Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 23 Apr 2022 08:00 WIB ·

Presiden Wow!


					Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden Perbesar

Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

KEMPALAN: Wow! Wow! Wow!

Begitu drastis keputusan Presiden Jokowi kemarin sore: melarang total ekspor bahan baku minyak goreng. Termasuk minyak gorengnya sendiri. Mulai berlakunya Kamis tanggal 28 April 2022. Sampai batas waktu yang akan ditentukan kemudian.

Itu keputusan sapu jagat.

Presiden tidak bicara lagi DMO. Tidak juga PMO. Tidak juga HET. Domestic Market Obligation terbukti tidak mempan memenuhi kebutuhan minyak goreng dalam negeri. Price Market Obligation terbukti tidak mampu mengendalikan harga. Ketentuan Harga Eceran Tertinggi diabaikan pasar.

Yang berlaku selama tiga bulan terakhir adalah harga pasar. Murni. Bahkan harga pasar internasional. Persaingan bebas.

Akhirnya diambillah keputusan sapu jagat: larang total ekspor. Tidak ada pertimbangan apa pun, kecuali “sampai ketersediaan minyak goreng di dalam negeri melimpah”.

Kata yang harus dicatat adalah: melimpah. Bukan sekadar cukup.

Ukuran melimpah tentu relatif. Maka saya menyumbangkan ukuran yang terukur: sampai
harga minyak goreng kembali ke harga tiga bulan lalu. Dan begitu ekspor diperbolehkan lagi, harganya tidak kumat.

Harga minyak goreng kemasan sebelum ada gejolak, 14 ribu per liter. Biasanya yang dikemas dua liter harganya Rp 28 ribu – Rp 29 ribu. Setiap Jumat ada diskon jadi Rp 25 ribu. Untuk yang curah di pasar mulai Rp 9.500 hingga Rp 11 ribu per liter.

Saya menyebutnya keputusan sapu jagat karena dengan satu sapu ini seisi jagat perminyakgorengan teratasi.

Masih ada waktu lima hari untuk menyiapkan peraturan tertulisnya. Termasuk aturan yang bisa mengatasi trik-trik untuk menyiasatinya. Juga sinkronisasi antara perdagangan dan industri. Ada potensi pabrik-pabrik CPO bermasalah. Juga pabrik minyak goreng. Rantai pasok mereka bisa tiba-tiba guncang.

Tentu para pengusaha tidak akan melawan keputusan presiden itu. Gejala perlawanan sempat muncul. Yakni seperti yang disuarakan pengurus asosiasi sawit. Sampai mengancam akan mundur dari program subsidi.

Nyatanya presiden justru mengeluarkan keputusan sapu jagat. Yang diucapkan sendiri lewat video resmi dari Istana Negara. Durasi video itu pun begitu pendek. Hanya satu menit. To the point. Tidak pakai basa-basi apa pun.

Pun cara Presiden Jokowi tampil di video sangat serius. Termasuk di raut wajahnya.

Sapu jagat!

Kebutuhan dalam negeri hanya 5 juta ton. Pasar ekspor 50 juta ton. Kali ini yang 50 juta ton dikorbankan untuk memenuhi yang 5 juta ton.

Maka, sebenarnya tidak harus ada keputusan sapu jagat. Lima juta ton tidak ada artinya dibanding 50 juta ton. Tapi jalan biasa sudah dicoba. Tidak manjur. Bahkan mengesankan seperti mencla-mencle. Wibawa pemerintah seperti jadi bahan mainan. Sampai mengusik seorang penyanyi sekelas Iwan Fals menjadikannya lagu top hits.

Sungguh. Sebenarnya tidak perlu ada sapu jagat. Kalau bisa ditata dengan baik.

Kasihan eksporter. Yang sudah telanjur menandatangani kontrak. Yang akan kena klaim dari luar negeri. Yang juga merusak jadwal kapal internasional.

Tapi Presiden memang sudah di tahap jadi bulan-bulanan. Sapu jagat ini telah menyelamatkannya.

Saya tidak bisa membayangkan betapa ruwet kesibukan di Kementerian Perdagangan dan
Kementerian Perindustrian hari ini. Sampai lima hari ke depan.

Jangan-jangan dalam tiga hari ke depan ketersediaan minyak goreng tiba-tiba melimpah.

Lalu, larangan ekspor itu pun tidak perlu dilaksanakan di hari Kamis. Tanpa harus ada
menko yang tiba-tiba bisa mencabut larangan ekspor itu. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Minyak DMO

Parikesit Riau
DMO oh DMO. Strategi ekonomi yang aneh (setidaknya itu menurut saya). Dulu pernah
saya berkomentar, bahwa pemerintah Malaysia telah memberikan subsidi untuk produk minyak goreng kemasan kecil (yang rata-rata pembelinya juga rakyat kecil) . Yang mana pada saat itu, Pemerintah Indonesia masih gamang, mungkin tidak mau meniru strategi yang sudah dijalankan negeri jiran tersebut. Benang merahnya jelas, produsen minyak goreng bukanlah produsen (baca : pabrik) CPO. Pabrik CPO tidak hanya merebus TBS dari kebun inti, sebagian besar harus dibeli dari pekebun, dan harga TBSnya sudah mahal itu. Kenapa harus subsidi? Iya, karena pajak penghasilan yang dibayar oleh tauke (pengepul sawit) juga terkerek. Pabrik juga harus membayar PPh dan PPN dalam setiap faktur yg diterbitkan, juga nominalnya menjadi tidak sedikit lagi. Sampailah itu ke sektor hilir yg semua angka pajaknya naik. >>>> Lalu mau dikemanakan pajak2 yg besar itu? Kalau tidak didaya gunakan untuk memberikan subsidi bagi rakyatnya yg kurang mampu.
Rahayu, rahayu, rahayu.

Lukman bin Saleh
Betul2 sial memang. Jadi tersangka melanggar aturan. Tapi aturannya sendiri sudah d
cabut. Aturan yg terbukti tidak efektif, tdk ada hasil. Hasilnya hanya membuat 4 keluarga kehilangan sosok ayah. Hanya krn melanggar aturan yg bermasalah. Doa sy, semoga tdk ada aliran uang. Aturan itu d langgar hanya semata2 aturannya yg tdk masuk akal.

Contohnya mewajibkan DMO CPO pd perusahaan yg tdk punya kebun sawit. Macam mana pula ini? Ini sih perusahaan d suruh nyumbang namanya. Sekali lg, semoga tdk ada aliran uang. Sedih liat berita korupsi terus. Gini2 amat negara kita…

Irfansyah Tambunan
Memang susah jadi emak2..antri minyak goreng di nyinyirin,,beli baju baru di nyinyirin..yo wis,antri BLT minyak goreng aja,duitnya beli paket buat tik tok an..serbuuu

Bakti hairs
Masalah terbesarnya memang adalah kerakusan pengusaha. Tapi bisa jadi karena dulu saat mereka mendapakan konsesi pengolahan hutan menjadi kebun sawit telah berhutang sana sini untuk menyogok penguasa saat itu sehingga hingga sekarang mrk belum ikhlas dan terus mengeplotasinya untuk diri sendiri dan perusahaan. Ngomong- ngomong kapan mereka dapat HGU hutan sawit ini ya??

Yuli Triyono
Minyak goreng sudah bisa didapat di mana-mana. Ah, betapa melegakan. Andaikan itu benar. Bukan hanya di lagunya Iwan Fals.

Dahlan Tampubolon
Mestinya bukan DMO yang menjadi masalah, karena ketika DMO dijalankan dan harga masih mengikuti pasar, para eksportir bukan pemilik lahan masih bisa menjual dengan harga di atas biaya produksi. Namun ketika DMO dibarengi DPO, kelangkaan minyak nabati menggila. Karena harga beli CPO sudah 17rb rupiah per kg, tapi mereka diwajibkan menjual minyak goreng pada harga 11rb rupiah per liter. Pakai kalkulator merek apa pun, gak kan masuk barang tu. Berbeda dengan produsen minyak nabati yang punya rantai pasok mulai kebun hingga minyak goreng, mereka bisa menikmati harga ekspor dan menutupi rendahnya DPO yang 11rb perak tadi. Di pasar oligopoli pasti produsen berusaha mencapai laba maksimum atau setidaknya di atas nol. Kalau produsen disuruh menjual jauuuh di bawah harga beli bahan baku, teori ekonomi mana pun tak akan masuk. Lalu dengan cara DPO dan DPO ini, mulai lah muncul upaya mendapat sertifikat DMO (aspal) sehingga produsen minyak nabati bisa menjual ke luar negara dengan harga yang asyik. Mestinya pejabat tukang olah dan raja olah ini duluan dihukum gantung di bawah pokok sawit umur 30 tahun. Para petani sawit jangan ikut ikut menuntut harga minyak goreng turun la. Ketika harga sawit 800 perak, harga minyak kemasan 12rb. Tapi ketika harga sawit jadi 3200 perak, jangan pulak minta harga minyak goreng tetap 12rb. Kek mana mau naek harga sawit kalau harga minyak goreng gak naek. Sama sama la kita tengok kek mana Kejaksaaan Agung menuntut para tukang olah dan raja olah ini. Biar

Agustinus Marampa
Asu..dalah. Semua orang sudah tahu, dan anda sudah tahu, mental orang indonesia masih bisa dibeli dan gampang diadu domba . Jadi makanan empuk bagi mafia dan negara negara maju. tapi masih ada untungnya Tuhan masih berpihak, sumber daya alamnya melimpah, tapi kalau habis mau gimana? terserah andalah.

Hardiyanto Prasetiyo
Saya mengamati BLT dan DMO seharusnya beriringan bukan pisah ranjang/dicabut salah satu. BLT meningkatkan daya beli dari sisi konsumen dan DMO meningkatkan ketersedian stock dan menjaga kontinuitas suplai dalam negeri dari sisi produsen.
Nyatanya setelah DMO dicabut dan BLT dibagikan, banyak antrian panjang konsumen beli migor dimana2 tp ketersediaan barang msh terlalu sedikit. Oke lah setelah ada BLT daya beli masyarakat kuat tp barangnya msh langka dan terbatas. Buat apa ada BLT klo barang langka??? Apa yg mau dibeli??? Bisa2 klo migor msh langka, BLT jadi sasaran empuk kaum hawa untuk beli baju buat hari raya.

Akagami Shanks
Hehe, 99% persen permasalahan di negeri ini kecuali kawin lagi saya yakin sudah ada solusinya. Tapi banyak yang nggak mau tau, kenapa harus ikut pusing. Mobil listrik, pilpres lewat hp tanpa kertas, bunga tinggi kredit motor, tidak usah bahas agama orang, tidak perlu menipu, atau korupsi, dll. Selama penguasa bilang A, mau seluruh manusia bilang B. Arah dunia tetap menuju A.

tempe lezat
lagu iwan fals mmg syarat dengan warisan budaya, saya belajr banyak tetang negeri ini ya dari Iwan Fals, sebut saja kereta api bintaro, wakil rakyat, ambulan zigzag,umar bakri dan terakhir miinyak goreng. bahkan dengansedikit berlebihan saya malah bilang ke anak2 saya, kalo mau tahu indonesia itu maju atau mundur dengarkan saja lagunya Iwan dan bandingkan masih ada tidak hari ini. Kapan ada podcast sama Iwan Pak Dahlan? mungkin juga lagu tampo Mas terinspirasi dari tulisan pak Dahlan di Tempo waktu itu..

Dodik Wiratmojo
Selain lagu migor Kondisi skrg mirip lagu iwan fals tikus2 thn 86 Tikus tikus tak kenal keyang Rakus rakus bukan kepalang Otak tikus memang bukan otak udang, kucing datang tikus menghilang cerdik licik tikus bertingkah Mungkin krn sang kucing PURA PURA mendelik…hanya pura2 jee
dabaik kuy breaking news. video terbaru megawati: … rakyat antri migor tp bisa beli baju lebaran.. mahasiswa skr sering demo masalah kecil juga. kalian demo ngerti gak? wakakakak …. dulu si mbok bbm naik dikit demo sambil nangis …. yg beli baju baru siapa mbok…. menengah itu….. yg antri migor wong cilik…. yg kamu tinggalkan

daeng romli
Menyikapi langkahnya minyak goreng. Coba dengarkan omongan “bijak” dr emak Mega. “Kalau minyak goreng langka / Mahal ya tidak usah menggoreng, bisa direbus, dikukus atau lainnya” Trus para penjualgorengan teriakkkk….”hooooiiiiii aku ini jualan gorengan, bukan rebusan atau kukusan”…Ayo jajal piye iki…..

*) Diambil dari komentar pembaca http://disway.id

Artikel ini telah dibaca 66 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Cacar Monyet

21 Mei 2022 - 17:24 WIB

Reputasi Segalanya

21 Mei 2022 - 08:00 WIB

Laut Bercerita

20 Mei 2022 - 16:15 WIB

Monas Lokal

20 Mei 2022 - 08:00 WIB

Tesla dan Esemka

19 Mei 2022 - 17:15 WIB

PKB Daun Salam

19 Mei 2022 - 08:00 WIB

Trending di Kempalpagi