Khofifah

waktu baca 12 menit
Gubernur Khofifah Indar Parawansa (Foto: Istimewa)

KEMPALAN: DIA terus sibuk membangun Jatim. Padahal godaan politik nasional begitu besar. Gubernur Khofifah Indar Parawansa kini ibarat gadis cantik—dia memang cantik—yang diincar semua siapa saja. Terutama di hari-hari pencalonan presiden Indonesia mendekati deadline-nya.

Khofifah terus bersikap cool. Capres Prabowo Subianto, setahu saya, mengirim utusan. Silih berganti. Agar Khofifah mau jadi pasangannya: sebagai calon wakil presiden.

Anies Baswedan juga mengincar Khofifah. Nasdem, sebagai pengusung Anies sudah berusaha keras meminang Khofifah. Hanya Ganjar Pranowo yang belum serius mendekati Khofifah. Mungkin karena punya calon wakil presiden sendiri: Erick Thohir. Atau hanya karena belum waktunya meminang Khofifah.

Sejauh ini Khofifah masih diam. Jangankan menyanggupi. Memberikan kisi-kisinya pun tidak. Orang begitu sulit menebak ke mana arah Khofifah di percaturan politik nasional.

Dia terus memikirkan Jatim. Dia tidak ingin mendapat kesan meninggalkan tanggung jawab utama sebagai gubernur. Dia tidak terlihat membentuk jaringan relawan. Juga belum safari ke mana-mana. Dia terus safari di Jatim. Sabtu lalu saya bertemu di Takeran, Magetan. Sehari sebelumnya di Madiun.

Khofifah ingin mencatatkan prestasi maksimal di Jatim. Dia mewarisi jabatan gubernur-gubernur sebelumnya yang juga berprestasi. Kebesaran Jatim sebagai provinsi besar, kali ini ada di tangan gubernur wanita.

Meski baru sekali menyaksikan sendiri paparan Khofifah atas prestasi Jatim, saya sudah bisa mengambil kesimpulan: Khofifah sudah berhasil mentransformasikan diri dari seorang pemimpin organisasi masa wanita menjadi seorang teknokrat. Dia bisa bicara lugas mengenai angka-angka statistik yang rumit. Dia bisa menjelaskan apa yang terjadi di balik angka-angka itu: angka kemiskinan, angka tingkat pendidikan, angka pertumbuhan ekonomi, perimbangan wilayah desa-kota-pantai pun sampai ke soal tingkat kesehatan penduduk.

Khofifah tidak lagi bicara yang umum-umum seperti seorang pemimpin umat. Dia sudah selalu bicara program, bagaimana menerapkan program, target apa yang harus dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Lalu juga bicara evaluasi, sistem, dan mitigasi risiko. Semua capaian itu tidak saya uraikan di sini karena sudah ada laporan khusus yang membedahnya di halaman-halaman di Harian Disway ini.

Ciri-ciri keteknokratan seorang pemimpin terlihat pada Khofifah. Maka, sebenarnya dia sudah layak untuk masuk ke kancah kepemimpinan nasional. Maka, kini Khofifah punya dua kekuatan besar: sebagai pemimpin umat dan sebagai administrator pembangunan.

Sebagai pemimpin umat, Khofifah adalah ketua umum Muslimat NU. Bukan satu atau dua periode. Tapi sudah melegenda. Sebagai administrator, Khofifah pernah menjadi menteri, tapi membawahkan seluruh bidang kehidupan rakyat sudah teruji ketika menjabat gubernur Jatim ini.

Sebagai kepala daerah, Khofifah juga bisa ’’ngemong’’ bawahan. Termasuk ngemong wakil gubernur Jatim yang sangat muda, ganteng, populer, dan pintar: Emil Dardak. Pasangan ini tergolong yang bisa menyimpan unsur-unsur perbedaan. Gubernur bisa membagi tugas sehingga sang wakil merasa mendapat bagian tanggung jawab. Sang wakil juga bisa membawakan diri secara baik sehingga tidak tampak ingin di depan.

Sebagai rakyat Jatim, saya merasa bersyukur bahwa provinsi ini selalu mendapat gubernur yang berprestasi. Termasuk gubernur Khofifah yang sekarang ini. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*
Edisi 12 Februari 2023: Ilmu Gempa

Amat K.
Enak banget mimpi buang air kecil. Uh. Terasa lega. Eh pas bangun sedikit basah di celana.

mz arifinuz
Memalukan? Kenapa harus malu bila mempercayai gempa itu bisa sebagai azab, hukuman dari Tuhan atas dosa umat manusia? Tak perlu malu, karena Tuhan bisa menghukum, menguji manusia dg apa saja. Tuhan maha Kuasa, berbuat apa saja yg dikehendaki Nya. Kita bisa tak tahu dosa2 yg dilakukan lain orang. Muslimuun tiap hari dianjurkan untuk minta ampun pd Tuhan. Shodaqoh bisa menolak bencana. Apa susah nya bagi Tuhan, menjadikan benturan2 lempeng benua dg keras atau lembut? Bila dikenai bencana, maka bersabar. Bila sukses, berhasil, maka bersyukur. Manusia tetap harus berusaha hindari bencana.

mz arifinuz
4 rukun iman Komunis Tiongkok: Buruh, tani, pengusaha, ilmu pengetahuan. Tuhan bukan rukun iman Komunis Tiongkok. Tuhan ghoib. Akal & nyawa itu ciptaan Siapa? Tgl lahir & tgl mati kita, Siapa yg nentukan? Apa kita tak perlu berterimakasih kpd Pencipta akal & nyawa kita? Apa akal & nyawa tercipta dg sendiri nya? Pencipta kita tentu maha Mengetahui. Pencipta mengutus utusan Nya, memberitahu apa yg kita belum mengetahui, ttg nama Pencipta kita, Siapa Pencipta kita, Siapa Pencipta akal & nyawa kita. Bukan sok mengetahui.

Kalender Lengkap
Sepertinya tulisan hari ini bernada sangat sekuler. Gempa memang pasti akan terjadi, karena sudah sunnatullah ada kerak bumi begerak berlawanan secara sangat perlahan tahun ke tahun, dan tiba di suatu masa tekanan akibat tumbukan lempeng tanah tersebut tiba di titik kritikalnya, lalu terlepas tiba-tiba dan muncullah gempa. Masalahnya, jika penduduk di suatu negeri itu beriman, lepasnya tekanan bisa jadi dimunculkan Allah secara perlahan berupa gempa kecil-kecil tapi sering, sampai tegangan tumbukan berkurang atau habis. Atau masyarakat wilayah gempa diberi Allah pengetahuan dan kesadaran plus rezeki untuk membangun rumah tahan gempa. Tapi kalau Allah ingin memberi peringatan, atau bahkan mengazab suatu kaum, maka lepasnya energi tumbukan bisa jadi ditiba-tibakan, dalam waktu tak terduga, dan dengan pelepasan energi yang maksimal. Plus warganya sebelumnya dibuat ngeyel sama insinyur dan pejabatnya suka korupsi besi bangunan. Jadi marilah kita banyak beristigfar, tapi tetap belajar ilmu gempa dan menerapkannya.

imau compo
Quote terbaik hari ini. Saya mendengar omongan seperti ini dari seorang Prof. Matematika, bukan dari ahli gempa. Mungkin intuisi beliau dengan ilmu yang tinggi yang memberikan pemikiran itu. Intuisi dapat lahir dari ilmu yang tinggi. Kita ambil hikmah kelirunya P’DI hari ini dengan banyaknya perusuh yang tobat. Leong Putu terenyuh timbul empati….urat lucunya hilang. Ha…ha…ha. Peace Leong Putu. Saya pesan ayam betutu saja dari kantinnya.

Jhel_ng
Ulama-ulama harus bersepakat, mungkin dalam kerangka fiqih peradaban: dalam setiap bencana, fatwa yang perlu disepakati adalah keselamatan bersama adalah nomor satu. Mau alim, ulama, kelas masyarakat apapun, hingga pendosa dari level RT sampai internasional, ketika ada bencana wajib menjaga keselamatan dirinya dan orang orang di sekitarnya. Juga komunitasnya. Juga umatnya. Negara melalui instrumennya memastikan itu. Wajib. Jika ada ulama yang di masa penanganan mengeluarkan pernyataan tidak berdasarkan sains dan azas keselamatan, dia bisa dianggap mengingkari fatwa. Prihatin, di tengah penanangan gempa yang serius, ulama Turki menyampaikan ini ada perbuatan “musuh” mereka. Di sisi lain, ulama Mesir menyampaikan itu adzab bagi sesama muslim karena gagal membela kasus di Swedia. Artinya yang ulama mesir menganggap ulama Turki yang tadi juga sebagai pihak yang berdosa yang boleh diadzab. Pernyataan-pernyataan itu kontraproduksi. Malah salah-salahan terus dan tidak ada solusi. Coba misalkan kedua ulama itu ada di Indonesia. Perseteruan bisa menjadi solusi. Dipertemukannya mereka dalam satu ring. Kemudian bisa adu tenaga dalam. Direkam, dikontenkan, dan disiarkan di sosmed. Dapat ads, bisa disumbangkan. Dan tidak ada yang terluka diantara keduanya. Kalaupun ada lukanya di dalam, namanya juga tenaga dalam… Selamat hari minggu pembaca sekalian.

Budi Utomo
Kalau mengacu pada pemikiran jitu Islah Bahrawi yang aktif dalam deradikalisasi: Qutb isu sama seperti Lenin. Lebih jelasnya bisa dilihat di Twitter Islah Bahrawi. Walau saya selalu ingat kata bijak Abah Dahlan bahwa pembaca Disway ini sudah independen dan opini dari siapapun tak bisa mengubah pemikiran seorang pembaca Disway. Baik yang ekstrem kiri (Lenin) maupun ekstrem kanan (Qutb). Yang satu memanfaatkan sosialisme. Yang lain memanfaatkan islam. Berdasarkan opini Abah Dahlan, saya setuju bahwa manusia itu hanya mau mempercayai apa yang dia mau percayai. Jadi kalau ekstrem kiri hanya percaya narasi ekstrem kiri dan ekstrem kanan hanya percaya narasi ekstrem kanan. Wah, Papa pintar! Ada apa Shinchan, jangan ganggu Papa, Papa lagi serius sama Bung KS nih! Tapi Papa juga bodoh! Lho kok bodoh? Ya iyalah kalau pintar ngapain nanggapin KS khan kita ga bisa ubah cara dia berpikir! Lagi-lagi Shinchan kabur sambil ngakak dan membuat saya tertegun merenungkan kata-kata bijak Abah Dahlan.

Denny Herbert
Kemarin sebagian para perusuh 1.0 agrinex melakukan pertemuan kopdar lagi setelah 40 hari bertemu di agrinex. Senang rasanya bisa bersilahturamih lagi dengan teman-teman baru ini.. ada yg dari Palembang dan Semarang pun datang… ada yang membawa keluarga jadi kami semakin kenal dengan keluarganya juga… Pertemuan ini jauh lebih cair dibandingkan dengan Pertemuan Perdana di swissbell hotel tempat kami berkumpul pertama kali.. sekarang sudah seperti saudara sendiri.. Kata Babeh Dahlan Thamrin/DT 40 Hari adalah symbol perubahan.. berubah yg dulu asing menjadi persahabatan.. Banyak hal yg dibicarakan bukan hanya temu kangen biasa.. semoga bisa terus berlanjut dengan kegiatan2 yg lebih bermanfaat lagi.. Kita berharap nanti ada aksi2 nyata lanjutan lagi.. Kita tunggu bahasan tambahan dari Babeh DT dan perusuh lainnya..

Kliwon
Saya kemarin juga kopdar. Numpang ikut kondangan di acara manten keponakannya pak Dahlan. Kok ya kebetulan keliatan ada pak Dahlan juga. Tapi ga berani nyapa apalagi ngajak foto. Saya ngga mau pak Dahlan tahu. Kalau saya ternyata makannya banyak dan nggragas pula.

reskon indo
@agus suryono, mohon maaf bapak, yang menjadi masalah bukan rumah tunggal (1 Lt) vs rumah susun. Namun permasalahannya ada pada konstruksi rumah/hunian itu dirancang tahan gempa atau tdk. Yang jadi masalah disini adalah konstruksi hunian dg desain struktur tahan gempa lebih mahal dari konstruksi biasa.

Kartosuwiryo
Kalau menimpa umat kompetitor disebut azab. Tapi kalau menimpa umat sendiri disebut ujian. Begitukah maksudnya mas Ahmad ?

Budi Utomo
Nah itu dia Bung KS. Bangunan tahan gempa itu mahal harganya. Karena harus bisa menahan getaran gempa. Beda dengan getaran LINDU yang dibahas seorang pembaca Disway kapan hari. Getaran hebat sekitar selang…(sensor, sensor!!!), kok jadi diktator (ditakdirkan berpikiran kotor) macam Bung Leong. Wakakaka. Wis wis ruji rubeh. Rusuh siji rusuh kabeh.

Komentator Spesialis
Alkisah, suatu hari saya iseng iseng pergi ke suatu perumahan baru. Developer Jepang. Bukan hanya serba elektronik. Anti virus dan bakteria. Kabarnya diklaim anti gempa. Lokasi cuman 5 menit dari pintu tol. Dekat stadiun kereta cepat china yang anggarannya membengkak itu. Rumahnya ada 20 cakar ayam lebih di bor sepanjang 10 meter kedalam tanah. Lantai dicor full. Dinding pre cast. Sementara 2 lantai dulu. Kalau kurang ditinggin silahkan. Wah, mantab ini ! Kepada agen salesnya saya tanya. Berapa harganya mas ? Disodorilah price list. Langsung balik kucing lihat harganya. Wkwkwk…

reskon indo
@juve zang, sebenarnya kuncinya bukan di besi tulangan ulir dan besi tulangan polos (tdk ulir). Tapi lebih kepada perhitungan kuat tarik besi tulangan beton. Suwun…

Budi Utomo
A Peng: Sayang, kita bangun rumah satu tingkat aja ya. A Mei: Mengapa Pa? A Peng: Kata Bung Juve mengurangi resiko mati kalau gempa. A Mei: Bilang saja uang ga cukup bangun rumah tingkat dua, pakai alasan resiko mati karena gempa. A Peng: Mama tahu aja. Wakakaka

Juve Zhang
Melihat reruntuhan gedung bertingkat di Gempa Turkiye . Dari video nampak besi tulangan yg digunakan masih yg polos, untuk bangunan bertingkat harus dan wajib menggunakan besi ULIR. Mengapa? Besi polos daya kekuatan menahan patah lebih kecil dari besi ULIR. Para Insinyur Turkiye harusnya tahu itu. Bahan pembuatan besi polos dan besi Ulir tentu beda, ada campuran campuran yg menguatkan mengapa besi ULIR lebih kuat. Kadar carbon lebih tinggi dll. Kalau anda lihat di Indonesia hampir pasti semua bangunan tingkat tinggi pake besi ULiR. Dan uliran nya itu menambah daya lekat antara beton dan besi ulir. Sehingga besi ulir tak perlu dibengkokan di ujungnya. Melihat di YT dari cara runtuhnya bangunan jelas bangunan itu tidak didisain dengan prinsip tahan gempa. Dan kalau lihat di Afghanistan lebih aneh lagi bangunan dua lantai gedung sekolah tak menggunakan besi tulangan satu biji pun. Aneh bin Ajaib. Konon 4 lantai pun begitu sistemnya tak ada satu potong besi pun . Artinya tanpa gempa akan aman aman saja.ada gempa akan runtuh serentak. Tak ada goyangan kolom sebagai peringatan. Model runtuh seketika sekian detik. Kalau anda mampir ke afghanistan via YT bisa dilihat tak ada toko besi jualan besi tulangan.

imau compo
P’DI hari ini banyak keliru. Alumni Tempo tapi pensiunnya sdh lama, kredo enak dan perlunya tidak utuh lagi. Coba! Apa perlunya kalimat “Malam itu Kang Fadhil tidur dengan istrinya.” Kalau Kang Fadhil tidur sama istri tetangganya, itu baru ada nilai beritanya. Itu pun tidak boleh berhenti sampai di situ, atau dipanas-panasi yg bikin masyarakat tereksitasi. Journalisme sangat strategis, dalam politik disebut kekuatan ketiga setelah legislatif dan eksekutif.

Handoko Luwanto
Eropa pernah alami masa kegelapan. Saat warganya lebih mabok agama daripada science. Hingga diamini bahwa bumi dikelilingi matahari. Sampai akhirnya iptek diterima menjadi salah 1 jalan iman mereka. Maka muncullah revolusi industri menuju abad modern. Di belahan dunia lain, China juga pernah alami masa kelaparan yang menyayat. Saat warganya lebih mabuk ideologi daripada science. Hingga saling membunuh demi mendapat pengakuan partainya. Sampai akhirnya ilmuwan dimasukkan menjadi salah 1 pilar ideologi mereka. Maka bangkitlah China menyongsong predikat negara super power dunia. Jadi….konklusinya adalah jangan mabok apapun, kecuali mabok iptek.

Jimmy Marta
Server Besirli dg mobil butut nya bergegas mengantarkan bantuan untuk korban bencana Turki. Warga Azerbaijan ini mengumpulkan berbagai barang dari paman, nenek dan para tetangga. Kasur2 ditumpuk diatas atap mobil. Box2 lain ditempatkan di belakang, hingga bagasi mobil sedan keluaran 1981 itu pun gk bisa dututup. Besirli sebenarnya dalam kondisi ekonomi yg buruk. Tp mendengar musibah yg menimpa Turki ia tergerak. “Kami harus membantu negara saudara kami”. “Kami melakukan apa yg perlu dilakukan”, ujarnya. “Dubes Turki untuk Azerbaijan begitu tersentuh. Cahit Bagci menelpon Beserli menyampaikan terima kasih atas nama bangsa dan negara. Beserli jd simbol solidaritas seluruh Azerbaijan. “Kakak ku yg berhati besar”, cuit Cahit Bagci.

Udin Salemo

#everyday_berpantun Enak tape dari beras pulut/ Makan sarapan selesai sudah/ Berkata dibelakang berbuih mulut/ Bila berhadapan terkelu lidah/ Jalan-jalan ke Kota Paris/ Banyak rumah berbaris-baris-/ Abang tak mau mati di ujung keris/ Untuk mendapatkan adik yang manis/ Burung pipit masuak ka biliak/ Di dalam biliak mamakan dadak/ Satiok ingek galah manih adiak/ Karupuak dikunyah raso martabak/

Budi Utomo
Quote Einstein itu sudah out of date. Katanya itu khan “authority based truth”. Zaman now ini dikenal sebagai zaman anti authority. Apalagi truth yang berbasis authority. Entah itu agamawan terkenal atau ilmuwan terkenal. Yang saya temukan di medsos berbahasa Inggris adalah quote sbb. Religion without science is BLIND. Science without religion is FINE. Nah lu. Gimana nih, Koh Liang? Fenomena di negara-negara “sekuler” kok gitu ya?

Liáng – βιολί ζήτα
Mengenai judul CHDI hari ini “Ilmu Gempa” – setidak-tidak terkait dengan 3 disiplin ilmu lainnya. Ilmu Gempa Bumi atau Seismologi adalah Cabang dari Ilmu Geofisika. Dengan kata lain, ketika kita belajar Ilmu Gempa Bumi mesti belajar juga Ilmu Geologi dan Ilmu Fisika, dengan Matematika sebagai Queen of Science nya ; semua jenis perhitungan dan pengukuran dengan berbagai rumusnya akan diselesaikan secara matematis. Entah mengapa seringkali ada sebagian anggota masyarakat mempertentangkan antara keyakinan agama dengan ilmu pengetahuan. Padahal agama dan ilmu pengetahuan mestinya saling melengkapi, seperti apa yang pernah dikatakan oleh Albert Einstein “Science without religion is lame. Religion without science is blind”. Di dalam kehidupan sehari-hari, faktanya kita tidak terlepas dari keterkaitan dengan aplikasi berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Komentator Spesialis
Rosulullah melarang kita bercanda dalam masalah agama. Jadi kalau rukun iman ada 6, ya sudah cukup 6. Nggak usah ditambah.

Leong Putu
Ada semut di dalam lubang / Ada cacing di dalam tanah / Iptek harus terus berkembang / Agar kita tidak sekedar pasrah / … 365_mantun pasrah

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *