Menu

Mode Gelap

kempalanda · 23 Nov 2021 16:00 WIB ·

Apa Karena Memang Lidah Tak Bertulang?


					Apa Karena Memang Lidah Tak Bertulang? Perbesar

Hamid Abud Attamimi

Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Sayangnya ada banyak orang yang sekalipun sejak lahir ke dunia sudah memiliki lidah, bahkan hingga menginjak dewasa tak mampu menjaga dan mengendalikan lidahnya.

Mereka sering bicara tentang sesuatu bukan pada tempatnya, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya dia tidak tau banyak, yang miris, kadang dia terus bicara ketika seharusnya diam.

Tentang menjaga dan mengendalikan lidah ini sangat terkait erat dengan pengetahuan dan pemahamannya tentang fungsi, kegunaan, mudharat serta manfaatnya.

Inilah bagian terpenting, karena tidak saja menyangkut pribadi, tetapi juga terkait dengan kepentingan dan bahkan keselamatan banyak orang.

Maka memiliki atau menggunakan Akhlak jauh lebih penting dari sekedar Ilmu dalam hal penggunaan lidah, karena mereka yang memiliki kesantunan lebih mampu menjaga perasaan orang lain, dibanding seseorang yang merasa dirinya lebih tau dan lebih faham.

Kesabaran bukan milik mereka yang terus bicara, tetapi yang tekun menyimak dan tak terpikir untuk memotong pembicaraan.

Bahkan seorang bijak pernah berucap, bahwa salah satu tanda kecerdasan seseorang adalah ketika dia tak berbicara kecuali setelah dipikirkannya.

Kalaupun dia tau betul tentang apa yang ingin disampaikannya, dia tetap tak akan bicara kecuali dia yakin bahwa apa yang disampaikannya akan memberi manfaat bagi banyak orang.

Inilah kematangan jiwa seseorang atau kecerdasan emosional, lebih menyelamatkan daripada sekedar kecerdasan intelektual. Manusia jenis ini dimana pun keberadaannya tak akan menimbulkan gejolak dan riak sekecil apapun, malah dalam banyak kasus, keberadaannya sangat diharapkan, sejuk dan menyejukkan.

Begitulah seharusnya visi seorang Muslim, seperti lebah, hinggap dimanapun tak merusak dan tak mengganggu siapapun kecuali diusik.

Pemimpin, Ustadz atau Kyai sekalipun tetaplah manusia biasa, yang tak pernah terbebas dari kemungkinan melakukan kesalahan atau kekhilafan.

Apakah statement ini mau dibantah?

Jika tidak, artinya kita sepakat, dan tidak layak karenanya lalu kita seolah menempatkan seseorang yang diduga bersalah sebagai tak termaafkan dan seakan cuma dia yang bisa melakukan kesalahan.

Jika kesalahan tersebut dapat dikategorikan sebagai delik hukum, maka biarlah aparat berwenang yang bekerja dan membuktikan.

Apa yang paling menjijikkan dan kita kategorikan sebagai karakter busuk adalah perilaku yang memanfaatkan situasi serta kondisi.

Jika itu dilakukan oleh rakyat biasa saja, kita tidak mampu memahami, apalagi jika itu diperagakan oleh tokoh Agama yang notabene berbeda Agama dengan si terduga bersalah, serta disampaikan penuh nada sinisme dan tendensius.

Tokoh Agama punya tempat khusus di mata dan hati Ummat, maka tak patut melecehkan mereka, sebab sama seperti melecehkan Ummat.

Perbuatan Hukum perlu pembuktian, bahkan yang berwenang sekalipun berangkat pada Praduga Tak Bersalah, maka apa hak kita untuk menghakimi sebelum diadili, atau memang ada sebagian kalangan sangat ingin ada hukum diluar Pengadilan.

Ummat Islam sangat teruji komitmennya, bahkan berjuta Ummat yang turun ke jalan cuma menuntut si Penista Agama segera ditangkap dan diadili, apapun hukumannya biarlah Pengadilan yang memutuskan.

Politik dan Toleransi…

Artikel ini telah dibaca 117 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Tentang Suara

4 Desember 2021 - 12:24 WIB

Teladan Bagi Wanita Muslimah

30 November 2021 - 13:00 WIB

In Memoriam: Bens Leo, Wartawan Berpembawaan Tenang dengan Wajah Selalu Berhias Senyum

30 November 2021 - 11:18 WIB

Pada Sekerat Daging Ada Kezaliman yang Tak Termaafkan

29 November 2021 - 12:21 WIB

Keakraban yang Hilang

26 November 2021 - 09:26 WIB

Guru

25 November 2021 - 14:26 WIB

Trending di kempalanda