Oleh karena itu, program vaksinasi Covid-19 yang terus digencarkan oleh pemerintah, sudah seharusnya disambut dengan antusias oleh kita. Apalagi saat ini vaksinasi untuk anak usia 6-11 tahun sudah dimulai. Dengan sudah terjangkaunya 70% lebih penduduk Indonesia (atau setara dengan 149 juta orang) dalam vaksinasi dosis pertama, menunjukkan bahwa vaksin ini aman bagi tubuh manusia. Kalaupun di sana-sini masih muncul berita bohong tentang vaksin, kita punya kemampuan dan peralatan (via internet) untuk menguji kebenaran berita itu.
Sehubungan dengan hal di atas, kami mendorong para anggota dan simpatisan GKI untuk menyukseskan program vaksinasi Covid-19 dengan keterlibatan optimal di dalamnya. Kami mengapresiasi Jemaat-jemaat dan/atau badan pelayanan dalam lingkup GKI yang telah turut ambil bagian melaksanakan vaksinasi ini.
Ketiga, kita perlu mewaspadai sikap megalomaniak Herodes Agung yang anti-kehidupan. Herodes Agung takut jika kekuasaannya tergerus dan tergusur oleh “Mesias yang baru dilahirkan” (lih. Mat. 2:1-12). Ketakutannya lantas membuahkan kebijakan untuk membunuh semua anak yang berumur dua tahun ke bawah di Betlehem (Mat. 2:16-18).
Sikap Herodes Agung yang anti-kehidupan, bisa saja hinggap dalam diri kita – entah dalam kadar kecil ataupun besar. Pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, sikap yang anti-kehidupan bisa mewujud dalam perilaku koruptif atas bantuan sosial bagi masyarakat atau juga berupa keengganan melakukan protokol kesehatan secara ketat, misalnya: tidak mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah atau bertemu orang lain, berkerumun dan tidak menjaga jarak, menghasut orang lain – entah dengan cara yang halus ataupun kasar agar tidak mau divaksinasi, dan lain sebagainya.
Gereja bagaimanapun adalah wujud Kerajaan Allah yang tampak di dunia ini. Ia hadir untuk meneruskan visi Allah, yakni menghadirkan damai sejahtera (keselamatan) bagi dunia. Oleh karena itu, dalam setiap program kerja dan kegiatannya, gereja seharusnya berpihak pada kehidupan sekaligus mengkritisi kegiatan atau praktik yang anti-kehidupan.
Keempat, kita perlu meneladani kesediaan orang-orang Majus untuk menjumpai Mesias dan membawa persembahan bagi keluarga kudus (Mat. 2:11). Saat ini, ketika kita menyambut Natal, situasi bangsa Indonesia sedang bergumul dengan serangkaian bencana alam yang terjadi – selain pandemi Covid-19, mulai dari letusan gunung Semeru, gempa bumi di NTT dan yang terbaru di Jember, Jawa Timur.
Oleh karena itu, belarasa terhadap mereka yang tengah menderita perlu diwujudkan dengan kesediaan kita berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Bukankah Yesus berkata dalam suatu perumpamaan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Itu berarti, apa yang kita lakukan bagi sesama yang tengah menderita di tengah bencana, itu kita lakukan juga bagi Yesus, Sang Mesias.
Selanjutnya, hindarilah peringatan Natal yang bersifat wah (glamor), mewah dan dilakukan di tempat yang megah. Bagaimanapun, Natal perdana terjadi dalam situasi yang bersahaja.
Kiranya dengan kembali mengingat dan menghayati berbagai kisah Alkitab di seputar Natal ini, kita bisa memaknai Natal secara kontekstual. Akhir kata, kami mengucapkan Selamat Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Biarlah setiap kita berupaya untuk menghadirkan secercah terang untuk menyinari kegelapan dunia (lih. Mat. 5:14; bnd. Yes. 9:1). (Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi