KEMPALAN: Korban pertama dalam perang adalah kebenaran. Begitu kata sebuah adagium. Sejak zaman dulu sampai sekarang, perang akan banyak membawa korban, tetapi korban pertama adalah kebenaran. Berita yang simpang siur berseliweran, semua pihak mengklaim sebagai yang paling benar, dan karena itu kebenaran menjadi korban.
Perang Rusia melawan Ukraina sudah berlangsung hampir seminggu. Korban sudah berjatuhan, dan ada kekhawatiran perang akan meluas menjadi full scale war, perang skala penuh, yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar seperti NATO, pakta pertahanan Atlantik Utara dan Amerika Serikat.
Ada kekhawatiran akan terjadi perang dunia ketiga, karena Rusia juga akan dibantu oleh sekuutu-sekutunya. Perang berskala besar itu akan melibatkan perang nuklir yang destruktif karena Rusia punya senjata pemusnah masal itu di tangan Presiden Vladimir Putin.
Kabar yang berkembang Putin sudah menyiapkan pasukan nuklirnya untuk bersiaga, dan Putin sendiri sudah bersiaga dengan password senjata nuklir yang setiap saat bisa dia perintahkan untuk diluncurkan.
Perang berskala global dalam bentuk perang terbuka belum terjadi. Banyak kalangan pengamat militer yang berpendapat perang terbuka semacam itu tidak akan terjadi. Kedua pihak sama-sama menyadari bahwa perang nuklir tidak akan bisa dimenangkan oleh siapapun. Sebaliknya perang itu akan membawa kehancuran skala besar di kedua kubu.
BACA JUGA: Angie
Karena itu kedua pihak pasti sama-sama menahan diri. Ada kekuatan penahan, deterrence force, yang sama-sama membuat kedua kubu menahan diri. Kedua kubu menyadari ada kekuatan ‘’mutual assured destruction’’ kepastian kehancuran kedua pihak, jika perang terbuka skala besar terjadi.
Korban sudah mulai berjatuhan. Bukan cuma di Rusia atau Ukraina, tapi di seluruh dunia. Perang ini sudah menjadi perang global dan dampaknya sudah dirasakan oleh publik di seluruh dunia.
Di antara korban yang sudah mulai merasakan dampaknya adalah para penggemar sepak bola, terutama di Liga Premier Inggris yang mendukung klub Chelsea. Klub yang bermarkas di London ini menjadi klub sepak bola pertama yang menjadi korban perang. Pemilik klub Chelsea, taipan Rusia Roman Abramovich, memutuskan melego klub ini karena takut kena sanksi yang bisa membuatnya kehilangan klub itu.
Sebagaimana cabang olahraga lainnya sepak bola seharusnya netral dan imun dari politik. Tapi, terbukti tidak. Sepak bola erat kaitannya dengan politik lokal, regional, dan internasional. Dan ketika terjadi krisis internasional seperti perang Rusia vs Ukraina ini sepak bola menjadi korban.
BACA JUGA: Lord Luhut
Abramovich adalah sultan super crazy rich dari Rusia. Uangnya tidak berseri. Kekayaannya tidak habis tujuh turunan. Tetapi, perang membuat dia terancam miskin dan dimiskinkan. Kalau otoritas Inggris membekukan aset-set Abramovich maka Chelsea akan lepas dari kepemilikannya. Kalau langkah itu diikuti oleh sekutu-sekutu Inggris dan Amerika di Eropa dan seluruh dunia, Abramovich bisa kehilangan semua kekayaannya yang dia simpan di Eropa.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi