KEMPALAN: PADA tahun-tahun politik seperti sekarang apa saja bisa dianggap sebagai simbol politik yang bisa dijadikan sebagai spekulasi politik. Seekor sapi yang dijadikan kurban pada Idul Adha pun dihubung-hubungkan dengan momen perhelatan politik pemilihan presiden 2024.
Itulah yang terjadi pada Anies Baswedan. Entah sengaja, entah kebetulan. Seekor sapi yang diserahkan oleh Anies Baswedan untuk kurban diberi nomor 024 di badannya. Kontan, nomor ini dihubungkan dengan tahun 2024 sebagai momentum penyelenggaraan pemilihan presiden.
Tidak ada yang kebetulan dalam politik. Begitu kata Franklin D. Roosevelt. Jika terjadi sesuatu secara kebetulan hal itu pasti sudah direncanakan. Jadi, apakah sapi nomor 024 itu sudah direncanakan? Anies tidak menjawab ketika wartawan meminta konfirmasi. Wakil Gubernur Riza Patria menjawab bahwa tidak ada hubungan antara kurban dengan momentum politik. Kurban harus dilaksanakan secara ikhlas tanpa harus ada motif politik di baliknya.
Politisi M. Taufik yang dikenal sebagai pendukung Anies Baswedan juga menepis spekulasi yang menghubungkan sapi itu dengan momentum politik 2024. Tapi, para pengamat politik dengan sigap menyampaikan berbagai spekulasi politik berkaitan dengan sapi 024 itu.
Sapi bernomor 024 itu kebetulan berwarna dominan hitam. Hal itu diinterpretasikan sebagai isyarat bahwa Anies bisa menjadi kuda hitam pada pilpres 2024. Kalau Anies ingin memberi sinyal sebagai kuda hitam pada pilpres 2024 seharusnya Anies berkurban kuda bukan sapi. Tapi, itulah spekulasi politik, simbol apa bisa diinterpretasikan dan dikaitkan dengan apa saja.
BACA JUGA: Rajapaksa
Berat sapi jenis limosin yang mencapai 1,1 ton juga diinterpretasikan sebagai simbol bahwa Anies juga termasuk pemimpin ‘’kelas berat’’. Hal ini juga dikaitkan dengan hewan kurban milik Presiden Jokowi yang beratnya juga satu ton lebih. Selama ini, sapi kurban ‘’kelas berat’’ seolah-olah hanya monopoli Jokowi. Tapi kali ini Anies menunjukkan bahwa dia juga bisa memberikan kurban kelas berat, yang berarti Anies juga sama-sama kelas berat seperti Jokowi.
Tradisi politik feodalistis ala Orde Baru rupanya masih sangat hidup di Indonesia, sehingga ukuran dan berat sapi pun ada hirarkinya. Jika sang presiden berkurban sapi dengan berat satu ton maka wakil presiden berkurban dengan sapi yang beratnya di bawah satu ton. Para menteri berkurban sapi yang beratnya di bawah sapi wakil presiden, begitu seterusnya sampai ke level birokrasi yang paling bawah tinggal berkurban dengan seekor kambing kurus.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi