Mengapa Dis tak melawan GM dkk meski sebagaian besar Pimpinan JP Group, Para Direktur Radar, senior JP ada di belakang Dis.
Saat dicegat penulis di Graha Pena. Mengapa Bos Dis tidak melawan GM dkk?
“Saya ini orang Jawa…,” jawab Dis tanpa mau meneruskan kalimatnya.
Banyak senior JP, pimpiman JP daerah dan loyalis Bos Dis siap di belakang sampeyan jika melawan kesewenang wenangan GM dkk?
“Saya tidak butuh loyalis,.” ujar Dis emosional.
Penulis sudah ketemu banyak senior JP dan loyalis sampeyan. Mereka siap di belakang Bos Dis andai melawan GM dkk?
Raut muka Dis memancarkan tidak suka didesak desak terus penulis.
“Belum tentu.. Belum tentu loyal, ” ujar Dis dengan nada tinggi sambil mengibas ngibaskan tangannya.
Penulis wawancara door stop Dis kurang lebih lima sampai enam kali.
Kali pertama sampai ketiga Dis terlihat tegang, emosional. Bawaannya uring uringan.
Bahkan Dis menolak segepok daftar wawancara berisi seratus lebih pertanyaan yang sudah disiapkan penulis.
“Saya tidak mau terima. Saya tidak mau terima, ” elak Dis tegang.
Baru wawancara keempat dan kelima suasana sudah cair. Dis mulai bisa ketawa ketawa. (baca:Wawancara Dahlan Iskan di Buku 3)
Hal yang sama juga dialami penulis saat hendak wawancara Goenawan Mohamad.
Penulis japri tiga kali untuk minta waktu wawancara. Tapi dijawab GM pendek. “Maaf. Saya sdg menyiapkan buku dan pameran tunggal. Gak punya waktu, ” balas GM.
Seorang senior JP yang melihat jawaban GM terhenyak. “Wah.. Angkuh benar orang ini (GM). Masak nggak punya waktu. Padahal, wawancara Mas Goen kan juga untuk kepentingan ratusan karyawan JP, ” ujar senior tadi.
Saat ditemui penulis di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, GM keukuh menolak diwawancarai.
“Lo, saya kan sudah jawab tidak bisa, ” ujar GM ketus.
“Kenapa nggak bisa Mas Goen, ” kejar penulis.
“Tetap saja saya nggak bisa jawab, ” balas GM tak kalah sengitnya. Raut muka GM berubah masam. Tanda tak suka.
“Apa Mas Goen curiga kalau penulis tidak independen (dalam menulis Buku Konflik Jawa Pos Pasca Pecah Konflik Dis v GM), ” cerca penulis.
“Tidak! Tidak! Saya tidak curiga seperti itu, ” aku GM.
“Lalu kenapa Mas Goen tidak mau diwawancarai, ” desak penulis.
“Saya nggak bisa, ” ujar Mas Goen pongah. Angkuh. Raut wajahnya menegang. Sorot matanya sedikit mendelik. Tanda marah, tak suka GM terus didesak desak penulis.
“Kenapa tidak bisa, ” cerca ulang penulis lagi.
“Kalau Anda… (suara Mas Goen tak terdengar karena lirih) bikin saya makin kesal saja, ” gerutu GM.
“Apa Mas Goen, ” tanya balik penulis penasaran.
GM tidak menjawab. Ekspresi wajahnya kian mengeras. Marah. Tak suka terus didesak.
GM mempercepat langkahnya menuju ruang depan Salihara.
Penulis terus mengiringi langkah GM.
Di belakang penulis ada wartawati majalah Tempo yang sudah janjian untuk wawancara mengintili, ikut berjalan di belakang penulis.
Saat hendak duduk Mas Goen setengah berteriak menukas:” Ayo wawancara dimulai !” ujar Mas Goen dengan nada tinggi. Wartawati Tempo berhijab tadi tergopoh gopoh cari kursi dekat Mas Goen.
Itu juga isyarat agar penulis keluar ruangan.
Tapi, penulis tak beranjak dari komplek Salihara.
Penulis memilih menunggu di sudut ruangan. Deretan bangku panjang di komplek Salihara untuk menunggu wawancara lanjutan dengan GM.
Setelah menunggu 1,5 jam, wawancara wartawati Tempo dengan GM usai.
Penulis pun mendekati GM yang baru keluar ruangan untuk wawancara lanjutan.
Kali ini pembawaan GM agak rileks. Tidak spaneng seperti sebelumnya. Itu dimanfaatkan penulis untuk bercerita kondisi JP Koran terkini.
Salah satunya, program pensiun dini bagi redaktur berusia 40 tahun ke atas yang dipaksakan.
Tak hanya merugikan para redaktur. Juga berdampak besar terhadap produk dan kualitas isi Koran. Juga, masalah JP Koran lainnya. Seperti pembentukan Serikat Pekerja JP Koran yang dihambat, disabotase manajemen.
GM mendengarkan dengan serius.
“Saya tidak ngerti konflik Jawa Pos. Makanya, Saya nggak mau diwawancarai, ” kilah GM.
Pengakuan GM ini bisa benar. Mungkin tidak dapat laporan manajemen Surabaya.
Tapi, bisa GM pura pura tidak tahu. Sekedar ngeles. Menolak diwawancarai.
Tapi, begitu obrolan penulis pindah ke pertanyaan, Mas Goen keukuh enggan menjawab.
Baiknya Mas Goen dengan tangan terbuka mau menerima daftar pertanyaan yang disiapkan penulis. Terdiri dari 30 lembar halaman folio. Berisi 100 lebih daftar pertanyaan seputar masalah JP Group, hubungan GM dengan Dis dan lainnya. (Baca: Wawancara GM di Buku 3). Penulis juga sertakan e-mail. Tapi, tak pernah dijawab.
KIPRAH DIS–GM KIBARKAN JP DAN TEMPO
Dalam buku ini juga dilengkapi provil dan peran pemegang saham JP dalam mendirikan, membesarkan majalah Tempo maupun harian Jawa Pos. (Baca buku 3). Mulai Ciputra, Eric Samola, Fikri Jupri, Lukman Setiawan, Harjoko Trisnadi dan Ratna Dewi Wonoatmodjo biasa disapa Cik Wenny.
Dan tentu saja ikon buku ini yang saling berseteru. Dahlan Iskan (Dis) dan Goenawan Mohamad (GM). Khusus Dis dan GM juga dilengkapi peran, kiprah dan jasa masing masing. Bagaimana Dis membesarkan JP Group. Begitu pula sejarah GM membesarkan majalah Tempo.
Juga intrik intrik di internal Majalah Tempo. Wabilkhusus soal kesejahteraan karyawan dan pembagian saham majalah Tempo dan JP yang didominasi segelintir pendiri Tempo. Yakni, GM dan Fikri Jupri.
Yang akhirnya membuat sebagaian pendiri majalah Tempo merasa tidak puas. Akhirnya Syu’ba Asa dkk eksosdus dari Tempo. Mereka mendirikan majalah Editor. Tandingan Tempo.
Juga cerita koresponden Tempo di pelosok Nusantara yang nasibnya terabaikan.
Juga ada cerita dibalik pembredelan Tempo 1994 yang menjadikan GM dkk melakukan perlawanan bawah tanah terhadap rezim Soeharto.
Dengan proyek Blok M-nya GM kemudian dicap intel sebagai orang paling berbahaya di Indonesia saat itu.
GM meski kaya raya tapi penampilannya bersahaja. Makanya, orang Tempo menjuluki sebagai kapitalis malu malu kucing.
Beda dengan Fikri Jupri yang penampilannya sedikit glamour. Tak menutup diri bahwa dia kaya.
Juga kisah Dis menapaki dunia jurnalistik dengan bergabung harian Mimbar Masyarakat di Samarinda, Kaltim merangkap koresponden majalah Tempo. Bahkan Dis pernah berselingkuh menjadi koresponden Harian Kompas.
Siapa sangka masa kecil Dis yang pahit. Harus jalan 14 kilometer saat pergi pulang sekolah hanya cekeran. Kelak menjadi orang terkaya di Indonesia no 90 seperti dirilis Globe Asia pada 20 Maret 2017 dengan jumlah kekayaan US$ 797, 4 diatas Surya Paloh, Bos Media Indonesia Group.
Bahkan kekayaan Dis mengalahkan putra putri Cendana, anak anak Soeharto. Yakni. kekayaan Bambang Trihatmojo yang menempati no 124 orang kaya Indonesia.
Sedangkan Mbak Tutut menempati no 132 dengan kekayaan US$ 651 juta.
Tapi, kekayaan Dis kalah dari pemilik Kompas Gramedia Group yakni, Jacob Oetama dan putranya Lilik Oetama yang menempati no 21 orang paling tajir di Indonesia. Kekayaan Jacob menembus US$ 2,3 miliar.
Tapi, orang dekat Dis tidak yakin pria kelahiran Takeran, Magetan, Jatim itu sekaya seperti ditulis Globe Asia.
Mengapa? Karena masih bercampur dengan aset aset milik JP Group.
Lalu berapa kekayaan Dis sebenarnya?
“Ya.. mungkin sekitar Rp 1 triliun, ” kata orang dekat Dis tadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi