Hukum yang semestinya dijadikan Panglima sebagaimana layaknya Negara yang mendeklarasikan dirinya sebagai Negara Hukum (Rechtstaat), dan alat bagi terciptanya kepastian hukum dan penegakkan keadilan, malah digunakan untuk menekan, membungkam dan mengkriminalisasi siapapun yang berseberangan dan berbeda pendapat.
Pendidikan yang jelas menurut Undang-Undang untuk meningkatkan Ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa dan mencerdaskan Bangsa, malah pasti diarahkan untuk makin menjauhkan anak didik dari norma Agama, serta mengadopsi budaya sex bebas.
Sosial dan Kesehatan yang sangat berimpitan dengan hajat hidup masarakat luas, bahkan lebih khusus yaitu pada masarakat menengah kebawah, lalu disalah gunakan untuk memperkaya diri sendiri.
Mereka layaknya para zombie, tanpa ruh dan mati rasa, sangat mencederai rasa keadilan, karena Pandemi sama sekali tidak mengubah sifat tamak dan rakus, dengan darah dingin, mereka tetap merampok harta Negara dan menimbun harta dan kekayaan.
Pendidikan adalah amanat yang paling asasi untuk menjadikan Bangsa ini makin memiliki marwah dimata dunia dalam hubungan Internasional, jika kesehatan masarakat makin memburuk, maka kecerdasan atau intelektual bangsa makin rendah, ujungnya generasi mendatang tak akan mampu mengemban dan mengelola Negara, apalagi makin jauh dari Nilai Agama.
Ini problem serius Bangsa ini, maka seluruh Negeri harus faham, bahwa Kepemimpinan Nasional harus dipegang oleh orang yang bertakwa dan takut pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pemimpin yang pandai bicara, kuat, cerdas, mengerti Agama, santun, belumlah cukup dan bukanlah jaminan mampu menyelesaikan masalah, sebab dia harus juga mau meminta dan mendengar nasehat Ulama, serta tidak menganggap jabatan adalah jarak antara dia dan rakyat.
Dan satu hal lagi, bukan pemelihara dendam, bukan pembohong dan bergaul serta dikelilingi orang shaleh.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama seseorang tergantung dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian memerhatikan, siapa yang dia jadikan teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927) (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi