Oleh: Isa Ansori (Kolumnis)
KEMPALAN: Suatu saat Umar Bin Khattab sebagai seorang pemimpin berkeliling untuk melihat suasana kota dan masyarakatnya. Perjalanan Umar terhenti ketika dia melihat tangis anak-anak di sebuah rumah kecil.
Umar mengamati percakapan antara anak-anak dengan sang bunda.
“Lapar, lapar bunda”, teriak sang anak.
“Ya sebentar, kita tunggu, masakan ini matang ya”, Jawab sang ibu sambil mengaduk aduk tungku yang sudah diisi.
Mendengar jawaban sang ibu, anak-anak terdiam sambil menunggui masakan sang ibu masak.
Umar pun tak beranjak dari tempat itu sambil mengamati apa yang terjadi di rumah itu.
Selang beberapa lama, sang anak mulai menangis lagi dan teriak, lapar, lapar. Mendengar teriakan sang anak, si ibu pun kelihatan gundah dan bingung, sambil sesekali menenangkan dan mengaduk-aduk tungku agar anak-anak diam.
Melihat apa yang dilakukan ibu dengan raut muka yang gelisah, Umar menaruh curiga gerangan apa yang dimasak oleh sang ibu.
Umar akhirnya mengetuk pintu dan masuk kedalam rumah sambil menyapa sang ibu.
Umar bertanya kepada sang ibu, “Wahai ibu, gerangan apa yang engkau masak, kok saya amati lama tidak matang-matang”.
Sang ibu menjawab, “Wahai bapak, saya memasak ini, sambil menunjukkan batu dari tungku, agar anak-anak ku tenang dan diam”.
Sang ibu juga mulai mencerca, betapa dholimnya Umar sang pemimpin tidak tahu rakyatnya seperti ini, untuk makan saja susah, tanpa mengetahui bahwa yang dihadapi sekarang adalah sang pemimpin itu sendiri, Umar Bin Khattab.
Umar dengan sabar mendengarkan apa yang disampaikan oleh ibu, sambil teriris-iris hatinya betapa dahsyatnya nanti pertanggung jawaban di hadapan Allah sebagai pemimpin. Tak terasa Umar meneteskan air matanya.
Umar bergegas pulang malam itu, dan akan balik lagi, karena takutnya akan pertanggung jawaban dihadapan Sang Khalik nanti.
Malam itu Umar bergegas menurunkan berkarung-karung gandum dan memikulnya untuk diantarkan kepada ibu sebagai rakyatnya.
Ketika sedang memikul gandum malam itu, salah seorang pengawal melihat dan meminta sang khalifah Umar untuk menurunkannya dan beliau menggantikan untuk memikulnya. Umar menjawab, “Engkau tak akan bisa menggantikan pertanggung jawabanku kelak dihadapan Allah, biarlah ini aku yang memikulnya, karena ini adalah tanggung jawabku kelak dihadapan Allah”.
Sampailah Umar di rumah sang ibu dan menyampaikan salam kepada Ibu dan permintaan maaf sang Kahlifah.
Sang ibu ragu dan curiga, bahwa pria dihadapannya adalah Sang Khalifah Umar itu sendiri. Akhirnya ibu itu menangis dan meminta maaf atas apa yang telah diucapkan tadi.
Begitulah teladan seorang pemimpin sejati yang peduli dan hadir disaat rakyatnya sedang membutuhkan.
Menjelang pilpres 2024 kita dihadirkan adanya banyak sosok calon presiden, tentu sebagai pemilih kita tak boleh lagi tertipu dengan sosok yang seolah-olah merakyat tapi justru menindas, seolah-olah melindungi tapi justru bekerja untuk kepentingan oligarki.
Kita tak butuh pemimpin seolah-olah dan pemimpin yang penuh dengan pencitraan, pemimpin yang tak mampu memenuhi janji. Kita butuh pemimpin yang sesungguhnya, pemimpin yang betul-betul peduli mampu menghadirkan apa yang dibutuhkan rakyatnya. Kita butuh pemimpin yang hadir di saat rakyat membutuhkan.
Jakarta menjadi contoh hadirnya seorang pemimpin yang layak diteladani. Pemimpin yang selalu hadir disaat rakyat membutuhkan.
Anies, Sang Gubernur DKI Jakarta, mampu menghadirkan contoh baik itu, contoh betapa bertanggung jawabnya seorang pemimpin, ketika masyarakat membutuhkannya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi