca mules, sakit perut.
Sepanjang karir dan hidupnya, Sirikit tidak pernah lelah dan bosan mengingatkan para praktisi jurnalistik untuk istiqomah, konsisten, memegang tauhid dan rukun iman jurnalistik. Ia teguh memegang prinsip dan tidak pernah takut berdebat untuk mempertahankan prinsipnya. Itulah, mungkin, yang membuat Sirikit kadang terlihat naif.
Tetapi justru disitulah kekuatan Sirikit. Ia menjadi praktisi jurnalistik puluhan tahun, sampai mebawanya ke posisi redaksional tertinggi sebagai pemimpin redaksi di koran legendaris Surabaya Post. Ia kemudian menghabiskan waktunya belasan tahun untuk menjadi pengajar jurnalistik di perguruan tinggi.
Jiwa aktivisme yang kental membawanya uintuk mendirikan lembaga pengawas media atau media watch pertama di Jawa Timur. Setiap pekan ia on air di Radio Suara Surabaya membawakan program ‘’Media Watch’’. Ia mengritik ketika ada kesalahan yang dilakukan media-media besar dan kecil. Ia juga tidak segan memuji ketika mendapatkan sajian media yang berkualitas.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi