Kamis, 28 Mei 2026, pukul : 07:25 WIB
Surabaya
--°C

ICMI dan Politik Etika Ditengah Narasi Sejarah Empu Gandring, Ken Arok dan Kebo Ijo

M. Isa Ansori

Pemerhati Persoalan-persoalan Kemasyarakatan

KEMPALAN: Baru saja terjadi perhelatan kongres nasional ICMI yang kemudian terpilih Prof. Dr, Arif Satria yang juga merupakan rektor IPB. Hal yang sama terjadi di Wilayah Jawa Timur, musyawarah wilayah juga mengantarkan Dr. Ulul Albab sebagai nakhoda ICMI Jatim. Sebagai kelompok cendikiawan, ICMI bisa diibaratkan sebagai Begawan yang menciptakan tatanan, meracik bahan untuk disajikan dan dilaksanakan. Tentu dalam kisah perebutan kekuasaan yang melibatkan Tunggul Amaetung, Ken Arok, Ken Dedes, Empu Gandring dan Kebo Ijo.  Ada sisi intrik dan kelicikan sebagai sebuah strategi dalam merebut kekuasaan. Saya tidak akan hendak mengajak untuk meneladani hal–hal licik yang terjadi dalam kisah perebutan kekuasaan ini, tetapi setidaknya kita bisa mempelajari bagaimana merebut kekuasaan sebagaimana Arok pernah melakukan dan tidak banyak yang mengetahui pada zamannya.

Jujur harus diakui bahwa Arok adalah tipologi politisi yang cerdas kalau boleh juga dikatakan sebagai politisi yang licik. Arok mempunyai misi dan visi yang jelas untuk menduduki tampuk pimpinan di kerajaan Tumapel. Arokpun menjabarkan langkah – langkah mewujudkan visi dan misinya dengan langkah yang jelas dan terukur. Langkah pertama yang dia lakukan adalah bagaimana bisa membunuh Tunggul Amaetung, lalu mempersunting Ken Dedes. Secara sistimatis dia susun langkah – langkahnya. Pertama yang dia lakukan adalah membuat alat berupa keris untuk mewujudkan langkah pertamanya. Mulailah dia mengunjungi Empu Gandring sebagai seorang resi. Empu Gandring yang dikenal sebagai resi dan pendeta, tentu dengan kejujurannya , dia akan melayani siapapun yang datang untuk meminta bajntuannya. Kejujuran Empu Gandring mulailah dimanafatkan oleh Arok agar permintaanya dikabulkan. Dengan berdalih sebagai seorang ksatria, dia butuh senjata (keris) untuk melindungi dirinya, Empu Gandring pun tak keberatan membuatkannya. Setelah keris didapat, hal yang pertama dia pamerkan kepada Kebo Ijo yang mempunyai watak suka dipuji dan suka pamer atas sesuatu yang melekat pada dirinya. Kebo Ijopun memamerkan dan mengakui sebagai miliknya. Arok pun tersenyum dan bangga atas sikap Kebo Ijo. Langkah pertama dia pun berhasil dengan baik, semua orang mengenal keris yang kelak akan digunakan untuk membunuh Tunggul Amaetung adalah milik Kebo Ijo.

BACA JUGA  Lompati Batas Negara: Labschool UNESA Resmi "Kawinkan" Kurikilum dengan Taiwan Cetak 'Global Citizens'

Langkah kedua membunuh Tunggul Amaetung pun dia lakukan. Tanpa sepengetahuan Kebo Ijo, Arok mengambil keris tersebut untuk membunuh Tunggul Amaetung, langkah kedua pun berhasil dengan baik dia lakukan dan bisa diduga tersangkanya pastilah Kebo Ijo. Seolah sebagai  satria yang berjasa maka dia pun menangkap Kebo Ijo dan membunuhnya untuk menghilangkan jejaknya. Kebo Ijo pun menjadi korban kedua dari kelicikan Arok. Arok mulailah  memegang tampuk pimpinan Tumapel dan mempesunting Ken Dedes. Lalu apa peran Dedes dalam peristiwa ini? Ken Dedes dikenal perempuan yang cantik namun sayangnya dia sudah diperistri oleh Tanggul Amaetung. Ketertarikan Arok terhadap Ken Dedes untuk mempersuntingnya, inilah yang menjadi pemantik untuk membunuh sang raja. Sekali dayung dua pulau terlampaui.

BACA JUGA  Pangdam Brawijaya Cek Lokasi Yonif Tempur dan Jembatan Perintis Garuda: Benteng Ekonomi Rakyat di Ponorogo

Peristiwa perebutan kekuasaan di Tumapel, harus diakui sebagai sejarah kudeta pertama di Nusantara. Kudeta. Meminjam istilah Pram , ini merupakan kudeta  merangkak yang mengunakan banyak tangan untuk memukul lawan dan merebut kekuasaan. Kudeta licik tapi cerdik. Berdarah tapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada mendapat penghormatan dan kebanggaan karena kepentingan politiknya bisa berjalan. Melibatkan gerakan militer (gerakan Gandring) sebagai pembuat senjata. Menyebarkan syak wasangka dan mengadu domba antar kawan dan dengan lawan, mempublikasi berita–berita bohong dan memanasi perkubuan. Para aktor bekerja seperti hantu, tak diketahui, kalau sampai diketahui pun akan dicarikan dalih pembenar demi kepentingan politiknya.

Arok adalah gabungan dari simpul dari mesin paramiliter licik dan politisi sipil yang rakus dan cerdik. Melalui kecerdikannya, Arok pun tak perlu memperlihatkan tangannya yang berlumuran darah mengiringi kejatuhan Amaetung. Politik memang tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik ibarat permainan catur diatas papan bidak yang butuh kecermatan dan kejelian. Pancingan dan umpan yang diberikan untuk mendapatkan keuntungan besar tentu menjadi sebuah strategi dalam memenangkan pertarungan. Tak ada kawan dan lawan, yang ada adalah kepentingan dan kekuasaan. Bila sudah didapat dan dimenangkan, akan digunakan untuk diletupkan sejadi–jadinya.

Politik Etika Kecendekiawanan…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.