Karena keterbatasan space maka para jurnalis kemudian memperkenalkan apa yang sekarang kita kenal sebagai ‘’ekonomi bahasa’’. Dalam menulis berita tidak perlu bertele-tele supaya inti berita bisa segera diketahui oleh publik. Maka kemudian ditemukanlah teori ‘’piramida terbalik’’ untuk memudahkan pembaca mengetahui inti berita yang paling menarik.
Dengan konsep piramida terbalik itu berita yang paling pentingh ditempatkan pada posisi paling atas, dan semakin ke bawah signifikansinya semakin mengecil. Lalu kemudian ditemukanlah teori menulis ‘’lead’’ atau teras berita. Karena keterbatasan halaman maka lead harus ringkas, padat, dan jelas, bila perlu jangan lebih dari 15 atau 20 kata. Ekonomi bahasa diterapkan secara ketat penuh disiplin.
Dari situlah kemudian muncul formula 5 W plus 1 H. teras berita harus berisi what, who, when, where, why, dan how. Semua isi berita diringkas dalam teras berita yang diharapkan bisa merangsang minat pembaca untuk meneruskan berita sampai tuntas.
Seiring perkembangan zaman teori menulis teras berita semakin bervariasi. Ada lead ringkasan, ada lead yang bercerita, ada juga lead deskriptif, lead yang berisi kutipan, bisa juga lead yang bertanya, dan malah ada pula yang membuat lead dengan teknik ‘’menggoda’’.
Meski ada bermacam jenis dan variasi, tetapi ingredient utama harus tetap berisi 5 W dan 1 H. Para ahli dan praktisi jurnalistik berdebat mengenai hal itu. Ada yang tetap setia dengan ‘’old style’’ dan ada pula yang melakukan inovasi dan variasi.
Dalam perkembangannya, koran kemudian bersaing dengan radio dan televisi yang bisa menyajikan berita saat itu juga, breaking news, dan dilengkapi dengan gambar yang real time. Ketika keesokan harinya koran menyajikan materi berita yang sama dengan sajian 5 W dan 1 H, maka berita koran akan terasa basi.
Para jurnalis kemudian menemukan perpaduan penulisan antara sastra dan jurnalistik. Lahirlah apa yang dikenal sebagai literary journalism atau jurnalisme sastrawi. Jurnalisme sastrawi lebih tepat diterapkan dalam laporan panjang dalam bentuk features atau investigasi. Meski demikian, ada jurnalis yang mengadopsi unsur jurnalisme sastrawi dalam penulisan berita langsung, straight news, sebagai cara untuk menghindari kebasian.
Gaya penulisan jurnalisme sastrawi lebih mirip dengan novel, lengkap dengan plot dan deskripsi tokoh, protagonis maupun antagonis. Yang membedakan jurnalisme sastrawi dan novel adalah disiplin verifikasi yang tetap dijaga dengan ketat dalam penulisan jurnalisme sastrawi.
Dialog yang ada dalam narasi merupakan kutipan langsung dari narasumber. Maka lahirlah karya-karya besar jurnalisme sastrawi legendaris seperi ‘’In a Cold Blood’’ yang ditulis oleh wartawan-sastrawan Truman Capote (1966). Para penggemar bioskop tentu sudah menyaksikan film ‘’Black Hawk Down’’ yang merupakan karya jurnalisme sastrawi wartawan Mark Boden yang ikut ‘’embedded’’ dalam misi tentara Amerika ke Somalia pada 1999.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi