Kamis, 28 Mei 2026, pukul : 09:49 WIB
Surabaya
--°C

Bangsa Tempe

Itulah paradoks kesetaraan. Indonesia tahu dan sadar diri bahwa sebagai junior partner tidak mungkin menuntut kesetaraan yang lebih tinggi yang dinikmati oleh negara-negara senior partner seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan negara-negara Uni Eropa. Rasa tahu diri itu kita terima sebagai bagian dari hegemoni.

Dengan penuh rasa tahu diri Indonesia melakukan konformintas, penyesuaian diri, dengan aturan-aturan yang sudah disepakati organisasi. Negara-negara anggota harus menjadi negara yang terbuka terhadap perdagangan internasional, ramah terhadap investasi asing, dan terbuka terhadap aliran modal.

Untuk menjamin konformitas itulah Indonesia menciptakan Onibus Law demi menjamin berlangsungnya aturan main yang sudah disepakati bersama. Globalisasi menjadi permainan bersama yang dirayakan bersama dengan penuh kegembiraan dan suka cita.

BACA JUGA  Lompati Batas Negara: Labschool UNESA Resmi "Kawinkan" Kurikilum dengan Taiwan Cetak 'Global Citizens'

Itulah yang bisa menjelaskan mengapa Indonesia yang menjadi salah satu produsen terbesar kelapa sawit dunia tidak bisa mengontrol harga minyak goreng di dalam negeri. Kita yang punya kelapa sawit tapi kita tidak bisa mengatur harganya. Semua didikte oleh mekanisme pasar internasional berdasarkan prinsip ekuilibrium pasar dalam mekanisme ‘’the invisible hand’’.

Ketika kita menyaksikan ratusan ibu berdesak-desakan saling sikut berebut minyak goreng, ketika kita menyaksikan ratusan orang mengantre dengan sabar untuk mendapatkan jatah minyak goreng murah, di situlah kita mendapatkan gambaran mengenai penjajahan modern dalam bentuk hegemoni.

Bangsa Indonesia menikmati tempe secara turun-temurun sebagai bagian dari budaya kuliner yang sudah menjadi milik bangsa selama berabad-abad. Ketika tempe kemudian menghilang karena para perajin melakuka boikot, kita pun tersadar bahwa untuk mempertahankan keberadaan tempe pun kita tidak cukup punya kekuatan.

BACA JUGA  Mengapa NPD Tak Suka di Rumah ?

BACA JUGA: Bodoh

Kedelai sebagai bahan baku tempe tiba-tiba menjadi komoditi yang mahal yang harganya tidak terjangkau. Kedelai yang di masa lalu bisa kita produksi sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sekarang harus kita impor dari pasar internasional.

Sebutan bangsa tempe yang dibuat oleh Bung Karno terasa sangat ironis sekarang. Rasanya kita ini memang bangsa tempe yang lembek, yang terus-menerus menjadi korban hegemoni. (*)

Editor: Freddy Mutiara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.