Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 11:37 WIB
Surabaya
--°C

Bahlil

Para pengusaha yang mewakili kekuatan modal adalah kekuatan penting yang bisa menentukan arah demokrasi. Tetapi, kapitalisme di Indonesia berbeda dengan kapitalisme di Barat yang lahir dari spirit protestanisme dan calvinisme. Kapitalisme Barat melahirkan revolusi industri yang memunculkan kelas menengah ekonomi baru yang kemudian menjadi kekuatan utama demokrasi.

Di Indonesia dan Asia Tenggara kapitalisme yang murni dan independen seperti di Barat tidak pernah benar-benar ada. Kapitalisme Indonesia adalah kapitalisme semu. Dalam studi Yoshihara Kunio (1988) kapitalisme Indonesia adalah bagian dari kapitalisme Asia Tenggara yang lahir secara semu dan tidak punya karakter independen.

Kapitalisme semu disebut sebagai ‘’Ersatz Capitalism’’ kapitalisme palsu, atau kapitalisme kawe yang oleh Kunio dibedakan dengan istilah kewirausahaan. Orang-orang Indonesia dan Asia merasa risi dengan sebutan kapitalis meskipun sebenarnya mereka adalah kapitalis.

Dalam definisi Kunio kapitalisme merupakan kegiatan ekonomi yang skala operasinya besar dengan modal yang besar pula. Kunio juga menggunakan definisi kapitalisme konvensional yang menekankan adanya kepemilikan usaha pribadi dan usaha bebas.  Sedangkan wirausaha hanya menjalankan bisnis dalam lingkup kecil dengan modal yang terbatas.

Yang dimaksudkan dengan kapitalisme semu adalah kemunculan kapitalisme di Asia Tenggara yang didominasi oleh modal asing. Sifat semu dalam kapitalisme Asia Tenggara berasal dari fakta bahwa perkembangan kapital Asia Tenggara terbatas pada sektor fabrikan dan eksplorasi bahan mentah.

Kapitalisme Asia Tenggara disebut semu karena didominasi oleh kapitalis China. Para kapitalis lokal di negara-negara Asean disebut semu karena mereka tidak menunjukkan semangat entrperneurship yang gigih, tapi lebih banyak bergantung kepada proyek-proyek pemerintah.

Kapitalis Indonesia masuk dalam kategori ini. Mereka adalah para pemburu rente (rent seeker) yang memburu proyek-proyek pemerintah sebagai sumber pekerjaan utama. Bersamaan dengan itu para pemburu rente ini juga memburu proteksi dari pemerintah, memburu konsesi, lisensi, dan hak monopoli. Dalam praktiknya kapitalisme semu ini menimbulkan berbagai bentuk penyelewengan seperti kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Aktivis demokrasi Ubedillah Badrun yang melaporkan dua anak Jokowi, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengutip pandangan Yoshihara Kunio ini dalan laporannya. Dalam kategori ini Kaesang yang menjadi pengusaha dadakan termasuk dalam kelompok kapitalis semu yang mendapat suntikan modal besar dari perusahaan pemburu rente dari pemerintah.

Merujuk pada pandangan Yoshihara Kunio, para pengusaha Indonesia dari berbagai kelas dan golongan sampai sekarang masih masuk dalam kelompok kapitalis semu. Fenomena para pengusaha yang masuk dalam gerbong kekuasaan semakin memperkuat bukti adanya kapitalisme semu.

Para pengusaha yang sekarang menjadi pemilik partai juga menjadi bukti kuatnya kapitalisme semu di Indonesia. Fenomena ‘’peng-peng’’ penguasa-pengusaha menjadi hal yang umum. Mereka memburu rente, proteksi, koneksi, konsesi, dan lisensi dari kekuasaan. Karena itu sangat sulit mengharapkan mereka menjadi kekuatan kelas menengah independen yang menjadi kekuatan utama demokrasi.

Para pengusaha muda seperti Bahlil dan kawan-kawannya itu juga menjadi bagian dari kapitalisme semu. Anak-anak muda itu diharapkan bisa menjadi pengusaha yang profesional dan mandiri dari kekuasaan.

Dalam praktiknya ternyata mereka sama saja dengan generasi peng-peng yang hobi memburu rente dan proteksi. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.