Bahkan, politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo membuka wacana menduetkan politisi PDIP itu dengan capres Golkar, Ical. Tapi sebaliknya, bagi PDIP, wacana itu merupakan “jebakan Batman” yang dapat menjadi bumerang jika salah disikapi.
Oleh: Drs. M. Hatta Taliwang, MIKom
KEMPALAN: Tulisan ini saya buat pada 1 April 2014, jelang Pilpres 2014. Karena banyak yang sedang euphoria pada sosok Joko Widodo alias Jokowi dan memuji kelebihannya sehingga elektabilitasnya tinggi, maka saya tidak perlu membahas Kelebihan/Kekuatan Jokowi.
Saya hanya ingin kupas kelemahannya, supaya kita semua waspada saat memilih pemimpin. Kita wajib kritisi karena kita tidak mau lagi terulang kepemimpinan yang penuh citra tapi minim prestasi. Dan, kenyatannya, apa yang saya dan Taufik Kiemas prediksi itu terbukti dan terjadi hari-hari ini.
Secara singkat saya ingin ulas 6 kelemahan Jokowi yaitu:
1. Mau jadi wayang dari skenario penipuan; 2. Tidak komit dan tidak konsisten; 3. Tidak mengukur diri dan ambisius; 4. Terindikasi tidak bersih dari korupsi; 5. Berpotensi tidak setia/berkhianat (?); 6. Bahasa tubuhnya tidak menunjukkan seba pemimpin negara yang berkarakter kuat.
1. Mau Jadi Wayang Dari Skenario Penipuan
Sulit untuk dibantah bahwa popularitasnya didongkrak oleh “proyek ESEMKA”. Proyek ini menaikkan citranya sebagai Nasionalis, karena pesan yang dikirim ke publik adalah bahwa ia mencintai produksi nasional dan karya anak bangsa.
Padahal kalau ditelusuri secara moral, Esemka itu Penipuan Besar kepada publik. Karena, ia tidak care lagi setelah menjadi Gubernur. Padahal spirit nasionalisme pada Esemka itulah yang bangkitkan simpati dan euphoria publik.
Namun, setelah menjadi Gubernur tidak bicara lagi tentang nasib Esemka dan gagasan nasionalisme lainnya.
Menurut Jokowi dan Tim-nya, sudah banyak yang berjuang untuk mobnas gagal: ada Tommy Soeharto, ada Bakrie, ada BPPT, ada Rahmad Gobel(?), ada Sinivasan Textmaco, ada Bambang Trihatmojo, ada MR 90, dan bahkan LIPI.
Mereka semua Gagal, tidak kuat hadapi cengkraman Jepang. Pengaruh dan lobi Jepang dalam industri tersebut Sangat Kuat. Tak bisa digoyang. Saya yakin Tim Jokowi tahu itu. Mengapa dipublikasi secara luar biasa dengan tokohnya Jokowi?
Di situlah unsur Penipuannya. Hanya untuk rebut Citra dan Publikasi serta pesan Nasionalismenya. Demi popularitas Jokowi yang dibiayai para cukong dan ahli strateginya.
Memang ujungnya Esemka jadi urusan Pemerintah Pusat, tapi pernahkah Jokowi tengok atau minimal tanya ke Pemerintah Pusat nasib Esemka? Bahkan jika perlu Jokowi demonstratif pakai terus Esemka sebagai mobil dinas di Jakarta?
Mogok sekalipun orang akan tetap support mobil tersebut. Kalau Jokowi serius dan sungguh-sungguh nasionalis. Tetapi itu tidak dilakukan karena memang target utamanya cuma menaikkan popularitas untuk bisa meraih Jabatan Gubernur dan saat itu mau jadi Presiden.
2. Tidak Komit dan Tidak Konsisten.
2.1. Janji tidak butuh dana pinjaman untuk bangun Jakarta, ternyata dia pinjam dari asing sudah Rp 33 trilun.
Buka link ini: http://shnews.co/detile-25931-china-investasi-besarbesaran-di-ri.html; http://m.beritasatu.com/aktualitas/142195-monorel-dapat-investasi-rp-15-triliun-dari-tiongkok.html;
http://m.thejakartapost.com/news/2013/04/03/jokowi-puts-heat-jica-wb.html; http://m.tempo.co/read/news/2012/10/22/231437156/
2.2. Janji memimpin Jakarta 5 (lima) tahun ternyata diingkari.
Buka link ini: http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/20/13522152/Jokowi.Janji.Pimpin.Jakarta.Sampai.Tuntas
3. Tidak Mengukur Diri dan Ambisius
Track record Jokowi sebenarnya biasa saja. Tapi, digelembungkan oleh media massa yang di-suppot dana sutradaranya, sehingga seolah dia superman yang hebat.
Sehingga mengalahkan para pejuang dan petarung nasional yang telah sekian lama berjuang untuk Indonesia. Kalau dia bijak pasti dengan rendah hati dia perkaya diri dengan pengalaman sebagai Gubernur Jakarta.
Karena banyak hal yang belum kita tahu tentang visinya, serta kemampuannya memimpin kota besar seperti Jakarta, kenegarawanannya dan terutama nyalinya untuk sanggup berhadapan dengan kekuatan pemodal dan kapitalis asing yang memperbudak bangsa ini.
Ternyata di balik “keluguannya” dia juga menyimpan ambisi dan ditangkap publik sebagai ambisius.
4. Terindikasi Tidak Bersih Dari Korupsi
Kasus bus impor untuk Transjakarta yang sangat kental KKN-nya, dan konon, kini sedang diselidiki Kejagung mengindikasikan bahwa Jokowi pemimpin yang lemah dalam kontrol manajemen sehingga terjadi korupsi besar. Dia tidak bisa lepas dari tanggung jawab atas kasus tersebut.
Pada masa lalu ketika menjabat Walikota Surakarta juga banyak info soal indikasi korupsi semasa kekuasaannya. Buka link ini:
http://kabarnet.wordpress.com/2013/12/27/astaghfirullah-ternyata-jokowi-seperti-itu
5. Berpotensi Tidak Setia/Berkhianat (?)
Dari tulisan-tulisan yang kita baca, tampaknya Jokowi berpotensi berkhianat termasuk kepada majikannya.
Keluhan dari orang-orang dekat seperti Pak Jusuf Kalla (tentang proyek Monorail) atau keluhan dari orang orang dekat Prabowo Subianto yang ikut membiayai Jokowi meraih jabatan Gubernur, terdapat kesan bahwa Jokowi tidak tepati janji dan tidak setia serta dianggap berkhianat.
Sehingga ada analisis bahwa dia berpotensi berkhianat kepada keluarga Bung Karno juga.
6. Bahasa Tubuhnya Tidak Menunjukkan Sebagai Pemimpin Negara yang Berkarakter Kuat
Kalau Jokowi jadi Presiden banyak teman yang meragukan Jokowi akan melawan pendiktean oleh asing dan para mafia kekuasaan. Dia diduga akan cenderung menurut (manut) peda kehendak Tuannya.
Majalah TIME pun meragukan Jokowi. Buka link berikut: http://touch.jaringnews.com/index.php/politik-peristiwa/umum/59058/majalah-time-pertanyakan-kapasitas-jokowi-memimpin-negara
Demikianlah catatan saya tentang Jokowi, demi kebaikan bangsa dan negara saya tulis ini, namun sebagai manusia saya mohon maaf kalau pengamatan/analisis saya keliru.
Firasat Taufik Kiemas
Ternyata Taufiq Kiemas sudah punya firasat bahwa Jokowi adalah sosok yang haus kekuasaan. Ini disampaikan Panda Nababan, politisi senior PDIP setelah Taufik Kiemas meninggal.
Berdasarkan informasi yang beredar, almarhum Taufiq Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri, memang pernah meragukan atau tak mendukung langkah Jokowi untuk maju dalam Pilpres 2014, terutama periode awal pencalonan gubernur DKI Jakarta.
Taufiq Kiemas menilai tidak mungkin Jokowi, yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur DKI, diusung dalam Pemilu Presiden 2014.
“Enggak mungkin,” kata Taufiq sesuai menghadiri peresmian Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi Mahkamah Konstitusi (MK) di Desa Tugu Selatan, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/2/2013). Taufiq berharap agar Jokowi tidak ditarik dalam wacana capres atau cawapres di 2014. “Jangan, kasihan,” ucapnya.
Taufik Kiemas kemudian berseloroh, “Kenapa enggak Pak Taufiq aja sih? Hahaa..” Seperti diberitakan, Jokowi “diseret” ke wacana Pemilu Presiden 2014. Jokowi dianggap layak untuk diusung menjadi salah satu calon pemimpin Indonesia mendatang.
Dalam sejumlah survei, elektabilitas Jokowi memang berada di “urutan teratas”, lebih tinggi dari politisi senior, seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie alias Ical, Megawati Soekarnoputri, Wiranto, hingga Jusuf Kalla.
Bahkan, politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo membuka wacana menduetkan politisi PDIP itu dengan capres Golkar, Ical. Tapi sebaliknya, bagi PDIP, wacana itu merupakan “jebakan Batman” yang dapat menjadi bumerang jika salah disikapi.
Bahwa sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sedang mendapatkan amanah untuk membangun “Jakarta Baru” hingga 2017. Dengan demikian, terlalu sulit menerima tawaran capres/cawapres dari pihak lain.
Jika terjebak dalam skenario, kata Basarah, publik akan menilai Jokowi adalah tokoh yang haus jabatan dan kekuasaan. Begitu pula dengan PDIP, sebagai parpol yang mengusung Jokowi, akan dinilai sebagai parpol yang tidak amanah, tidak konsisten, dan menghalalkan segala cara hanya untuk kemenangan di pilpres.
*) Drs. M. Hatta Taliwang, MIKom, Mahasiswa S3 Ilmu Politik UNAS, Mantan Anggota DPR/MPR RI

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi