Wualah. Inilah pangkal soalnya. Duduk perkaranya: konsumsi kedelai (bahan utama tahu dan tempe) 3 juta ton pertahun. Sedangkan kemampuan produksi kita hanya sekitar 300 ribu ton.
Menurut catatan, Indonesia pernah berhasil melakukan swasembada kedelai pada 1992. Hasilnya, 1,8 juta ton. Tetapi sejak itu, terjadi tren penurunan hingga hanya 300 ribu ton sekarang.
Selisih bahan pokok dalam jumlah besar itu selama ini ditutupi oleh impor.
Sekarang impor terkenda pula oleh cuaca di sebagian negara pengekspor, seperti gangguan La Nina di Argentina. Di Cina, lain lagi. Mendadak ternak babi di sana menyukai keledai. Otomatis negara pengekspor keledai terbesar itu pun mengutamakan produksinya untuk kebutuhan dalam
negeri mereka.
Maka, lengkaplah penderitaan kita di sini. Para penyuka tahu dan tempe.
Rizal Ramli: Asal mangap
“Di Cina, awalnya peternakan babi di sana tidak makan kedelai, tapi sekarang makan kedelai. Apalagi baru-baru ini ada lima miliar babi di peternakan Cina itu makan kedelai,” kata
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, saat berada di Makassar, seperti dikutip dari Antara, Jumat (18/2).
“Sekarang ini kami sedang menyiapkan mitigasinya dan kesempatan pertama minggu depan akan kami umumkan kebijakannya seperti apa,” terang Lutfi.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi meminta pemerintah segera mengambil langkah taktis untuk mengintervensi isu mahalnya harga dan kelangkaan kedelai yang setiap tahun terjadi di Indonesia.
Menurutnya, isu kedelai sudah menjadi isu klasik yang terus timbul setiap tahun dengan dibarengi ancaman mogok para pedagang.
Dedi mendorong pemerintah mengambil langkah efektif dan nyata dari Kemendag dan Kementan. Sehingga misalnya, kalau ada kesepakatan intervensi tanam kedelai, harus ada jaminan pembelian kedelai itu. Yang terjadi, seringkali petani mengalami kerugian karena sudah menanam kedelai tapi tak ada yang beli.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi