Senin, 11 Mei 2026, pukul : 01:22 WIB
Surabaya
--°C

Anggota Dewan Yang Terhormat, Anda Wakil Rakyat, Bukan Dewa

Bisa dimulai dari mobil dinas yang menggunakan nomer khusus. Setiap anggota diperlengkapi beberapa tenaga staf. Rumah, mobil, pulsa handphone, listrik, air, dan macam-macam lagi ditanggung negara. Mungkin hanya pempers yang tidak.

Di masa pandemi, mereka bebas melenggang tanpa karantina setelah perjalanan luar negeri. Punya hak imunitas. Maksudnya, tidak mudah dijerat kasus pidana. Terbukti dalam kasus Arteria Dahlan itu. Walaupun, lebih separuh warga negeri bereaksi marah atas arorgansi anggota DPR yang berpotensi memecah belah bangsa, toh kasusnya selesai hanya dengan permintaan maaf. Berbagai pihak yang mengadukannya ke polisi atas dugaan ujaran kebencian, hanya bisa kecele. Polisi menghentikan penyelidikan karena seperti disebut di atas, ada hak imunitas yang melekat pada dirinya.

BACA JUGA: Kisah Penyanyi Fryda Lucyana, Hattrick Tiga Kali Terjangkit Covid-19

Anda heran? Jangan heran. Sebelumnya, beberapa menteri juga pernah distrap tidak boleh hadir di parlemen.

Tampaknya memang begitu “fitrah” yang dimaui mereka: berlaku seperti dewa. Arogan dan egois. Seperti hanya berprinsip “Wal laba wal bala” Artinya, sejauh laba (menguntungkan) itu hak mereka. Sedangkan sebaliknya “bala” (risiko) biar kalian, rakyat saja yang pikul.

Bahkan, ada yang mengangap dirinya setara Presiden untuk mengimpresikan sebagai mahluk” tak tersentuh”. Seperti yang pernah dilakukan Hillary Brigitta Lasut, anggota DPR-RI termuda dari Fraksi Partai Nasdem. Ya, ampun. Padahal, yang memikul seluruh konsekuensi finansial atas segala kebutuhan hidup mereka selama berdinas adalah negara (rakyat).

Perilaku wakil rakyat kita memang bikin kita semua miris. Mereka bukan Dewa, tetapi anggota Dewan. Yang di dalam sistem demokrasi kita mereka adalah bagian dari penyelenggara yang mestinya menjadi pengayom dan teladan masyarakat. Namun, justru mereka yang sering memicu gaduh di negeri ini. Karena arogansi maupun korupsi.

Sejak reformasi, entah berapa ratus anggota terhormat itu yang digelandang masuk bui.
Yang bikin gaduh karena kasus arogansi, lebih sulit menghitungnya. Presiden KH Abdurahman Wahid saja sampai sampai pernah menjuluki mereka memang bermental seperti anak taman kanak-kanak.
Tentu saja tidak semua seperti itu.

Masih banyak yang bisa menunjukkan sikap kenegarawanan.

Namun, seperti kata pepatah “nila setitik rusak susu sebelanga“, seperti itulah hukum sosial berlaku di dalam masyarakat. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.