KEMPALAN: BANYAK anak, banyak rezeki. Itulah kepercayaan lama orang Jawa yang sampai sekarang masih banyak dipercaya oleh sebagian orang. Pandangan itu dianggap kuno karena sudah tidak cocok dengan kondisi modern sekarang. Manusia modern hanya punya dua anak, atau malah tidak beranak sama sekali.
Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Elon Musk. Manusia terkaya di planet bumi, pemilik pabrik mobil listrik Tesla dan perusahaan penerbangan luar angkasa SpaceX ini sekarang tengah getol berkampanye supaya manusia modern mempunyai banyak anak. Lebih banyak anak, lebih baik. Begitu kata Musk.
Di akun Twitter-nya Musk mencuit ‘’Saya berharap semua orang punya banyak anak, dan selamat bagi yang sudah punya banyak anak’’. Begitu cuitan Musk. Berbagai komentar pun bermunculan. Paling banyak di antaranya mengecam kampanye Musk itu.
Kampanye ini memang terkesan anti-mainstream yang sangat mungkin tidak disukai oleh pasangan-pasangan muda. Pandangan bahwa banyak anak akan membawa banyak rezeki dianggap kuno. Dulu, di Indonesia masyarakat memercayai hal itu. Tiap anak akan membawa rezekinya masing-masing. Karena itu, semakin banyak anak, akan semakin banyak mendatangkan rezeki. Begitu keyakinannya.
BACA JUGA: Joshua dan Yusuf
Itulah sebabnya tidak mudah memperkenalkan program ‘’birth control’’ atau keluarga berencana di Indonesia. Di masa lalu, sebuah keluarga dengan anak di atas 10 orang adalah hal yang biasa. Rata-rata perempuan Indonesia bisa melahirkan sampai 12 anak senyampang masa produktifnya. Tetapi, bersamaan dengan itu, tingkat kematian bayi ‘’infant mortality’’ dan tingkat kematian ibu ‘’woman mortality’’ juga tinggi.
Selain didasari oleh keyakinan tradisional, hubungan anak dengan rezeki juga didasari oleh keyakinan agama. Tuhan telah menakdirkan manusia dengan rezekinya masing-masing. Karena itu tidak perlu takut kelaparan kalau punya banyak anak. Dengan dasar pemikiran itu, program keluarga berencana oleh sebagian ulama dianggap haram.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi