Selasa, 28 April 2026, pukul : 09:49 WIB
Surabaya
--°C

Guru Bimbel

Allen yang mengaku sebagai Kristen Protestan menganggap Trump sebagai orang Kristen yang menafik. Ia juga menilai Trump sebagai preman. Putusannya untuk gencatan senjata dengan Iran ia anggap sebagai penyerahan diri.

Oleh: Dahlan Iskan

KEMPALAN: Sebenarnya ini tumben: Presiden Donald Trump mau hadir di acara yang ia sangat benci. Yakni acara tahunan kumpul-kumpul sesama wartawan yang bertugas meliput di Gedung Putih.

Belum pernah Trump menghadiri acara tahunan itu. Baru kali ini: belum lagi acara dimulai Trump sudah diungsikan. Itu karena ada suara tembakan di teras depan ballroom hotel Hilton, Washington, Ahad malam.

Trump sebenarnya sudah duduk di kursi depan. Acara sudah siap dimulai. Tiba-tiba terdengar suara tembakan itu. Sekali Trump hadir acaranya tidak jadi.

Kenapa Trump benci acara itu, Anda sudah tahu: bermula dari acara yang sama sekitar 18 tahun lalu. Waktu itu Trump sudah kaya tapi belum dianggap VIP. Duduknya tidak di depan. Tidak pula di deretan depan. Ia duduk di satu meja dengan beberapa undangan lain di bagian tengah ballroom. Saya lupa dengan siapa saja ia satu meja saat itu.

Ballroom Hilton sangat besar. Bisa untuk 300 meja bundar. Satu meja diisi 10 orang. Bisa 2500 undangan. Penyelenggara acara adalah pengurus persatuan wartawan Gedung Putih. Pengurus ”menjual” meja itu kepada para penerbit media. Harga per meja bervariasi tergantung posisi meja.

Perusahaan media lantas mengundang relasi masing-masing untuk mengisi meja tersebut. Waktu itu kemungkinan besar Trump diundang oleh salah satu stasiun TV – mengingat ia pengasuh satu acara di TV.

Acara makan malam wartawan istana tersebut sangat terkenal. Selalu menarik perhatian publik Amerika. Tema setiap tahunnya selalu seksi: gojlogan politik. Utamanya dari pengisi pokok acara: komedian. Tiap tahun selalu ditampilkan bintang komedi terkemuka Amerika.

Di komedi itu politisi Amerika biasanya digoreng habis sampai gosong. Termasuk presiden siapa pun. Di sana komedian bisa mengolok-olok presiden sampai lungset. Anehnya hampir semua presiden hadir di acara tahunan itu.

Presiden yang punya selera humor tinggi menggunakan kesempatan itu untuk ganti menggoreng orang media. Terutama yang suka mengkritiknya.

Salah satu yang punya selera humor adalah Barrack Obama. Tidak jelas apakah Obama tahu bahwa malam itu ada Trump di tengah-tengah yang hadir. Posisi duduk Trump tidak mudah dilihat dari podium. Silau.

Begitu lucunya gorengan Obama praktis tawa dan tepuk tidak henti-hentinya. Salah satu yang digoreng Obama adalah Donald Trump – memanfaatkan isu bahwa Trump ingin jadi calon presiden suatu saat kelak.

Dari podium Obama mengejek habis Trump. Intinya: mana mungkin orang seperti Trump bisa maju jadi calon presiden.

Saya masih ingat Trump tidak tersenyum sama sekali. Wajahnya kecut. Ia terlalu sensi. Padahal orang semejanya tidak henti-hentinya tertawa. Para presiden pun umumnya ikut tertawa saat diri mereka digoreng.

Jangan-jangan gegara digoreng Obama malam itu muncul pikiran Trump untuk serius maju sebagai capres. Obama sendiri mungkin menyesal telah menyiramkan bensin ke hati Trump yang paling dalam.

Setelah Trump terpilih tidak sekali pun ia mau hadir di makan malam wartawan istana. Pun setelah tidak lagi jadi presiden dan setelah belakangan terpilih lagi. Baru kemarin malam ia tumben. Lalu terjadilah peristiwa percobaan pembunuhan kali kedua untuk Trump.

Penembakan pertama yang menyerempet telinganya tiga tahun lalu membuat Trump terpilih kembali sebagai presiden. Penembakan kali ini membuat nama Donald Trump kembali populer setelah hancur oleh keadaan ekonomi, kasus perdagangan seks anak-anak dan perangnya dengan Iran.

Menguatnya nama Trump kali ini penting untuk menghadapi Pileg November depan. Kalau saja Republik kehilangan mayoritas di Pileg itu Trump langsung menjadi bebek pincang – bahkan bisa lebih jelek dari itu.

Maka Trump harus berterima kasih pada Cole Allen yang begitu ceroboh. Usaha penembakannya sangat sembrono: membawa senjata dan pistol masuk hotel. Juga pisau. Allen mudah diamankan petugas saat masih jauh dari sasaran.

Allen memang berstatus tamu di hotel itu. Ia datang jauh dari pantai barat ke pantai timur Amerika. Dari rumahnya di Los Angeles ia terbang ke Chicago. Lalu naik kereta ke Washington DC.

Rumahnya memang tidak jauh dari Los Angeles. Di pinggiran barat daya LA. Yakni di wilayah Torrance. Itu kota industri. Kota pantai. Anda sudah tahu: pantai Ret Beach amat terkenal di Torrance. Di sepanjang pantai antara Los Angeles sampai San Fransisco memang banyak sekali pantai terkenal.

Kota pinggiran Torrance juga terkenal sebagai kantor pusatnya Honda Amerika. Juga pusatnya Honeywell, perusahaan otomation terkenal. Helicopter Robinson juga diproduksi di Torrance.

Yang agak aneh yaitu: Allen, 31 tahun, adalah alumnus universitas riset teknologi terkemuka di dunia: Caltech – California Technology. Yakni universitas yang hanya punya mahasiswa S-2 dan S-3. Anda masih ingat: saya pernah menyinggung soal Caltech saat saya mampir ke sana dua tahun lalu. Kampusnya di dekat Pasadena.

Allen mengaku punya bisnis mandiri: game developer. Tembak-menembak sudah menjadi budaya dalam permainan game – termasuk game yang ia ciptakan.

Selebihnya Allen punya pekerjaan tetap: menjadi guru bimbel di kotanya.

Di Amerika ada puluhan ribu jasa bimbingan belajar. Salah satunya: C2, tempat Allen mengajar.

C2 banyak punya cabang di kota-kota yang penduduk keturunan Asianya besar. Orang Asia paling semangat memasukkan anak ke bimbel. Apa saja. Mulai bahasa Inggris sampai matematika.

Bimbel C2 tergolong bertarif mahal karena sifatnya pribadi. Bukan kelas – seperti bimbel di Indonesia.

Tarifnya antara 2.000 sampai 6.000 dolar – tergantung banyaknya mata pelajaran dan berapa kali tutor dalam seminggu. Bahkan untuk bimbingan khusus masuk perguruan tinggi ternama sampi 10.000 dolar.

Dari penelusuran penegak hukum di sana diketahui Allen sangat benci Trump. Benci pertama ketika Trump menghentikan dukungan untuk Ukraina. Benci yang belakangan ketika Trump seperti merendahkan Sri Paus.

Allen yang mengaku sebagai Kristen Protestan menganggap Trump sebagai orang Kristen yang menafik. Ia juga menilai Trump sebagai preman. Putusannya untuk gencatan senjata dengan Iran ia anggap sebagai penyerahan diri.

Tentu Trump sudah kebal dengan penilaian seperti itu – pun lebih dari itu. Apalagi kali ini justru bisa membuat namanya kembali dapat simpati di dalam negeri. (Disway)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.