Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 3 Nov 2021 09:21 WIB ·

Orang Tua yang “Terbuang” dalam Perspektif Lain


					Ilustrasi. (A. Faricha Mantika) Perbesar

Ilustrasi. (A. Faricha Mantika)

KEMPALAN: Kisah ibu yang “dibuang” anak-anaknya terus jadi berita. Sudah lebih dari sepekan berita itu viral. Dimulai dari secarik kertas dari 3 anaknya bermeterai, yang menyerahkan sang ibu pada sebuah panti jompo viral lebih dulu.

Kemudian fisik sang ibu muncul dari pemberitaan media, khususnya televisi. Ditambah sang ibu yang digiring pernyataan awak media, menyatakan bahwa ia “dibuang” anak-anaknya yang tak sanggup merawatnya. Ibu itu memang mengalami kelumpuhan fisik, meski tampak tubuhnya sehat.

Kisah ibu yang “dibuang”, itu memang mampu mengaduk emosi banyak pihak menumpahkan sumpah serapah pada sang anak yang dikatakan dengan anak tak tahu balas budi. Ada pula yang menyebutnya, bagai kisah Malin Kundang jilid 2.

Para komentator yang biasa disebut netizen, itu menjadi manusia seolah paling tahu tentang sebuah peristiwa, dan tentu seolah tahu kondisi yang dihadapi ibu dan terutama anak-anaknya. Sehingga penghakiman mesti diberikan pada anak-anaknya, dengan sebutan zalim.

Putusan kata “zalim” sudah diberikan, seolah kata itu pantas diberikan pada anak-anaknya, tanpa mau mendengar mengapa sang anak harus menyerahkan sang ibu ke panti jompo.

Tiga anak, dari ibu itu, tidak tinggal di satu kota. Domisili mereka di Jakarta, Bogor dan Pekalongan. Di tiga kota itu anak-anaknya tinggal. Satu dari anaknya sempat di hubungi, dan juru warta ikut mendengar dialog lewat speaker. Sang ibu mengatakan, mengapa ia “dibuang”? Dan sang anak menjawab, sama sekali bukan membuang. Ibu tidak dibuang. Ibu tinggal di sana cuma sementara, dan pada saatnya ibu nanti saya jemput. Dialog dalam bahasa Jawa, itu cukup mengenaskan bagi siapa saja yang mendengar dengan hati.

Anak-anaknya memang tampak dalam kondisi kesulitan ekonomi yang sangat, bahkan salah satunya korban PHK. Kesumpekan ekonomi dan hal-hal psikologis lainnya, di mana mereka lalu bersepakat menitipkan sang ibu ke panti jompo yang dirasanya tepat. Tentu agar bisa diurus dengan baik.

Semua dari kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, seberapa dahsyat kesulitan sang anak sehingga tidak mampu merawat sang ibu Kita acap mengukur semuanya dari kondisi diri sendiri, yang lalu dipersepsikan dengan kondisi orang lain. Semua yang ada di diri ini seolah representasi dari nilai kebaikan. Maka, sang anak dalam persepsi yang dimunculkan para netizen yang maha tahu, itu dengan “membuang” sang ibu.

Barat dan Timur Tidak…

Artikel ini telah dibaca 254 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

AFF 2020, dan Kelompok Pelangi yang Mewarnai

8 Desember 2021 - 15:13 WIB

Semeru Mbledos Risma Ngowos

8 Desember 2021 - 05:59 WIB

Jenderal Dudung, dan Tausiah Tak Bersandar

6 Desember 2021 - 11:20 WIB

Aksi 212 Dicegat, Rakyat Nekat | Sak Iki Haul Km 50..!

6 Desember 2021 - 06:31 WIB

Pikiran Positif Anies, dan Kekhawatiran Dahlan Iskan Tuai Kebenaran

5 Desember 2021 - 11:24 WIB

Maksud Baik Risma

4 Desember 2021 - 13:19 WIB

Trending di kempalanalisis