AI, Wapres, dan Budaya Baca

waktu baca 4 menit
Wakil Presiden Indonesia Gibran (*)

KEMPALAN: Artificial Intelligence atau dikenal juga sebagai kecerdasan buatan, merupakan bagian dari ilmu komputer yang mempelajari pengembangan mesin dan program komputer untuk dapat melakukan tugas-tugas yang membutuhkan kecerdasan mirip manusia. Kata “kecerdasan” berarti kemampuan untuk berpikir dan belajar, sedangkan “buatan” mengacu pada penggunaan teknologi yang diciptakan oleh manusia.

Dalam era teknologi yang begitu dinamis, AI semakin menjadi topik yang menarik dan penting. Banyak sektor, seperti industri, kesehatan, dan transportasi, telah mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Tujuannya adalah menciptakan sistem yang mampu berpikir, belajar, dan mengambil keputusan seperti manusia, bahkan dengan kualitas yang lebih baik.

AI juga menghadapi tantangan seperti etika, privasi, dan keamanan data. Meskipun demikian, potensi yang dimiliki oleh AI sangatlah besar. Dengan kemampuannya dalam menganalisis jumlah data yang besar dan memprediksi pola-pola yang sulit ditemukan oleh manusia, AI memiliki potensi untuk mengubah dan meningkatkan dunia kita.

Pada intinya AI adalah bagaimana kecerdasan buatan dapat memberikan dampak positif dalam berbagai bidang. Dari kemajuan teknologi ini, diharapkan akan muncul inovasi baru yang dapat membantu meningkatkan kualitas kehidupan dan efisiensi kita secara keseluruhan.

Wapres Gibran menyampaikan gagasan dengan sangat sederhana, misalnya di BINUS Univercity, Wapres Gibran meminta mahasiswa bisa adaptif dalam membangun peran melalui digitalisasi dan ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia.

Wapres juga mengapresiasi inovasi-inovasi mahasiswa Binus University yang menunjukkan bahwa AI bukan hanya soal teknologi tinggi, tapi bisa menjadi solusi konkret bagi masalah-masalah sosial, dan pendidikan.

Membaca adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin, pemimpin idealnya punya keluasan pengetahuan dan kedalaman ilmu. Pemimpin seharusnya bisa merekonstruksi ide gagasan dengan terstruktur dan sistematis. Tentunya selain budaya baca yang kuat pengalaman juga perjalanan panjang dan matang seoarang pemimpin mempengaruhi komunikasi dan karakter kepemimpinan.

Wakil Presiden kita belum merepresentasikan seoarang pemimpin yang ideal. memiliki kecerdasan, keterampilan kepemimpinan yang kuat dan keahlian dalam mengatasi permasalahan paraktis.

Dalam wawancara dengan Najwa Sihab terkait literasi budaya baca, Gibran menyampaikan tidak pernah membaca buku hanya membaca komik saja, artikel-artikel yang ringan, Gibran juga menyampaikan bahwa keluarganya tidak punya budaya baca.

Wakil Presiden yang menggemari Action Figure bukan buku, saat pindahan dari kantor Wali Kota Solo meja kerja Gibran dihiasi dengan Action Figure. Dalam sebuah acara pameran Multy Toys Mall of Indonesia, jejak digital Wapres Gibran menyampaikan kegembiraanya sejak 1998 sampai 2023 masih menggemari Action Figure dan mengkoleksinya, seharusnya Wapres mengkoleksi buku seperti para pemimpin pendahulu.

Pemimpin bangsa pada awal-awal kemerdekaan memang manusia teruji, Bung Hatta misalnya, disebut sebagai sosok yang menggandrungi ilmu pengetahuan, keseharianya tidak terlepas dari bacaan sampai disebut (blibliofil), di penjara Glodok Bung Hatta menyampaikan “Aku bisa hidup dimanapun, asal dengan buku”.

Kecintaan pada bacaan Bung Hatta dipupuk sejak kecil, Mat Etek Ayub Rais, seorang pengusaha mengenalkan Hatta kecil pada buku. Dalam otobiografinya Bung Hatta mengisahkan Mat Etek membelikanya buku-buku berbahasa Belanda kebanyakan adalah buku-buku ekonomi, Bung Hatta membaca beragam buku diantaranya Biografi, Filsafat, Agama, Sejarah, Politik.

Bung Karno juga tidak kalah gilanya terhadap buku, dalam otobiografinya Sukarno mengatakan seluruh waktunya digunakan untuk membaca, mengutip catatan Cidy Adams “disana aku bertemu dengan orang-orang besar, buah pikiranya menjadi buah pikiranku, cita-cita mereka menjadi dasar pendirianku”.

Putri Bung Karno, Rahmawati juga menyampaikan jika tidak ada tamu negara waktunya dibuat untuk membaca dan membaca, kamar tidur penuh dengan buku, ruang tamu sampai kamar mandi dipenuhi dengan buku, Ketika dalam penjarapun tidak terpisahkan dengan buku. Para Founding Fathers bangsa ini semua kutu buku, punya selera baca yang artistik.

Banyak para pemimpin bangsa kita yang juga membaca buah pikiran Plato, Plato dikenal sebagai salah satu pemikir besar yang menawarkan konsep gagasan yang radikal tentang struktur pemerintahan. Salah satu konsep utamanya adalah negara ideal yang dipimpin seorang filsuf. Dalam pandanganya, hanya filfus yang mampu mempin karena mereka memiliki kebijaksanaan, kebenaran, dan pemahaman mendalam tentang keadilan.

Pemimpin yang suka membaca buku maka ia mendalami kebenaran dan memiliki pengetahuan yang melampaui apa yang kasat mata. Pemimpin bukan hanya memahami realitas fisik, tetapi juga dunia ide, yang merupakan bentuk tertinggi dari eksistensi. Dalam dunia ide terdapat konsep-konsep keadilan, kebaikan, kebijaksanaan, sebgai landasan bagi seorang pemimpin untuk memimpin secara adil.

Wapres Gibran juga bisa mengakrabi buah pikiran Al-Ma’mun, yang begitu menggandrungi buku (pengetahuan), bahkan membayar penerjemahnya dengan emas seberat buku yang diterjemahnnya. Sang Raja mengatakan “buku sama berharganya dengan kemenangan dalam sebuah peperangan”. Khalifah Abbasiyah ketujuh 813-833 ini ahli agama, hukum, astronomi, dan filsafat, jika hidup dimasa kini sudah pasti mempelajari Artificial Intelligence.

Oleh kerena itu pemimpin wajib menempuh jalan sunyi literasi, supaya tidak gugup dan gagal dalam merefleksikan ide gasan melalui uacapan maupun tindakan. Ing Ngarso Sung Tulodo yang didepan memberi contoh. Wapres Gibran sebagai representasi pemimpin muda bisa belajar dari pawa Founding Fathers bangsa ini juga memberi teladan pada generasi muda, pemimpin seharusnya menjadi kompas mengakrabi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan baik.

Bambang Prakoso
Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS dan Pengurus ICMI Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *