Minggu, 19 April 2026, pukul : 17:31 WIB
Surabaya
--°C

Belanda Budiman

Orang tua Budiman, Gerrie dan Han Wicher, memahami gejolak jiwa Budiman. Tahun 1996 Budiman diajak ke Jakarta. Umurnya baru 19 tahun.

Di Jakarta mereka masih bisa bertemu Ronald Tumewu.

Ronald adalah ketua panti asuhan tempat bayi Budiman dititipkan saat itu.

Belum banyak yang bisa didapat untuk bisa sampai ke orang tua Budiman. Mereka kembali ke Belanda.

BACA JUGA: Senyum Tenang

Keluarga Gerrie dan Han Wicher tidak hanya mengadopsi Budiman. Dua tahun kemudian mereka dapat bayi dari Jatim. Nasibnya lebih baik. Sang adik bisa menemukan orang tuanya. Di Surabaya. Mereka bertemu. Sekian tahun kemudian hubungan itu putus. Merepotkan sekali. Sang Adik kini jadi eksekutif bank besar di Belanda.

Sedang Budiman memilih jadi pengembara. Ia merantau ke Australia. Lalu ke Palestina. “Saya menjadi guru relawan di Ramalah,” katanya. Lantas menjadi wartawan. Begitu banyak berita konflik antara Palestina dan Israel.

Modal kewartawanannya diperoleh saat SMA. Ia menjadi pengasuh koran sekolah. Termasuk belajar fotografi.

Di Palestina, Budiman sering berada di tengah konflik kekerasan. Ia menjadi biasa dengan gerakan intifada yang dilakukan anak muda Palestina.

Foto: Disway

Budiman juga meliput perang di Irak. Lalu ke medan tempur di Syria. Ke medan revolusi di Libya. Dan kini ke Ukraina. Ia menawarkan diri untuk membawa nama Harian Disway di Ukraina. Tentu Disway senang sekali.

Di Syria, Budiman sempat kena serpihan bom. Membuat luka melintang di bawah leher depannya. Ia pun dibawa ke rumah sakit. Dalam pemeriksaan itu diketahui: Budiman punya penyakit lain yang harus diatasi. Teroid. Harus dioperasi di Belanda. Berhasil –meski sempat kehilangan suara.

Sambil jadi wartawan, Budiman terus mencari orang tua aslinya. Ia beberapa kali ke Jakarta. Termasuk ke kampung di Tanah Abang itu. Akhirnya ia pun berhasil menemukan rumah orang tua aslinya. Sudah ditempati orang lain. Ada tetangga yang tahu persis ibunda Budiman. Namanyi: Esni. Sudah tua sekali. Dia adalah teman sepermainan ibu Budiman. Juga teman mengaji.

BACA JUGA: Sodiq Amin

“Sudah pindah ke Tangerang,” ujar Esni seperti ditirukan Budiman kepada Salman Muhiddin, wartawan Harian Disway. “Tidak tahu di Tangerangnya di mana,” tambahnya.

“Saya ingin sekali mencari ke Tangerang. Tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Tangerang luas sekali,” katanya.

Kesempatan mencari Sang Ibu terbuka. Budiman harus sering ke Indonesia: pacarnya tinggal di Surabaya.

Sang pacar, Ana van Valen, bekerja untuk Yayasan Mijn Roots di Surabaya. Ana juga seperti Budiman: bayi Indonesia yang diadopsi orang Belanda di masa itu. Ana pernah kawin dengan orang Belanda yang juga hasil adopsi dari Indonesia.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.