KEMPALAN: Rasanya baru kemarin ia melakukan langkah salah. Langkah menyakitkan. Dilakukan dengan sikap pongah. Tidak seluruh umat merasa tersakiti, tapi mayoritas setidaknya jengah melihat lakunya. Umat hanya membalas dengan doa, itulah pilihan selemah-lemah iman. Memang sementara cuma doa yang dipunya.
Rasanya baru kemarin langkah-langkah tegapnya itu tampak, dan senyum nyengirnya diumbar ke sana kemari, seolah ia melakukan pekerjaan heroik. Sedang di tangannya seikat bunga diserahkan. Sebuah apresiasi telah diwujudkan. Ia sadar bahwa lakunya memang laku seharusnya.
Siapa saja yang melihat sikapnya, pastilah punya penilaian beragam. Ada yang suka tapi tidak sedikit yang muak. Ia masuk pada wilayah yang tidak seharusnya. Memilih netral, itu langkah tepat. Jika tak ingin sesal kemudian. Ia tak perduli dan memilih dengan memasukinya. Seolah itu pilihan seharusnya.
Peristiwa setahun itu bagai sekedipan mata. Masih amat teringat, seperti adegan film yang diputar berulang. Kemudian, ia dengan mudahnya meminta maaf atas sikap dan laku tidak tepat yang dilakukan. Sikap antara yakin saat melakukan, dan merasa salah dan perlu meminta maaf pada waktu berikutnya, itu bisa begitu mudah ia lakukan. Bak membalik telapak tangan.
Narji namanya, yang berprofesi sebagai seniman komedi. Mantan personel grup lawak Cagur. Ia jadi figur selebritis dalam “mendukung” sikap Pangdam Jaya, Mayjen Dudung Abdurachman –saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dan berpangkat Jenderal– yang “perang” melawan baliho Habib Rizieq Shihab dan FPI.
Narji dan 2 artis perempuan lain, lupa namanya karena bukan artis populer. Maka lupa mengingat nama keduanya, menjadi bisa dimaklumi. Sebagai komedian, nama Narji juga mulai pudar. Serasa sudah tak mampu menjual kelucuan segar dibanding mantan dua rekannya di Cagur, Deni dan Wendi yang masing-masing memilih bersolo karir.
Narji dan rekan artis tadi siap pasang badan mengambil peran sebagai pendukung pencopotan baliho. Ia disambut Pangdam Jaya, menyampaikan apresiasi dan penghargaan. Entah lakunya karena panggilan sikap pribadi, atau ia hanya berperan layaknya seniman yang dibayar. Tapi senyum cengar-cengir Narji saat itu menyiratkan sebuah simbol, menampakkan ia ada di barisan mana.
Politisi Minta Maaf…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi