Jurnalisme sastrawi memengaruhi jurnalisme di Indonesia juga. Majalah Tempo menjadi trend setter jurnalisme sastrawi. Media-media harian pun terpengaruh oleh gaya penulisan sastrawi ala Tempo. Maka cara penulisan teras berita pun mulai banyak yang terpengaruh oleh gaya itu.
Bagi Sirikit, penulisan lead harus tetap disiplin dengan 5 W dan 1 H. Sirikit sendiri adalah seorang novelis, tetapi dalam hal penulisan jurnalistik, dia tetap teguh dengan prinsip-prinisip dasar.
Itulah yang terbaca dalam kumpulan tulisan Sirikit dalam buku ini. Sirikit adalah penjaga dan pelindung ‘’old-grand value’’ nilai-nilai lama yang agung dalam jurnalisme. Ibarat satpol PP Sirikit ketat dalam menjaga ketertiban. Ibarat guardian angel Sirikit menjadi penyelamat nilai-nilai agung, yang oleh banyak orang mungkin dianggap ketinggalan zaman.
Buku ini wajib dibaca oleh para praktisi dan pengajar jurnalistik, maupun oleh siapapun yang tertarik memahami praktik jurnalistik. Sirikit membahas mengenai teknik menulis, teknik wawancara, dan cara mencari nara sumber. Berbagai teori filosofi jurnalistik juga dikupas seperti ‘’firewall theory’’ teori tembok api yang memisahkan redaksi dengan bisnis.
Sirikit juga mengupas adagium lama ‘’good news is news’’ dan ‘’if it bleeds it leads’’ yang masih tetap menjadi perdebatan menarik sampai sekarang. Isu mengenai ‘’embedded journalism’’ atau ‘’wartawan sepeniduran’’ juga dibahas dengan menarik dalam buku ini.
Di era media digital yang serba tergesa-gesa ini para jurnalis menulis dengan cepat dan sering abai terhadap prinsip-prinsip dasar jurnalisme. Era digital membuat para jurnalis tergoda untuk selalu mengejar click-byte dan mengikuti gerakan algoritma. Maka lahirlah berita-berita yang tidak sesuai dengan standar jurnalistik.
Buku ini akan mengingatkan kita bahwa platform media boleh berubah, tetapi nilai-nilai jurnalisme tetap abadi. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi