Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 00:10 WIB
Surabaya
--°C

Anies dan Jokowi

Ketika Jokowi-JK menang Anies ikut mendapatkan reward sebagai menteri pendidikan, sebuah ganjaran yang layak untuk kerja dan kontribusi terhadap pasangan selama pilpres. Menjadi menteri pendidikan adalah portofolio yang tapat untuk Anies. Kiprahnya di dunia pendidikan sangat meyakinkan. Ia pernah menjadi rektor Universitas Paramadina dan mendirikan LSM Indonesia Mengajar.

Kinerja Anies bagus selama menjadi menteri. Kalau ada semacam rapor bagi menteri nilai Anies selalu A. Tapi, itu tidak menjamin Anies tetap bisa bertahan di kabinet. Dalam sebuah gelombang resafel nama Anies ikut hilang tersapu gelombang.

BACA JUGA: Lengser

Jokowi sudah mulai berhasil mengonsolidasikan kekuatannya dan sudah mulai memetakan siapa-siapa saja yang berpotensi mengancam posisinya pada pemilu berikut. Anies masuk dalam kategori itu, dan karena itu tidak boleh diberi panggung di kabinet.

Lepas dari kabinet Anies maju di pilgub DKI pada 2016. Untuk kali pertama dalam sejarah republik persaingan memperebutkan kursi gubernur berlangsung begitu kerasnya sampai terjadi polarisasi yang membelah publik. Pada masa pilgub inilah muncul polarisasi cebong vs kampret yang merepresentasikan persaingan nasionalis vs agamis.

Anies Baswedan vs petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi persaingan politik paling keras dan paling seru dalam sejarah republik. Sebagai petahana Ahok diunggulkan. Gaya politiknya yang menyala-nyala banyak menarik perhatian pemilih. Sementara Anies lebih memilih pendekatan yang anteng dan adem. Persaingan Anies vs Ahok ibarat air melawan api.

Jokowi tentu mendukung Ahok. Hubungan keduanya sangat dekat ketika sama-sama maju sebagai pasangan gubernur-wakil gubernur DKI 2011. Paduan Jokowi-Ahok dianggap sebagai kombinasi yang pas sehingga bisa mengalahkan petahana Foke Fauzi Bowo. Pasangan ganda Jokowi-Ahok bahkan digadang-gadang bakal menjadi pasangan presiden-wakil presiden di masa datang.

BACA JUGA: Bapak Tiga Periode

Kemunculan Anies merusak skenario itu. Benarlah kata Roosevelt, tidak ada yang kebetulan. Ahok terpeleset oleh insiden Surat Al-Maidah dan masyarakat Jakarta untuk kali pertama dalam sejarah menyelenggarakan rally politik akbar yang kemudian dikenal sebagai gerakan ‘’212’’.  Anies menang dan Ahok masuk penjara.

Polarisasi berlanjut pada pilpres 2019. Jokowi-Ma’ruf Amin menghadapi Prabowo-Sandiaga Uno. Kali ini ‘’polarisasi kaceb’’ kadrun vs cebong dimenangkan oleh cebong. Jokowi menang dan Prabowo masuk ke dalam kabinet. Polarisasi harusnya selesai karena tidak ada lagi oposisi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.