Dalam hal ini, pemikirannya beririsan dengan konsep welfare state dan teori redistribusi modern. Ia memahami bahwa pertumbuhan tanpa distribusi hanya akan menciptakan ketegangan sosial.
Oleh: Mikhail Adam
KEMPALAN: Ini bagian terakhir dari dua tulisan yang bersambung. Tulisan tentang rangkuman diskusi ahli bertema Soemitronomics dan relevansinya di republic ini. Kegiatan di Kota Depok yang dihadiri 15 ekonom terkemuka dan berdasar pada buku terbitan lembaga Nusantara Centre berjudul “Soemitro Anti Penjajahan“.
.
Apa yang paling menarik? Adalah yang defisit hari ini. Yaitu industrialisasi sebagai jalan transformasi. Metoda yang dapat membuat jarak ketertinggalan bisa dipangkas. Cara yang elegan menaikkan posisi peradaban nusantara.
Dalam keseluruhan arsitektur pemikiran dari seorang Soemitro Djojohadikusumo, industrialisasi tidak pernah berdiri sebagai tujuan akhir. Ia adalah instrumenm, sebuah jalan historis yang harus dilalui untuk mencapai sesuatu yang lebih dalam: keadilan ekonomi.
Soemitro memahami bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghasilkan keadilan. Tanpa kebijakan yang tepat, ia justru dapat memperdalam ketimpangan. Karenanya, industrialisasi harus dirancang dengan kesadaran sosial. Ia harus bisa inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Horizon pemikiran Soemitro itu mencakup keadilan struktural yang bermakna mengubah posisi ekonomi dalam struktur industri global, distribusi kesejahteraan yang merata, dan meningkatkan kapabilitas untuk menciptakan mobilitas sosial.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara industrialisasi ala Soemitro dan industrialisasi dalam paradigma kapitalisme maupun liberalisme. Kapitalisme berorientasi pada akumulasi modal.
Lebih jauh lagi, dalam pemikiran ekonomi politik kontemporer yang ditawarkan Jason W. Moore kapitalisme bekerja untuk mengakumulasi kekuasan. Sementara dalam semesta pemikiran Sumitro berorientasi pada distribusi yang bermartabat, kedaulatan, dan keadilan sosial.
Gema pemikiran Soemitro Djojohadikusumo kita temukan dalam semangat Sustainable Development Goals (SDGs) yang mengusung ‘No One Left Behind’ (Tiada satupun yang tertinggal).
Soemitronomics jika ditafsir ulang ia bukan dogma, melainkan kompas. Dan kompas itu menunjukkan arah pada: kedaulatan dan keadilan sebagai tujuan industrialisasi.
Soemitro dan Imajinasi yang Belum Selesai
Berbeda dari banyak model industrialisasi yang menekankan pertumbuhan, Soemitro menempatkan keadilan sebagai tujuan. Baginya, Industrialisasi harus mengurangi ketimpangan, meningkatkan mobilitas sosial, dan memperluas akses ekonomi.
Dalam hal ini, pemikirannya beririsan dengan konsep welfare state dan teori redistribusi modern. Ia memahami bahwa pertumbuhan tanpa distribusi hanya akan menciptakan ketegangan sosial.
Industrialisasi ala Soemitro bukanlah blueprint yang kaku. Ia adalah kerangka berpikir. Sebuah cara melihat hubungan antara negara, pasar, dan masyarakat.
Ia mengajarkan bahwa Negara memberikan orientasi, pasar diarahkan, dan keadilan menjadi tujuan utama.
Di tengah dunia yang berubah cepat, gagasan ini terasa semakin penting. Sebab tanpa arah, industrialisasi hanyalah proses mekanis. Dengan arah, ia menjadi proyek peradaban.
Dan dalam imajinasi Soemitro, Indonesia tumbuh menjadi negara industri modern yang berkeadilan. Di mana negara dan masyarakat sipil sama-sama kuat sekaligus bergotong royong membangun peradaban Indonesia.
*) Mikhail Adam, Peneliti Ekopol di Nusantara Centre

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi