Kamis, 28 Mei 2026, pukul : 08:18 WIB
Surabaya
--°C

ICMI dan Politik Etika Ditengah Narasi Sejarah Empu Gandring, Ken Arok dan Kebo Ijo

Politik Etika Kecendekiawanan

Sebelum membahas peran politik cendikiawan, ada baiknya memahami pengertian cendikiawan. Cendekiawan dipahami sebagai orang yang memiliki ciri-ciri bermoral tinggi (termasuk di dalamnya orang yang bergelar akademik), beriman, berilmu, ahli/pakar, memiliki kepekaan sosial, peduli terhadap lingkungan, hati-hati penuh pertimbangan, jujur, rendah hati, adil, dan bijaksana. Oleh beberapa pemikir sosial dan politik dijelaskan dalam bahasa masing-masing, misalnya seperti dilakukan oleh Julien Benda, Karl Mannheim, Bung Hatta, dan A. Gramsci, dan lain–lain.

Julien Benda menulis bahwa cendekiawan sejati merupakan “semua orang yang kegiatannya pada intinya bukanlah mengejar tujuan praktis, tetapi yang mencari kegembiraan dalam mengolah seni atau ilmu atau renungan metafisik. Mereka menolak gairah politik dan komersialisasi. Antonio Gramsci memberi istilah Intelektual Tradisional dan Intelektual Organik. Intelektual Tradisional merupakan Intelektual yang  telah terkontaminasi atau tidak lagi bersifat murni demi rakyat banyak karena tidak mampu menyampaikan suatu kebenaran yang menjadi tugasnya karena telah terkooptasi kedalam ranah kekuasaan. Sedangkan Intelektual organik merupakan pemikir yang dihasilkan oleh setiap kelas secara alamiah walaupun tidak melalui jenjang-jenjang pendidikan Formal.

BACA JUGA  Sidoarjo Memilih: Pesan Dingin Bupati Subandi di Tengah Hangatnya Pilkades Serentak 2026

Setidaknya dari pemahaman tersebut bisa dipahami bahwa gerakan kecendikiawanan adalah gerakan menciptakan tatanan yang bermoral baik berupa gagasan maupun dalam pelaksanaan. Sehingga sejatinya selain memproduksi gagasan yang bermoral, cendikawan juga tidak ditabukan untuk terlibat dalam penerapan gagasan baik tersebut.

Keterlibatan cendekiawan dalam semangat baik pada dasarnya sejalan dengan apa yang menjadi misi kenabian yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW. Tidaklah beliau diutus ke dunia ini kecuali dalam rangka untuk menebarkan moralitas yang baik, moralitas yang sejalan dengan misi kenabian untuk menciptakan tatanan yang rahmatan lil aalamiin.

ICMI yang sejak kelahirannya dimaksudkan sebagai sebuah gerakan intelektual dan merawat tradisi intelektual tentu saja tidak bisa menjauh dari persoalan–persoalan  yang menyangkut persoalan masyarakat. Meminjam istilah yang disampaikan oleh Bung Hatta dalam pidatonya yang menggambarkan fungsi dan peran Cendekiawan sebagai kaum intelektual yang mempunyai tanggung jawab moril terhadap perkembangan masyarakat. Apakah ia duduk di dalam pimpinan negara dan masyarakat atau tidak, ia tidak akan terlepas dari tanggungjawab itu. Sekalipun berdiri di luar pimpinan, sebagai rakyat-demokrat ia harus menegur dan menentang perbuatan yang salah, dengan menunjukkan perbaikan menurut keyakinannya.

BACA JUGA  Pangdam Brawijaya Cek Lokasi Yonif Tempur dan Jembatan Perintis Garuda: Benteng Ekonomi Rakyat di Ponorogo

Sudah saatnya peran–peran kecendekiawan yang dilakukan oleh ICMI bisa hadir dalam segala aspek kehidupan yang mengatur  masyarakat, sehingga sudah seharusnya ICMI juga bisa hadir memberi warna dalam pembangunan sistem yang mengatur kehidupan bermasyarakat, ditengah sebuah sistem politik yang penuh dengan intrik dan kelicikan sebagaimana yang pernah dijalankan oleh Arok. Semoga saja!

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.