Saya tidak menyangka bisa bertemu bayi-bayi yang kami liput lebih 40 tahun yang lalu. Yang kini sudah begitu gagahnya. Dan cantiknya. Yang bayi-bayi itu kini mulai lagi belajar bahasa Indonesia di masa setengah umur mereka. Mereka ternyata juga sangat mencintai Indonesia.
“Kalau misalnya ada tawaran untuk mendapat paspor Indonesia, Anda pilih punya paspor Belanda atau Indonesia?” tanya saya.
BACA JUGA: Percaya Dokter
“Sulit sekali menjawab,” ujar Budiman. “Saya sama-sama mencintai Belanda dan mencintai Indonesia,” tambahnya.
Sebagai wartawan, Budiman bisa masuk Iran lebih mudah dengan paspor Indonesia. Tapi bisa lebih mudah masuk Israel dengan paspor Belanda. “Sulit memilihnya,” kata Buddy Wicher, nama panggilannya.
Lebih dari paspor dan kewarganegaraan, Buddy Wicher, kini lagi jatuh cinta pada bebek goreng Surabaya. Jangan-jangan karena belakangan tidak bisa banyak pakai minyak goreng lagi. (*)
Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.
Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Presiden Wow!
Waris Muljono
Selisih 12 detik ama yg pertamax, ternyata susah ya nyari pertamax…..
Gito Gati
Ketika pengusaha sdh susah diatur (tentu ada campur tangan pejabat korup) maka politik yang harus menyelesaikan. Contohnya jack ma. Ketika jack ma semakin rakus dan negara merasa terancam, maka pemerintah china “melenyapkan” jack ma. Toh walau jack ma “dilenyapkan” sebenarnya pemerintah china hanya ingin membatasi. Dg dibatasi pun jack ma masih tetap kaya raya. Begitu juga dengan di Indonesia, hal itu harus dilakukan Presiden jokowi sendirian. Saya adalah pendukung pak jokowi yang realistis. Ketika minyak goreng melambung tinggi saya “berteriak” keras di fb. Ketika bahan bakar kendaraan melambung tinggi, saya masih maklum (yg penting jangan langka). Tapi ketika minyak goreng yang melambung tinggi maka saya tidak terima. Karena aneh saja, produsen sawit nomor satu dunia diombang ambing oleh harga. Betapa lemahnya pemerintah. Akhirnya logika saya lalu menjustifikasi pasti ada tangan2 korup pejabat yang terlibat. Kita lihat saja, presiden sdh membuat kebijakan moratorium ekspor. Kalau masih bocor maka harus ada reshufle kabinet.
Mirza Mirwan
Saya belum membaca komentar, jadi mungkin substansi komentar saya ini sudah ada yang menuliskannya lebih dulu. Apakah melarang total ekspor CPO dan minyak goreng jadi itu tepat? Menurut saya yang awam soal perdagangan luar negeri, rasanya kok tidak. Konsumsi minyak dalam negeri hanya 5 juta ton. Mengapa harus melarang total ekspor yang 50 juta ton? Bukankah dengan menguranginya 20% saja sudah lebih dari cukup? Ini masalah devisa, lho. Memangnya pemerintah siap kehilangan devisa — meski untuk satu bulan saja — dari CPO dan minyak goreng hingga menjadi nol devisa? Kecuali itu juga pasti akan memicu kekacauan pasar minyak goreng secara global.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi