KEMAPALAN: Salvador Ramos seorang pemuda berusia 18 tahun dari kota kecil Uvalde di Texas, Amerika Serikat, menenteng senapan semi otomatis dengan peluru penuh di magazine. Pagi itu, Selasa (24/5), Ia memarkir mobilnya di depan SD negeri Robb, menerobos masuk ke sebuah kelas, mengunci pintu dari dalam dan memberondongkan senapan ke arah murid-murid dan 2 orang guru. Dalam waktu hanya beberapa menit 19 murid dan dua guru tewas bersimbah darah.
Sebelum melakukan pembantaian itu Ramos terlebih dahulu menembak neneknya sendiri di rumah tempat dia menumpang tinggal. Sang nenek ditembak di bagian wajah dan mengalami luka yang sangat fatal. Beberapa hari sebelumnya Ramos minggat dari rumah ibunya di kota yang sama. Ibu dan anak itu tidak mempunyai hubungan yang hangat, dan sang ibu dikabarkan punya kebiasaan mengonsumsi obat bius dan mengalami kecanduan.
Ramos pemuda pendiam yang lebih banyak menghabiskan waktunya menyendiri di dalam kamar. Ia jarang bergaul dan punya hanya sedikit teman. Beberapa waktu sebelumnya ia membeli dua senapan semi otomatis secara legal dari toko penjual senjata di kotanya. Kota kecil Uvalde hanya berpenduduk 16 ribu jiwa tapi mempunyai beberapa toko penjual senjata.
BACA JUGA: Tiga Dimensi Anies
Kota ini dihuni oleh orang-orang Hispanic keturunan Mesksiko dan latino. Seluruh korban yang tewas adalah keturunan Hispanic. Ramos mengunggah foto dirinya di akun Facebook dan memamerkan dua senapan yang baru dibelinya. Dalam unggahannya Ramos mengatakan akan melakukan sebuah tindakan kekerasan.
Ramos menerobos ruang kelas 4 yang dihuni murid-murid yang rata-rata berusia 10 tahun. Dengan tenang ia mengunci pintu dari dalam dan memberondongkan senapan otomatisnya. Polisi datang terlambat dan mengepung ruang kelas itu. Ramos terkepung dan akhirnya tewas ditembak polisi.
Penembakan terhadap anak-anak sekolah oleh remaja broken home dan broken family di Amerika Serikat menjadi kejadian yang rutin. Hampir setiap tahun selalu ada kejadian mengerikan seperti itu. Kasus terbaru ini menjadi siklus penembakan massal sekolah yang belum dapat dihentikan di Amerika dan sudah berjalan hampir dua dekade. Ada 26 kasus tercatat tahun lalu.
Senjata api menjadi penyebab utama kematian anak-anak dan remaja Amerika pada 2020, menyalip kecelakaan mobil. Tragedi SD Columbine 1999 menjadi salah satu yang terburuk. Dua remaja mempersenjatai diri dengan bermacam senjata dan bom rakitan mengamuk di sebuah sekolah mengakibatkan 12 siswa dan seorang guru tewas, dengan 24 orang terluka dalam penembakan massal itu.
Seorang mahasiswa Korea Selatan di Institut Politeknik Virginia melepaskan tembakan ke kampus Blacksburg, Virginia. Sebelum bunuh diri, ia menewaskan sebanyak 32 mahasiswa dan seorang profesor di kampus tersebut, dengan 33 orang lainnya luka-luka.
Pria itu mengidolakan para penembak Columbine dan menyebut mereka sebagai “martir” dalam sebuah video yang menjadi bagian dari manifesto penuh kebencian yang dia kirimkan ke polisi selama penembakan berlangsung.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi