Menu

Mode Gelap

kempalanda · 19 Okt 2021 15:37 WIB ·

Mengenang Muhammad Rasulullah


					Lafadz Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw di dalam Hagia Sofia. (Abdullah Oguk-Unsplash) Perbesar

Lafadz Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw di dalam Hagia Sofia. (Abdullah Oguk-Unsplash)

Daniel Mohammad Rosyid

KEMPALAN: Hari ini kelahiran Muhammad bin Abdullah yang kemudian menjadi Rasulullah saw itu kita peringati. Baru setelah membangun reputasi sebagai al Amin di Mekah, menikahi Chodijah seorang janda pedagang besar yang lebih tua dari dirinya pada umur 25 tahun, Muhammad kemudian baru diangkat menjadi Rasulullah saat umurnya 40 tahun. Jika sejarah memberi pelajaran, maka realitas geopolitik saat ini perlu kita cermati untuk memahami makna kelahirannya serta apa yang menjadi tugas sejarah bagi muslim Indonesia.

Belum lama ini praktis dunia dikuasai oleh tentara Gajah yang wujud dalam Partai Republik AS sebagai -demikian kata Noam Chomsky- organisasi paling berbahaya di planet ini. Pesaing utamanya bukan partai Demokrat, tapi Partai Komunis China. Seperti di Indonesia, organisasi yang paling berbahaya di dunia bukan ormas atau korporasi, tapi partai politik. Adalah Partai Republik AS di bawah Donald Trump yang sedang mengantar dunia menuju perang nuklir dan keruntuhan lingkungan hidup. Sementara itu Partai Komunis China telah meluncurkan OBOR sebagai jalan untuk membangun hegemoni baru yang menantang AS.

Islam sebagai rancangan institusi dan hukum yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah adalah rancangan semesta. Muhammad bukan seorang Arab asli. Dia adalah seorang keturunan imigran, disebut musta’ribah, yang diarabkan melalui pernikahan keturunan Ismail dengan perempuan Arab asli dari suku Jurhum. Oleh karena itu tuduhan bahwa Islam identik dengan Arab tidak sepenuhnya benar.

Muhammad bersumpah bahwa medan da’wahnya tidak bisa dibatasi oleh jazirah Arabia (Al Balad : 1). Wawasan muslim tidak bisa dibatasi oleh sebuah wilayah tertentu seperti negara-bangsa sebagai konsep yang relatif baru yang unik Eropa, apalagi yang diwariskan oleh para penjajah. Setiap jengkal tanah di bumi adalah tempat sujud bagi setiap muslim. Jika seorang muslim hidup tertindas di sebuah negeri, dia dianjurkan untuk hijrah. Walaupun cinta pada bangsanya adalah bagian dari iman, namun hal ini tidak membuatnya menjadi pemuja negara bangsa seperti kaum nazi memuja Jerman uber alles. Pada saat batas-batas negara dikaburkan oleh teknologi, bagi muslim, negara bangsa adalah instrumen taktis untuk mewujudkan maqashid syariah.

Nusantara adalah bentang alam kepulauan tropis yang dianugerahi kekayaan luar biasa. Tidak mengherankan jika kekayaannya telah menjadi daya tarik besar bagi banyak penjelajah untuk mengunjungi, berdagang kemudian menjajahnya paling tidak selama 700 tahun terakhir sejak Kubilai Khan menyerbu Singasari. Tidak cuma pasukan Gajah, tapi juga pasukan Naga yang berusaha menguasai Nusantara.

Selama 70 tahun…

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Tentang Suara

4 Desember 2021 - 12:24 WIB

Teladan Bagi Wanita Muslimah

30 November 2021 - 13:00 WIB

In Memoriam: Bens Leo, Wartawan Berpembawaan Tenang dengan Wajah Selalu Berhias Senyum

30 November 2021 - 11:18 WIB

Pada Sekerat Daging Ada Kezaliman yang Tak Termaafkan

29 November 2021 - 12:21 WIB

Keakraban yang Hilang

26 November 2021 - 09:26 WIB

Guru

25 November 2021 - 14:26 WIB

Trending di kempalanda