Oleh: Ibu Nyai Dr. Hj. Mihmidaty Ya’cub
KEMPALAN: Akhlak berasal dari bahasa Arab, dari kata Khuluk yang berarti tingkah laku, perangai atau tabiat. Secara terminologi (istilah), akhlak adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara mendasar untuk melakukan suatu perbuatan. Akhlak merupakan sebuah system yang mengatur tindakan dan pola sikap manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurut Islam, ada dua macam akhlak yaitu akhlakul karimah (akhlak terpuji) dan akhlakul mazmumah (akhlak tercela).
Menurut Imam Al-Ghazali, akhlak merupakan salah satu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat menimbulkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan tanpa adanya pertimbangan pemikiran lagi. Akhlak merupakan salah satu pondasi penting untuk orang-orang yang beragama. Oleh karena itu akhlak dan budi pekerti sangat dibutuhkan bagi setiap orang yang beragama dalam menjalani kehidupan di masyarakat. Untuk itulah Rasulullah SAW di utus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Akhlak juga dianggap sangat penting untuk kehidupan setiap muslim baik secara pribadi maupun masyarakat. Karena dengan akhlak seseorang dapat menyempurnakan kepribadiannya. Maka dari itu, setiap ajaran Islam berorientasi pada pembinaan dan pembentukan akhlak yang mulia (karimah). Akhlak menggunakan penentuan baik atau buruk perbuatan manusia dengan tolak ukur ajaran Al-Quran sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 15, “Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan.”
BACA JUGA: Nikmatnya Sabar
Akhlakul karimah adalah karakter yang terpuji dan baik yang merupakan norma atau aturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Akhlak tidak bisa di identikkan dengan; budi pekerti, etika, sopan santun, karena semuanya itu hanya terbatas hal-hal yang lahiriah saja yang hanya berkaitan dengan hubungan pergaulan antara manusia. Sementara akhlak mencakup Hubungan manusia dengan dirinya, hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Akhlak manusia kepada Allah SWT dan Rosul-Nya ialah bahwa manusia wajib melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Banyak berzikir kepada-Nya dan banyak bershalawat kepada Rosulullah SAW. Akhlak manusia kepada orang tuanya. Orang tua adalah wakil Allah SWT di bumi untuk menciptakan manusia. Allah SWT mewajibkan kita untuk taat dan berbakti kepada mereka.
Hal ini seperti dalam firman-Nya Surat Al-Isra’ ayat 23 yang artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Allah SWT juga menyegerakan siksanya di dunia bagi dua golongan manusia yaitu, Orang dang durhaka kepada orang tua dan para pezina.
Seringkali kita mendengar bahwa, setinggi apapun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tanpa dilengkapi dengan perilaku akhlak yang mulia, maka ilmu tersebut tidak ada artinya. Oleh karena itu sebagai seorang muslim, memiliki akhlak yang terpuji adalah merupakan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi. Apabila manusia itu buruk akhlaknya, kasar tabiatnya, buruk prasangkanya terhadap orang lain, maka itu sebagai pertanda bahwa orang itu akan hidup resah sepanjang hayatnya.
BACA JUGA: Ibadah Mahdhah dan Ghairu Mahdhah
Akhlak yang baik dan akhlak yang buruk, merupakan dua jenis tingkah laku yang berlawanan dan terpancar daripada dua sistem nilai yang berbeda. Kedua-duanya memberi kesan secara langsung kepada kualitas individu dan masyarakat. Individu dan masyarakat yang dikuasai oleh nilai-nilai yang baik akan melahirkan individu dan masyarakat yang sejahtera. Begitupula sebaliknya. Jika individu dan masyarakat dikuasai oleh nilai-nilai dan tingkah laku yang buruk, akan porak poranda dan kacau balau.
Orang-orang yang memiliki akhlak yang terpuji, dicintai Rasulullah SAW sebagaimana sabdanya, “Orang yang paling aku cintai dan paling dekat sengan tempatku kelak di hari kiamat adalah mereka yang memiliki akhlak yang mulia. Sementara orang yang paling aku benci dan tempatnya paling jauh dariku kelak di hari kiamat adalah mereka yang keras dan rakus, suka menghina dan sombong.” (HR. Tirmizi).
Lalu, adakah yang lebih membanggakan dan membahagiakan kita daripada menjadi golongan orang-orang yang paling dekat dan paling dicintai oleh Baginda Rosulullah SAW kelak di hari kiamat ? (*)
Transkrip: Adib Muzammil

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi