Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 10:18 WIB
Surabaya
--°C

Menanti Rekonsiliasi Dis dan GM ala Tempo

Setelah berkuasa 36 tahun sejak diangkat Pimred JP tahun 1982 dan dicopot dari CEO JP pada Juni 2018.
Mengapa Dis dan ahli warisnya Azrul Ananda begitu mudah didepak dari JP Group.

Buku juga dilengkapi cerita kiprah Dis, Suhu dkk dalam membesarkan JP. Ada juga cerita seribu kesalahan Dis yang berakibat JP merugi Rp 50 miliar. Tapi, kerugian tak terlihat karena Dis juga menghasilkan triliunan rupiah untuk JP.
Juga , dilengkapi beragam komentar karyawan JP terhadap sosok Dis yang kontroversial dalam memimpin JP Group.
Salah satunya cerita Amu atau Abdul Muis.
Ceritanya, saat itu tahun 1987, Amu ditugasi meliput Persebaya saat tandang ke Ujungpandang, kini Makassar melawan PSM.
Lalu berlanjut ke Irian Jaya kini Papua melawan Persipura Jayapura.
Usai jepret jepret di lapangan, Amu buru buru lari ke bandara Hasanuddin menitipkan satu rol film ke penumpang yang akan mendarat di Surabaya.
Amu dengan semangat 45 menulis pertandingan Persebaya vs PSM dan pernak perniknya sampai sepuluh angle atau berita.
Sayang semua berita tak bisa dikirim ke Surabaya dari laptop yang dibawa Amu. Selain laptop saat itu barang baru dan mahal. Juga tak banyak wartawan yang bisa mengoperasikan selain orang IT.
Belakangan diketahui ada tombol di laptop yang dipencet almahum Mas Tony saat liputan di Bangkok belum dikembalikan ke posisi semula. Tony juga gagal kirim berita dari Bangkok.
Apes. Saat laptop dibawa Amu ke Makassar juga gagal kirim berita. Gegara tombol tadi.
Karena kesulitan kirim berita, Dis malam itu bolak balik telpon Amu, sambil marah marah sampai tengat deadline.
“Saya juga stres berat ditelpon terus Pak Dahlan. Minta tolong orang Telkom juga tidak bisa, ” aku Amu.
Emosi Dis belum reda meski sudah berganti hari. Makanya, begitu melihat foto Amu yang sudah dicetak, Dahlan merobek foto satu rol jadi kecil kecil.
Dis sudah terlanjur kecewa karena beritanya tidak bisa dikirim.
Kurangajarnya Dis, sobekan foto tadi sengaja ditaruh di laci Amu.
Begitu usai liputan, saat balik ke kantor JP Kembang Jepun, betapa kagetnya Amu mendapati foto hasil jepretannya di Makassar dirobek robek. Jadi kecil kecil. Pelakunya Dahlan. Darah Amu langsung mendidih.
“Jancok… Dahlan golek foto soro soro disuweki (cari foto susah susah dirobeki), ” teriak Amu.
Seisi kantor JP Kembang Jepun kaget mendengar Amu misuh misuh.
Termasuk Dahlan yang posisinya tak jauh dari Amu.
Seperti biasanya Dis tak bereaksi, pura pura tidak mendengar.
Apalagi mengakui sebagai penyobek foto Amu. Tidak akan dilakukan Dis ha..ha gengsi sebagai pimpinan.
Melihat itu Amu kian kesetanan. Tiba tiba gubrak…. kaki Amu menendangi meja kursi guna melampiaskan kekesalanya pada Dis.
Sambil ngomel nggomel Amu terus menyepaki meja kursi.
Setelah puas malampiaskan kekesalnnya, Amu ngeloyor pergi meninggalkan kantor.
“Pokok e emosi poll saat itu. Apalagi Dahlan merasa tidak berdosa. ”
Penulis secara subyektif. Sekali lagi secara subyektif memilih sosok almahum Sholihin Hidayat sebagai Pimred paling wani dalam arti sebenarnya.
Suatu ketika kantor JP Karah Agung digerudug ormas pemuda yang protes pemberitaan. Orang JP kalang kabut, tak bisa mengatasi.
Tiba tiba Sholihin lantang berteriak. “Allahu Akbar! Walaupun jumlah ormas datang berkali lipat, saya tidak takut. Yang saya takuti hanya Allah SWT, ” pekik Hin lantang.
Semua karyawan JP terhenyak. Juga massa ormas yang menggerudug. Mereka kaget tidak menyangka Hin begitu berani. Benar benar Hin bertindak heroik saat itu.
Massa ormas yang sebelumnya garang berubah lunak. Para senior JP dan Dis yang semula kewalahan dilabrak ormas tadi akhirnya plong.
Hin inisial Sholihin juga dikenal independen. Dis saja segan intervensi. Saat Hin jadi Pimred, karyawan JP paling banyak diangkat jadi pegawai tetap.
Penulis juga memilih sosok Santoso Bondhet. STS inisial Santoso saat jadi redaktur hidupnya mapan. Punya tiga rumah dengan tungangan roda empat.
Setelah pensiun hidupnya berubah 180 derajat. Harta habis ditipu rekan bisnis.
Santoso kini hidup nomaden. Dari satu kontrakan pindah ke rumah kontrakan lain setiap tahun. Hidup keseharian Santoso hanya mengandalkan dagangan istrinya nasi kuning.
Kondisi yang dijalani Santoso ini ibarat potret umum para pensiunan JP. Tapi, hebatnya Santoso menjalani dengan tabah. Tanpa berkeluh kesah.
Di usia senjanya, Santoso juga digerogoti aneka penyakit. Terakhir terserang stroke.
Menyerahkah Santoso? Ini hebatnya Santoso, stroke justru menginspirasi melahirkan buku terkait pengalaman terserang stroke.
Buku ditulis sendiri, diedit sendiri, di lay out, dicetak dan dijual sendiri. Itu tak banyak dilakukan pensiunan JP.
Di tengah keterbatasan hidipnya, Santoso cukup produktif. Belasan buku hasil karyanya sudah dicetak. Mulai biografi sampai novel. STS juga rajin menulis di media online dan cetak. Semangatnya luar biasa dalam menulis. Ini sangat menginspirasi. Seperti tagline CowasJP, perkumpulan pensiunan karyawan JP.
Menulis sampai tuwek. Itu tercermin dalam diri Santoso Bondhet.
Dalam buku ini juga memuat nama nama daftar pejuang Jawa Pos Group yang sudah meninggal dunia.
Ini sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum, almarhumah yang sudah berjuang ikut membesarkan JP menjadi imperium seperti sekarang ini.
Yang terdata meninggal baru 153. Hampir dipastikan jumlahnya terus bertambah.
Mungkin ada yang tercecer. Belum terdata. Sudah meninggal tapi tidak tercatat. Atau ada yang baru meninggal.
Saat buku ini naik cetak, saudara kita senior JP almarhum Mas Tony dan almarhum Zahidin Muntaha, Direktur Radar Bojonegoro, dipundhut (dipanggil) Illahi. Jadi, tidak sempat ditulis dalam buku ini.
Moga semua dosa, salah, khilaf semua almarhum, almarhumah saudara kita, para pejuang JP diampuni Allah SWT. Amin..Alfateha.
Juga cerita lahirnya Harian Disway yang diklaim Dis bukan koran. Banyak orang berharap kelahiran Disway isinya tak jauh dari majalah Tempo.
Berisi berita investigasi dan laporan eksklusif. Tapi, setelah terbit isinya kata arek Suroboyo mak njekethek. Segitu aja. Mengecewakan. Bahkan setelahnya masih tertatih tatih. Terus mencari bentukan pemberitaan yang ideal.
Buku ini cukup “mengenyangkan” bagi pembacanya meski tentu banyak kekuranganya di sana sini.
Salam penulis Bahari. (*)

BACA JUGA  IFA7 WORLD CHAMPIONSHIP HONDURAS 2026

Editor: Freddy Mutiara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.