Jadi jangan berharap kata maaf, kalau ada rakyat yang mati akibat ulahnya. Karena semakin tragis sebuah kejadian akibat ulahnya, maka akan semakin memuaskan perasaan dendam terhadap masa lalunya.
Kalau sekarang Anda lihat rakyat antri minyak goreng, antri sembako, antri mengambil bantuan, semakin terlihat penuhnya antrian, bukan malah menjadikan mereka sedih, tapi justru sebaliknya, mereka akan semakin bahagia.
Sampai hari ini kita belum mendengar kata maaf dari presiden dan pejabat yang berwenang dinegeri ini, ketika membaca berita ada ibu-ibu dan anak-anak meninggal akibat mengantri minyak goreng. Justru orang seperti ini akan mencari hiburan dan memuaskan dirinya, misalkan dengan berkemah.
Suasana pandemi ini, korban sudah cukup banyak, tapi yang dilakukan oleh pejabat negeri ini bukan melakukan sesuatu yang taktis dan terukur, namun justru menakut-nakuti rakyat dengan berbagai macam varian, Ujung-ujungya berbisnis vaksin.
BACA JUGA: Bangkit Melawan Menangkan Anies Baswedan
Semakin rakyat merasa takut, maka akan membuat mereka semakin senang dan puas, sehingga kita tak akan pernah tahu kapan pandemi ini akan berakhir.
Kita merasakan mereka menikmati keadaan ini, indikatornya di tengah situasi pandemi ketika rakyat ketakutan dan berjibaku dengan nyawanya akibat virus covid 19 dan kebutuhan cari makan, justru kebijakan-kebijakan yang ada sering menjadikan rakyat sulit dan menderita.
Pembatasan aktivitas masyarakat dilakukan secara inkonsisten, satu sisi masyarakat dibatasi aktivitasnya, di sisi yang lain ada masyarakat yang berbisnis dilonggarkan.
Tentu kita tak ingin mendapatkan presiden yang masa lalunya tidak baik dan menimbulkan dendam dan mati rasa, antipati terhadap massa lalunya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi