KEMPALAN: Politisi dan selebritas Angelina Sondakh hari ini (3/3) menghirup udara bebas setelah menjalani 10 tahun hidup di penjara karena kasus korupsi. Di depan pintu penjara dia menangis, meminta maaf kepada keluarga dan publik, dan menyatakan menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya.
Angie, begitu Angelina Sondakh disapa, selalu menjadi magnet bagi media. Selama di penjara dia tetap menjadi berita, terutama berhubungan dengan kehidupan pribadinya. Begitu keluar dari penjara Angie pun menjadi buruan media. Ia mendapat liputan luas saat keluar dari pintu penjara, dan tetap dibuntuti media ketika nyekar ke makam suaminya, politisi-selebritas Adjie Massaid.
Angie kapok dengan kasus korupsinya. Ia juga mengatakan kapok bermain politik. Ia menjadi salah satu dari the rising star dalam politik Indonesia satu dekade silam. Ketika itu Partai Demokrat menjadi the ruling party, dan Angie menjadi salah satu anggota DPR.
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden ketika itu dan sekaligus ketua Partai Demokrat, merekrut anak-anak muda yang berbakat cemerlang ke dalam partai. Muncullah generasi politisi muda yang brlian dari berbagai latar belakang seperti Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Muhammad Nazzarudin, Angelina Sondakh, dan duo anak SBY, Edhy Baskoro dan Agus Harimurti Yudhoyono.
BACA JUGA: Mantan Putri Indonesia Keluar dari Penjara dengan Tampilan Modis
Anak-anak muda itu muncul memberi harapan akan hadirnya generasi baru politisi Indonesia yang beda dengan generasi sebelumnya. Anas Urbaningrum seorang aktivis dan intelektual yang cemerlang, Andi Mallarngeng seorang akademisi yang pintar, Nazzarudin seorang pengusaha yang sukses, dan Angie seorang selebritas yang cerdas.
Anak-anak muda itu menjadi bintang panggung baru, mendapat sorotan spotlight yang gemebyar, tetapi kemudian tidak kuat ‘’nyonggo drajat’’ tidak kuat menahan derajat, dan akhirnya bersama-sama terperosok oleh godaan korupsi.
Anak-anak muda itu terlibat dalam serangkaian korupsi dalam proyek pembangunan Wisma Atlet di Hambalang. Nazzaruddin yang menjadi bendahara umum Partai Demokrat ditangkap KPK pada 2010 di persembunyiannya di Cartagenna, Kolombia.
Penangkapan Nazaruddin kemudian mengungkap rangkaian korupsi yang melibatkan anak-anak muda politisi Partai Demokrat itu. Mereka semua politisi muda yang cerlang yang seharusnya punya masa depan yang panjang dan cerah.
BACA JUGA: Angelina Sondakh Keluar Penjara, Minta Maaf pada Masyarakat Indonesia
Tapi, korupsi menghancurkan karir dan masa depan anak-anak muda itu. Ketika itu Partai Demokrat harus menanggung malu karena baru saja membuat iklan promosi anti-korupsi besar-besaran. Dalam iklan promosi itu, Anas, Angelina, dan kawan-kawan menjadi bintang iklan dengan mengutip narasi ‘’Katakan Tidak pada Korupsi’’ sambil menolakkan tangan.
Ketika kemudian Anas dan kawan-kawan ditangkap, publik mengolok-ngolok iklan Partai Demokrat itu. Jargon
‘’Katakan Tidak pada Korupsi’’ dipelesetkan menjadi ‘’Katakan Tidak pada Korupsi Kalau Sedikit’’.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi