Oleh: Isa Ansori (Kolumnis)
KEMPALAN: Mati rasa (emosional numbness) adalah kondisi ketika seseorang mengalami defisit respon ataupun reaktivitas emosional (Lindberg, 2021).
Sering kali, mati rasa emosional menghasilkan pembatasan sementara dalam kapasitas untuk merasakan atau mengekspresikan emosi.
Emotional numbness dapat terjadi sebagai akibat dari rasa sakit fisik atau emosional. Dalam upaya melindungi diri agar tidak disakiti lagi, melepaskan atau mematikan perasaan yang terkait dengan situasi tersebut adalah solusinya. Ketika ini terjadi, pengidap mati rasa akan merasakan kelegaan sementara.
Mati rasa akan menemukan momentumnya bila seseorang mempunyai ruang untuk mengekspresikannya, Freud menyebutnya sebagai kondisi fiksasi.
BACA JUGA: Anies dan Spirit Api Perjuangan Bung Karno
Mati rasa bisa merupakan sebuah ekspresi dendam terhadap sesuatu yang dianggap menyakiti. Sehingga supaya tidak teringat lagi oleh massa lalu yang tidak menyenangkan, maka salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mematikan rasa.
Mati rasa akan berbahaya bila itu dialami oleh seorang pemimpin. Bila sang pemimpin itu dendam terhadap massa lalu yang tidak menyenangkan, maka dia akan abaikan dan menjauh dari peristiwa yang bisa mengingatkan masa lalunya.
Akibat mati rasa, seseorang akan kehilangan empati terhadap orang lain dan menikmati bila melihat orang lain bersusah-susah.
Banyak contoh pemimpin mati rasa, misalkan kalau anda lihat pemimpin senang bagi bagi sesuatu kepada rakyat tapi senang dan menikmati kalau melihat rakyat berdesak-desakan, semakin melihat rakyat itu susah, maka akan semakin menyenangkan dan membuat rasa puas terhadap kesenangannya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi