Defisit itu muncul karena pemerintah berutang untuk membayar tunjangan sosial bagi orang-orang tua pensiunan yang sudah tidak produktif. Rasio utang Jepang tinggi tetapi ekonomi masih aman, karena kemampuan untuk membayar utang, debt to service ratio, masih terjaga. Jepang banyak berutang ke publiknya sendiri dan tidak banyak berutang ke luar. Ituah yang membuat fundamental ekonomi Jepang masih kokoh.
Anak-anak muda Jepang enggan menikah dalam usia dini. Kalau kemudian menikah mereka memutuskan menjadi DINK. Biaya hidup yang mahal menjadi salah satu alasan. Ancaman resesi ekonomi mungkin bisa diatasi dengan relatif mudah oleh pemerintah Jepang. Tetapi ancaman resesi seks ini bisa membuat pemerintah pusing tujuh keliling.
Hal yang sama sudah menjadi fenomena lama di Eropa dan Amerika. Negara lain di Asia yang sekarang dilanda resesi seks adalah Singapura dan Korea. Sama dengan Jepang, dua negara itu pertumbuhan ekonominya paling stabil di Asia. Tetapi, biaya hidup semakin mahal dan karenanya anak-anak muda enggan menikah dan tidak mau punya anak.
BACA JUGA: Kurban 024
China dulu terkenal dengan kampanye satu keluarga satu anak, karena jumlah penduduknya yang meledak sampai 1,4 miliar jiwa. Negara otoriter seperti China sangat mudah menjalankan program keluarga berencana semacam itu karena kontrol pemerintah yang mutlak dan ketat. Tapi, belakangan kampanye itu dikendorkan dan warga China didorong untuk mempunyai anak yang lebih banyak. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap fenomena resesi seks yang juga terjadi di China.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi