Dari Pengetahuan Menuju Prestasi, Dari Inovasi Menuju Pencapaian Dunia
SURABAYA-KEMPALAN — Peta jalan olahraga Indonesia memasuki babak baru. Di tengah persaingan global yang semakin ditentukan oleh kecepatan inovasi, kekuatan riset, dan kecanggihan teknologi, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat menetapkan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sebagai pilot project Sport Intelligence Indonesia. Penetapan ini bukan sekadar penunjukan sebuah perguruan tinggi, melainkan mandat strategis untuk memimpin transformasi pembinaan olahraga nasional menuju sistem yang berbasis ilmu pengetahuan, data, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Momentum bersejarah tersebut berlangsung dalam kegiatan Bedah Buku Sport Intelligence yang diselenggarakan pada Selasa, 7 Juli 2026, di Auditorium Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNESA, Surabaya. Forum ilmiah ini menjadi titik awal lahirnya gerakan nasional yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama pembangunan prestasi olahraga Indonesia.
Keputusan KONI Pusat menandai perubahan paradigma besar. Jika selama puluhan tahun prestasi olahraga lebih banyak bertumpu pada bakat, pengalaman, dan kerja keras, kini Indonesia mulai memasuki era ketika setiap keputusan kepelatihan, program latihan, hingga strategi pertandingan didukung oleh analisis ilmiah yang terukur.
Di berbagai negara maju, kemenangan tidak lagi semata ditentukan oleh siapa yang berlatih paling keras, melainkan oleh siapa yang mampu mengolah data paling akurat, membaca informasi paling cepat, dan mengambil keputusan paling tepat. Indonesia kini mulai menapaki jalur yang sama.
Mengusung tema “From Knowledge to Performance, From Innovation to World Achievement” atau “Dari Pengetahuan Menuju Prestasi, Dari Inovasi Menuju Pencapaian Dunia,” kolaborasi antara KONI Pusat dan UNESA menjadi simbol dimulainya gerakan nasional yang mengintegrasikan sport science, big data, biomekanika, fisiologi olahraga, psikologi olahraga, nutrisi, analisis performa, serta Artificial Intelligence sebagai fondasi pembinaan atlet Indonesia.
Rektor UNESA, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan KONI Pusat merupakan amanah besar bagi dunia olahraga nasional.
“Kami, insan olahraga Indonesia, bertekad membangun prestasi dunia melalui Sport Intelligence sebagai gerakan transformasi olahraga nasional. Kami percaya kejayaan olahraga masa depan dibangun bukan hanya oleh bakat dan kerja keras, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan, sport science, teknologi, inovasi, data, dan kecerdasan buatan.”
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang terhadap olahraga modern. Prestasi internasional tidak lagi lahir dari proses yang bersifat intuitif semata, melainkan melalui sistem yang mampu mengintegrasikan riset akademik dengan praktik kepelatihan di lapangan.
Belajar dari Negara-Negara Maju

Transformasi yang sedang dibangun Indonesia sesungguhnya mengikuti jejak negara-negara yang telah menjadikan Sport Intelligence sebagai tulang punggung prestasi olahraga mereka.
Australia melalui Australian Institute of Sport (AIS) telah lama mengembangkan sistem analitik performa atlet berbasis data, sensor biomekanika, pemantauan fisiologis, hingga pemanfaatan AI untuk mengoptimalkan latihan dan mencegah cedera. Pendekatan berbasis bukti tersebut menjadikan Australia konsisten berada di jajaran elite olahraga dunia.
Inggris membangun keberhasilan melalui investasi besar pada riset olahraga yang terintegrasi dengan teknologi. Menjelang dan sesudah Olimpiade London 2012, sistem analisis data, sport engineering, serta performance analytics menjadi faktor penting yang mengubah Inggris menjadi salah satu kekuatan utama olahraga dunia.
Jepang mengembangkan Sport Intelligence melalui perpaduan sport science, robotika, teknologi sensor, dan budaya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Persiapan menuju Olimpiade Tokyo memperlihatkan bagaimana data digunakan untuk meningkatkan efisiensi latihan, mengurangi risiko cedera, dan memperkuat kualitas pengambilan keputusan pelatih.
Sementara itu, Tiongkok membangun sistem pembinaan olahraga yang sangat terintegrasi. Artificial Intelligence, computer vision, big data, hingga analisis gerak dimanfaatkan sejak tahap identifikasi bakat usia dini, pengembangan atlet elite, hingga evaluasi strategi pertandingan. Integrasi antara pemerintah, lembaga riset, universitas, dan pusat pelatihan menjadikan teknologi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem olahraga nasional.
Pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa dominasi olahraga modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas atlet, tetapi juga oleh kualitas data, riset, inovasi, dan kemampuan menerjemahkan informasi menjadi keputusan strategis.
Indonesia kini mulai membangun fondasi menuju sistem serupa.

Momentum tersebut ditandai dengan Deklarasi Sport Intelligence Indonesia melalui penandatanganan memorandum bersama para pemangku kepentingan olahraga nasional. Deklarasi ini bukan sekadar dokumen seremonial, melainkan komitmen kolektif membangun ekosistem olahraga yang modern, profesional, adaptif, dan berorientasi pada prestasi dunia.
Gerakan nasional tersebut dibangun di atas lima pilar utama, yakni menjadikan Sport Intelligence sebagai fondasi modernisasi pembinaan olahraga; memperkuat sinergi pentaheliks antara pemerintah, organisasi olahraga, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat; mengembangkan pembinaan berbasis bukti ilmiah; membangun integritas olahraga yang bebas dari doping dan manipulasi pertandingan; serta mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu menjadi pelatih modern, analis performa, ilmuwan olahraga, dan praktisi berdaya saing global.
Sebagai implementasi nyata, UNESA segera mengintegrasikan Sport Intelligence ke dalam sistem pendidikan tinggi.
Wakil Dekan I FIKK UNESA, Prof. Dr. Gigih Siantoro, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa arahan Rektor UNESA akan diwujudkan melalui pengembangan mata kuliah baru pada Program Magister Ilmu Kepelatihan Olahraga dan Program Doktor Ilmu Keolahragaan.
Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori kepelatihan, tetapi juga dibekali kemampuan mengumpulkan, mengolah, memvisualisasikan, dan menganalisis data performa atlet menggunakan machine learning, Artificial Intelligence, analisis video pertandingan, pemetaan kekuatan lawan, hingga penyusunan strategi latihan berbasis evidence-based coaching.
Pengembangan kurikulum tersebut melibatkan sekitar 20 guru besar FIKK UNESA dari berbagai disiplin ilmu sehingga menghasilkan pendekatan multidisipliner yang menghubungkan sport science, teknologi informasi, kecerdasan buatan, ilmu kesehatan, psikologi, dan manajemen olahraga.
Lulusan program ini diproyeksikan memiliki kompetensi sebagai performance analyst, sport data scientist, sport technology specialist, konsultan pembinaan olahraga, hingga pengembang sistem kecerdasan olahraga yang mampu menjawab kebutuhan industri olahraga nasional maupun internasional.
Di tengah kompetisi global yang semakin kompetitif, Sport Intelligence bukan lagi sekadar inovasi, melainkan kebutuhan strategis. Analisis video pertandingan, identifikasi talenta sejak usia dini, pemetaan profil fisiologis atlet, pemantauan beban latihan secara real time, pencegahan cedera berbasis data, hingga evaluasi performa secara komprehensif telah menjadi standar baru pembinaan olahraga dunia.
Penunjukan UNESA sebagai pilot project oleh KONI Pusat mengirimkan pesan kuat bahwa Indonesia sedang membangun sistem olahraga masa depan. Prestasi tidak lagi dipandang sebagai hasil sesaat, melainkan sebagai buah dari ekosistem yang dibangun melalui ilmu pengetahuan, inovasi, kolaborasi, integritas, dan teknologi.
Lebih dari sekadar proyek, Sport Intelligence Indonesia adalah gerakan nasional yang mengubah cara bangsa ini memandang olahraga—dari intuisi menuju analisis, dari pengalaman menuju ilmu pengetahuan, dari kerja keras menuju kerja cerdas, dan dari mengejar kemenangan menuju membangun peradaban olahraga yang berkelanjutan.
Apabila gerakan ini dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan melahirkan atlet-atlet berprestasi, tetapi juga generasi baru pelatih, ilmuwan olahraga, analis performa, ahli kecerdasan buatan, serta inovator teknologi olahraga yang mampu membawa Merah Putih sejajar dengan negara-negara terbaik dunia.
Di titik inilah sejarah mulai ditulis. Bukan hanya tentang sebuah kampus yang dipercaya menjadi pelopor, melainkan tentang sebuah bangsa yang memilih menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan menuju kejayaan olahraga dunia.
Dari Surabaya, transformasi itu dimulai.
Dari UNESA, Indonesia menapaki era baru menuju podium dunia.(Ambari Taufiq/ M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi