Menurut Imam Ahmad terdapat 3 tingkatan zuhud yang bisa kita pahami:
1.Orang awam menganggap zuhud itu adalah meninggalkan keharaman.
2. Orang istimewa (khawash) menganggap zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang halal sekalipun melebihi kebutuhannya.
3. Orang sangat istimewa (al-arifin) menganggap zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk mengingat Allah SWT.
Dari ketiga tingkatan ini, bisa disimpulkan bahwa kezuhudan seseorang tidak bisa disamaratakan. Tidak pula menuntut dan bisa dilakukan sesuai kemampuan.
Imam Al Ghazali juga mengatakan bahwa zuhud memiliki tiga tingkatan. Pertama berupaya keras untuk zuhud terhadap dunia dan berjuang meninggalkan hawa nafsu beserta hasrat dan keinginannya. Orang disebut ‘mutazahhid’ (berusahaya payah untuk zuhud). Jika terus menerus mengupayakannya, dia akan sampai ke tingkat zuhud.
BACA JUGA: Mokel
Kedua, zuhud terhadap dunia dengan sukarela karena menganggap rendah dunia bila dibandingkan denga apa yang diinginkannya. Seperti orang meninggalkan satu dirham demi mendapatkan dua dirham.
Ketiga, berlaku zuhud dengan rela hati, bahkan zuhud dengan kezuhudannya sendiri. Hal itu karena ia tidak merasa meninggalkan sesuatu karena dia tahu bahwa dunia tidak berarti baginya.
Zuhud adalah sikap Muslim yang sangat disukai Allah SWT dan Rasullah SAW. Namun begitu ada sikap kebalikan zuhud yaitu cinta dunia, yang menyebakan muslim sangat lemah. Jika mencintai sesuatu, manusia seperti diperbudak yang dicintainya. Cinta dunia disebut juga dengan hubbud dunya. Hubbud dunya adalah cinta dunia yang menyebabkan manusia lupa pada Allah SWT.
BACA JUGA: Berburu di Malam Ganjil
Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk meninggalkan sama sekali urusan dunia. Namun semua urusan dunia jangan sampai mepengaruhi hati, pemikiran dan karakter seorang muslim. Urusan dunia jangan sampai mempengaruhi kecintaan muslim pada urusan akhirat.
Allah SWT mengingatkan kita dengan firman-Nya dalam Surat Al-An’am ayat 32 yang artinya, “Dan adalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi