Tanpa dikomando, penumpang yang berusia muda, serempak berdiri dari duduknya dan menyerahkan itu kepada penumpang yang lebih tua. Sudah lama betul budaya itu seperti “hilang” di dalam pergaulan sosial kita.
Sepanjang perjalanan kereta, hanya pemandangan ini yang kita lihat, kalau tidak membaca (ponsel) penumpang mendengar musik lewat earphone. Masya Allah, pemandangan itu pertama kali bikin saya takjub pada 1985 di Tokyo waktu naik MRT (subway/sabuai dalam lidah orang Jepang). Pengalaman itu berkali- kali saya tulis sebagai perlambang kemajuan peradaban bangsa Jepang. Pemandangan itu kini ada di Jakarta. Paling tidak, antara Lebak Bulus dan Bundaran HI–di rute MRT. Saya memeriksa juga toilet di stasiun yang bersih dan terawat. Pemandangan sejenak itu–saya namakan kultur MRT–luar biasa menginspirasi.
Rute yang kami pilih Bundaran HI – Setopan Asean. Kemudian balik ke Setopan MRT Karet.
Mengakhiri rute itu, rombongan kemudian menikmati kenyamanan pedestrian di kawasan Jalan Sudirman, yang lapang dan bersih. Beberapa warga tampak duduk-duduk menikmati petang Jakarta. Bersama kekasih, keluarga, dan teman-temannya. Pedesterian ini tampaknya telah menjanjikan pula kultur kota modern.
Sore itu, kami disambut petugas Jasa Marga di JPO Phinisi. Karena, JPO sedang dilaksanakan pekerjaan finishing oleh petugas perlu pengaturan menaiki JPO. Direkomendasikan bergantian, masing-masing lima orang. Semua harus memakai APD (Alat Pengamanan Diri) yang disediakan petugas itu. Semua rombongan bahagia bisa merasakan naik Phinisi yang mengarungi jalan utama di Jakarta, Sudirman-Thamrin. Saya belum tanya satu-satu.
Rasanya akan menjadi kenangan tak terlupakan, menjadi turis norak di negeri sendiri. ”Maka, nikmat apalagi yang mau kau dustakan”. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi