Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 27 Okt 2021 18:06 WIB ·

Tak Tumbang Disurvei: Kasus Pilgub DKI 2017 Mengajarkan


					Ilustrasi survei. (A. Faricha Mantika) Perbesar

Ilustrasi survei. (A. Faricha Mantika)

KEMPALAN: Jika mencermati Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017, sengaja dipilih Pilgub DKI di mana Anies Baswedan ikut berkompetisi, maka bolehlah jika ada yang menyebut bahwa lembaga survei politik kala itu seolah dibuat sesuai dengan pesanan si pemesan. Si pemesan itu bisa kandidat bersangkutan, atau pesanan dari partai politik pengusung kandidat.

Hasil survei dibuat dengan metode selayaknya, namun hasil survei yang sebenarnya hanya diberikan pada pemesan. Sedang yang di- publish biasanya hasil yang tidak sebenarnya. Hasil sebenarnya yang diinginkan, dipakai pemesan untuk mengejar ketertinggalan, sedang hasil yang tidak sebenarnya tentu untuk menjatuhkan kandidat lain di mana hasil survei dibuat angka persentase dengan tidak sebenarnya.

Maka, pemesan mendapat sekaligus dua keuntungan yang diharap. Pertama, ia tahu persis kekuatan kandidat/pesaingnya. Kedua, berharap bisa mempengaruhi publik dengan mem-framing hasil survei. Tujuan utama dari semuanya adalah untuk mempengaruhi calon pemilih bahwa kandidat yang “digarap” memang diinginkan publik.

Maka bukan rahasia umum, jika lembaga survei itu melakukan framing pada hasil surveinya. Mengecil dan besarkan hasil survei sesuai keinginan. Itulah lembaga survei, yang bekerja tanpa nurani demi siapa yang membayarnya. Tidak semua lembaga survei merilis hasil surveinya dengan hasil tidak sebenarnya. Tentu ada juga lembaga survei idealis, tetap provesional meski berorientasi bisnis.

Melihat fenomena yang ada, tidak perlulah sampai mesti terkaget-kaget, jika pada saat yang sama ada lembaga survei yang merilis hasil surveinya berbeda ekstrem dengan hasil rilis lembaga survei lainnya. Itu bisa dimungkinkan oleh sebab lembaga survei yang satu dan lainnya bekerja untuk kandidat yang berbeda. Maka hasil surveinya pun berbeda, sesuai pihak yang memesannya.

Jika kandidat bersangkutan, dan atau partai politik pengusungnya, itu kuat dalam pendanaan. Artinya, mampu “bekerja sama” pada banyak lembaga survei ternama, maka kandidat itu pastilah elektabilitasnya tinggi, ia dimanjakan dengan hasil rilis berbagai lembaga survei . Sembari hasil rilis berbagai lembaga survei, itu “mengecilkan” persentase kandidat lainnya, yang sebenarnya punya elektabilitas keterpilihan tinggi.

Hasil Survei Pilgub DKI…

Artikel ini telah dibaca 218 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Maksud Baik Risma

4 Desember 2021 - 13:19 WIB

Dudung Cocoke Ulama Opo Jenderal Medsos

4 Desember 2021 - 05:28 WIB

Mari Pangur Untu dan Kursus Dadi Matador

3 Desember 2021 - 06:16 WIB

Penyidik yang Tak Pupus

1 Desember 2021 - 13:48 WIB

Kepepet, Erick Thohir Mbanser + Nyokot Jokowi

1 Desember 2021 - 06:19 WIB

Banser Itu Elit

29 November 2021 - 15:06 WIB

Trending di kempalanalisis