WASHINGTON D.C-KEMPALAN: Konflik Rusia-Ukraina memunculkan perpecahan di negara-negara Afrika.
Hampir setengah negara-negara Afrika Abstain atau tidak melakukan voting pada dua resolusi PBB terkait dengan Konflik Rusia-Ukraina.
Hanya negara-negara Afrika barat saja yang menyetujui resolusi PBB pada tanggal 24 Maret yang berisikan desakan untuk menghentikan tindakan Rusia di Ukraina.
Dengan adanya hal tersebut, AS meminta negara-negara Afrika untuk memberikan respons yang serius dan kuat terkait dengan konflik Rusia-Ukraina untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.
“Kami meminta kepada semua negara-negara di Afrika untuk menunjukkan respons yang kuat dan serius terkait tindakan Rusia di Ukraina” ucap Duta Besar AS untuk Uni Afrika yaitu Jessica Lapen.
Lapen sebelumnya menerima pernyataan dari Uni Afrika pada tanggal 24 Februari bahwa Rusia harus segera menghentikan tindakannya.
Namun pada saat ini, negara-negara di Afrika mengalami perpecahan karena ada yang setuju dan yang tidak serta yang tidak memberikan pandangannya.
Uni Afrika juga sudah tidak lagi melakukan pernyataan untuk mendesak dan menyesalkan tindakan Rusia di Ukraina.
Akunna Cook, seorang Petinggi di Kantor Urusan Bisnis Afrika, pada saat ini sedang berada di Senegal untuk melakukan dialog dengan Presiden Senegal yaitu Macky Sall yang sekaligus menjadi Ketua Uni Afrika.
Dalam kunjungannya, Cook memberikan pernyataan bahwa negara-negara di Afrika harus lebih melek terhadap dampak konflik Rusia-Ukraina terhadap Afrika.
Sebagai contohnya adalah Senegal yang melakukan impor Gandung dari Rusia dan Ukraina sebesar 57%.
Jika tidak dibenahi, maka akan berdampak lebih parah terhadap Senegal dan negara-negara Afrika lainnya.
(Muhamad Nurilham, Aljazeera)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi