Kamis, 30 April 2026, pukul : 03:58 WIB
Surabaya
--°C

Pokok-Pokok Kebaikan

Bu Nyai DR. Hj. Mihmidaty Ya’cub

KEMPALAN: Melalui Al-Qur’an, Allah SWT memberikan pelajaran kepada kita tentang pokok-pokok kebaikan yang menjadi acuan bagi kita dalam menjalani hidup di dunia ini.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 177 Allah berfirman yang artinya, “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta dan untuk memerdekan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang takwa.”

Menurut ahli tafsir Sheikh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-manar, 2/121, kebajikan yang termaktub dalam Al-Baqarah ayat 177 itu mencakup tiga prinsip sekaligus.

Pertama, prinsip keimanan. Iman merupakan sumber segala kebaikan. Akan tetapi, iman yang dimaksud ayat itu adalah yang menggetarkan hati, melahirkan ketundukan dan kepatuan manusia kepada Allah SWT.

Kedua, prinsip amal saleh. Ini memunculkan tidak hanya kesalehan pribadi melainkan juga kesalehan sosial. Kesalehan demikian ditunjukkan antara lain, melalui kesediaan seseorang untuk mengeluarkan hartanya betapapun besar dan rasa cintanya pada harta itu untuk membantu fakir miskin, anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

Ketiga, prinsip akhlaq al-karimah atau keluhuran budi pekerti. Ini ditunjukkan antara lain melalui komitmen dan kesetiaan yang tinggi terhadap setiap janji. Juga ditunjukkan oleh kesabaran dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Ini mengandung makna bahwa untuk mencapai kebajikan itu, kita tidak boleh berhenti pada segi-segi lahiriah saja. Hal ini penting kita ingat, karena setiap perilaku agama, terutama yang bersifat seremonial dan ritual, selalu berpotensi untuk dapat di belokkan dari maknanya yang hakiki pada hal-hal yang justru nilainya hanya bersifat instrumental.

Kebajikan adalah iman kepada Allah SWT. Iman yang diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati dan dibuktikan dalam perbuatan sehari-hari. Ini satu paket. Percaya atau mengimani kepada Allah SWT dengan semua sifat-sifatnya yang di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh Allah SWT memiliki sifat Iradat, yang berarti yang memiliki kehendak. Jika Allah SWT telah berkehendak atas sesuatu, maka tidak ada yang tak mungkin terjadi dan tak ada satupun yang mampu mencegahnya. Tidak ada satupun yang berjalan tanpa takdir Allah SWT.

Hari akhir menurut…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.