Jumat, 26 Juni 2026, pukul : 03:00 WIB
Surabaya
--°C

Natal, Secercah Terang yang Menyeruak di Tengah Kegelapan

Di tengah-tengah kehidupan yang seperti inilah, kita mempersiapkan diri untuk menyambut peringatan Natal. Apa yang bisa dan perlu kita refleksikan? Mari kita sejenak melihat perjalanan keluarga kudus lewat berita Alkitab seputar Natal.

Pertama, baik Yusuf maupun Maria berupaya untuk menaati rencana Allah dengan rela dalam kehidupan mereka. Ketaatan Yusuf tampak dari kesediaannya mengambil Maria sebagai istrinya (Mat. 1:24) – sehingga dengan begitu Yesus akan lahir dari keturunan Daud, sebagaimana nubuatan akan Mesias (lih. Mat. 1:1-17; bnd. Yes. 11:1), dan dalam hal Yusuf menamai anak yang dikandung oleh Maria: Yesus (Mat. 1:21,25). Sementara ketaatan Maria tampak dari kesediaannya mengandung dan melahirkan bayi Yesus.

Jika kita membayangkan diri kita berada di posisi Yusuf dan Maria pada zamannya, maka kita bisa merasakan bahwa ketaatan mereka bukanlah hal yang mudah. Yusuf harus bisa mengolah batin dan pikirannya untuk dapat menerima dan mengakui Yesus sebagai anaknya sendiri. Maria pun menghadapi kesulitannya sendiri. Mengapa saya? Mengapa bukan perempuan lain yang Tuhan pilih? Bagaimana kata orang jika mengetahui kehamilan saya, padahal saya belum hidup sebagai suami-istri bersama Yusuf? Kira-kira itulah pertanyaan yang muncul di benak Maria.

BACA JUGA  Tren Novel Online: Menantu versus Mertua

Sekalipun begitu, Yusuf dan Maria tetap menunjukkan ketaatan mereka yang rela. Mereka rela untuk taat karena kesadaran akan apa yang disebut oleh Thomas Aquinas sebagai bonum commune (kebaikan bersama), bahwa kelahiran dan kehadiran Yesus adalah untuk menggenapi rencana penyelamatan Allah bagi dunia. Pun begitu dengan kita seharusnya.

Ketika pandemi Covid-19 belum juga usai – dan negeri kita berada dalam bayang-bayang gelombang ketiga usai libur Natal dan Tahun Baru mendatang, ketaatan kita secara rela dalam melaksanakan protokol kesehatan 5M menjadi bagian penting untuk menghadirkan kebaikan bagi kehidupan.

Oleh karena itu, bagi Jemaat-jemaat yang sudah menyelenggarakan kebaktian dan kegiatan onsite pada Masa Raya Natal dan sesudahnya, tetaplah upayakan protokol kesehatan secara ketat. Celah-celah penularan virus korona, seperti pada saat makan bersama (misalnya: seusai pelayanan), perlu diwaspadai dan dicegah.

Kedua, Yusuf dan Maria menempuh perjalanan yang tidak mudah dari Nazareth ke Betlehem, untuk memenuhi program pemerintah Romawi akan sensus penduduk (Luk. 2:1-7). Sekalipun pemerintah Romawi adalah penguasa (baca: penjajah) atas wilayah Yudea, namun kebijakannya berusaha diikuti oleh Yusuf dan Maria. Bagi Allah, kebijakan Kaisar Agustus itu dipakai oleh-Nya untuk menggenapi nubuatan bahwa Mesias akan lahir di Betlehem, sebuah kota kecil di Yehuda (lih. Mik. 5:1).

BACA JUGA  Jalan Maju Finlandia

Tampak dari keterangan tersebut, kesediaan Yusuf dan Maria mengikuti kebijakan pemerintah Romawi, pada gilirannya menjadi penggenapan nubuatan ilahi akan Mesias. Saat ini, kita hidup di sebuah negara di mana pemerintahnya sungguh peduli terhadap nasib rakyatnya di tengah pandemi. Pengadaan vaksin Covid-19 dilakukan secara bertahap dan ditujukan untuk seluruh penduduk. Bantuan sosial dan aneka stimulus pun diluncur-kan untuk meringankan beban masyarakat. Apalagi, pemerintah RI bukanlah penguasa Romawi yang menduduki Yudea.

Pemerintah RI adalah penguasa yang sah atas negeri ini. Rasa hormat dan dukungan bagi pemerintah RI dilakukan oleh kita sebagai Warga Negara Indonesia.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.