Jumat, 15 Mei 2026, pukul : 23:46 WIB
Surabaya
--°C

Kebahagiaan dan Kesengsaraan

OLEH: Ibu Nyai DR. Hj. Mihmidaty Ya’cub

KEMPALAN: Pada dasarnya setiap manusia menginginkan memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Bahkan orang yang jahat sekalipun menginginkan kebahagiaan itu. Oleh karena itu setiap orang akan berusaha dengan segala cara demi meraihnya. Namun demikian, sebagai orang yang beriman, kebahagiaan itu haruslah diraih dengan cara-cara yang baik yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Kebahagiaan ditegakkan atas tiga pilar utama, yaitu : Ibadah kepada Allah (Tauhid), Isti’anah kepada Allah (Tawakal), dan Hidayah menuju jalan yang lurus (Ilmu dan amal). Imam Ibnu Qoyyim berkata, “Seorang hamba apabila bertekad untuk melakukan suatu perkara maka wajib atasnya untuk pertama kali melihat; apakah itu termasuk ketaatan kepada Allah SWT atau bukan? apabila ternyata itu bukan kataatan hendaklah tidak perlu dilakukan. Beliau juga berkata bahwa; Rahasia kebahagiaan ada tiga. Pertama, bersyukur atas nikmat Allah. Kedua, bersabar atas musibah. Ketiga, bertaubat dari maksiat. Bila ketiga hal ini ada pada diri seseorang, niscaya ia akan hidup bahagia, baik di dunia lebih-lebih di akhirat nanti.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Mudassir ayat 38-48 yang artinya, “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Kecuali golongan kanan. Berada di dalam surga, mereka saling menanyakan. Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. ‘’Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (Neraka) Saqar? Mereka menjawab, Dulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat. Dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin. Bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil), bersama orang-orang yang membicarakannyadan kami mendustakan hari Pembalasan. Sampai datang kepada kami kematian’’. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat.

BACA JUGA: Pengampunan Bagi yang Bertauba

Menurut Rasulullah SAW orang-orang yang bahagia itu antara lain adalah yang selalu mengucapkan ‘La ilaha illallah’ dengan ikhlas. Orang yang ikhlas disini dimaksudkan adalah orang-orang yang mampu mencegahnya dari hal-hal yang di haramkan oleh Allah SWT, senantiasa mentaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hartanya dipergunakan untuk Allah dan akhirat, kesehatannya dimanfaatkan untuk taat kepada Allah dalam rangka persiapan di akhirat.

Dalam hadist yang lain yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Hibban Rasulullah SAW bersabda, “Ada empat (tanda) kebahagiaan; Wanita shalihah, tempat tiggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang nyaman. Dan ada empat (tanda) kesengsaraan; Tetangga yang buruk, Wanita yang buruk, tempat inggal yang sempit dan kendaraan yang buruk.”

Banyak pendapat mengenai definisi kebahagiaan itu sendiri. Filosof Nietzche menganggap kebahagiaan adalah Ketika kekuatan yang kita punyai bertambah. Socrates mengatakan bahwa kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu menikmati kekurangan yang ada. Menurut Nashirudin al-Tusi, kebahagiaan dapat dicapai apabila seseorang telah mencapai kesempurnaan (kamaliah) yaitu mencapai tujuan penciptaannya. Secara logika, kebahagiaan tercapai ketika ada kesempurnaan, sedangkan kesempurnaan sama dengan kebaikan, maka kebaikan identik dengan kebahagiaan. Akibat logisnya adalah, bahwa orang baik, yang betul-betul baik akan merasa bahagia.

BACA JUGA: Akhlakul Karimah

Sementara itu orang yang sengsara biasanya, Lupa akan dosa-dosa yang sudah dilakukannya, sebaliknya senantiasa mengingat kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukannya padahal apa yang dilakukannya itu belum tentu diterima oleh Allah SWT. Orang yang sengsara senantiasa melihat dunia ke atas. Melihat kekayaan, kesuksesan, kekuasaan dan sebagainya di pandang dengan takjub, sementara urusan agama pandang ke bawah, dipandang sebelah mata.

Menurut hadist tersebut diatas, kita harus selalu bermohon kepada Allah SWT agar dijauhi dari empat tanda kesengsaraan hidup itu yaitu, Pertama tetangga yang jahat (buruk), baik perilaku maupun perangainya. Suka menyakiti dan membuat kesal dan sebagainya. Yang kedua isteri yang buruk (jahat),maksudnya isteri yang tidak shalihah. Menurut Al-Hakim kriteria isteri yang buruk atau tidak shalihah adalah; Jika dilihat membuat jiwa susah. Menjelekkan suami dengan lisannya, artinya bisa keburukan suami disebarkan kepada orang di luar rumah. Ketiga dan ke empat adalah tempat tinggal yang sempit dan kendaraan yang buruk.

Empat kriteria kebahagian dan kesengsaraan tersebut bukan menunjukkan bahwa hanya dalam batas itu kebahagiaan dan kesengsaraan itu. Cuma biasanya, orang akan bahagia jika memiliki ke empat hal itu, dan akan susah atau sengsara ketika memiliki empat hal yang lainnya. Orang yang berbahagia itu adalah apabila mendapatkan nikmat akan selalu bersyukur. Apabila ditimpa musibah atau cobaan, ia mampu istiqamah bersabar, dan bila terlanjur berbuat dosa, ia mempu menyadari dan segera bertaubat kepada Allah SWT. (*)

Transkrip: Adib Muzammil

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.