Dalam kunjungan ini, Min Aung Hlaing berterima kasih pada pemerintah dan rakyat Kamboja karena donasi tambahan sebanyak 3,2 juta masker, 30 ribu APD, 50 ventilator, 50 monitor dan kelengkapan pasien, dan berbagai bantuan medis lainnya guna membantu negaranya di masa pandemi.
Hun Sen sendiri adalah kepala negara anggota ASEAN pertama yang bertemu dengan pemimpin militer Myanmar semenjak kudeta pada 1 Februari 2021 lalu. Kedatangan Hun Sen, menurut Cambojanews, menyebabkan protes di Myanmar dengan sejumlah pengunjuk rasa membakar dan menginjak foto sang perdana menteri.
Sebanyak 195 LSM di Myanmar dan Kamboja mengeluarkan pernyataan pada Selasa (4/1) bahwa mereka “sangat mengutuk Hun Sen karena mendukung junta militer kriminal di Myanmar”. Phil Robertson dari Human Rights Watch mengutarakan, kunjungan tersebut adalah “tamparan di muka bagi delapan negara anggota ASEAN lainnya.”
Emerlynne Gil dari Amnesty International menyebut kunjungan Hun Sen sebagai “diplomasi nakal” yang “lebih banyak keburukan daripada kebaikannya.” Sementara Komite yang mewakili Pyidaungsu dan Pemerintah Kesatuan Nasional (pemerintah bayangan Myanmar) meminta Hun Sen untuk memikirkan korban kudeta.
Sophal Ear, Profesor Muda di Occidental College di California mengatakan bahwa kunjungan tersebut bisa membahayakan karena bisa melegitimasi junta militer, yang menurutnya tidak seharusnya terjadi. Ia menuding Kamboja tidak memiliki kredibilitas ketika berbicara demokrasi. (Phnom Penh Post/Cambojanews, Reza Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi