Sementara itu, posisi Donald Trump juga tampak tidak sepenuhnya leluasa. Faktor domestik, termasuk dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat, ikut membatasi ruang manuvernya.
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Pernyataan terbaru dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi soal pembukaan Selat Hormuz selama masa negosiasi langsung mengguncang lanskap global.
Pasar minyak merespons cepat: harga turun ke kisaran USD 90 per barel, anjlok sekitar USD 15 dalam waktu singkat. Seolah-olah, satu kran kecil dibuka, tapi efeknya seperti membuka bendungan yang menahan arus kepanikan global.
Respons juga datang dari Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka mengapresiasi langkah tersebut. Pernyataan ini terasa ironis, mengingat selama berminggu-minggu sebelumnya Washington justru mengambil langkah konfrontatif terhadap Teheran.
Jika tujuan akhirnya adalah stabilitas harga energi, mengapa harus melalui jalur berliku penuh tekanan?
Pasar keuangan global ikut bernapas lega. Bursa saham menguat, jalur logistik kembali stabil, dan pelaku industri seolah menemukan kembali ritme yang sempat hilang.
Dalam konteks ekonomi global, Selat Hormuz ibarat saklar listrik rumah: sekali dimatikan, semua jadi gelap; sekali dinyalakan, kehidupan kembali berjalan.
Namun sebaliknya, kebijakan tekanan dan ancaman penutupan jalur oleh Amerika sebelumnya justru memperparah situasi. Harga energi melonjak, ketegangan meningkat, dan rantai pasok global terguncang.
Ini memunculkan pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya yang memegang kendali atas stabilitas ekonomi dunia – kekuatan militer atau kendali atas titik-titik strategis perdagangan?
Langkah Iran membuka selat tersebut juga bukan tanpa syarat. Statusnya masih sementara, menunggu tercapainya kesepakatan gencatan senjata yang lebih permanen. Dengan kata lain, kartu tersebut belum benar-benar dilepas dari tangan, hanya diperlihatkan sedikit ke meja negosiasi.
Di sisi lain, isu Lebanon ikut terseret dalam dinamika ini. Ada indikasi bahwa keamanan Lebanon mulai dikaitkan dengan stabilitas Selat Hormuz, dengan menciptakan semacam “paket kebijakan” yang kompleks.
Jika benar, ini seperti mengikat 2 kabel berbeda dalam satu saklar – sekali ditekan, 2 sistem langsung terpengaruh.
Bagi Israel, situasi ini bukan kabar baik. Keterkaitan antara isu regional dan ekonomi global yang berpotensi mempersempit ruang gerak strategisnya, terutama dalam agenda pelucutan kelompok perlawanan.
Pertanyaannya, apakah pendekatan militer tradisional masih relevan jika variabel ekonomi global ikut bermain?
Sementara itu, posisi Donald Trump juga tampak tidak sepenuhnya leluasa. Faktor domestik, termasuk dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat, ikut membatasi ruang manuvernya.
Dalam konteks ini, keputusan geopolitik terasa seperti pedagang di pasar: bukan hanya soal harga barang, tapi juga tekanan pembeli, pesaing, dan kondisi pasar itu sendiri.
Perkembangan ini menegaskan satu hal: Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut, melainkan tuas pengungkit ekonomi dunia.
Siapa yang mampu mengendalikan ritmenya, berpotensi mengatur tempo permainan global. Pertanyaannya kini, sampai kapan keseimbangan ini bisa dipertahankan tanpa kembali memicu gejolak baru?
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi